SUMENEP, limadetik.com — Tuberkulosis (TB) yang juga dikenal dengan singkatan TBC merupakan penyakit menular yang menyebabkan masalah kesehatan terbesar kedua di dunia setelah HIV. Penyakit ini disebabkan oleh hasil dari bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Tuberkulosis sendiri dapat menyerang bagian tubuh manapun, tetapi yang tersering dan paling umum adalah infeksi tuberkulosis pada paru-paru. Penyebaran penyakit ini dapat terjadi melalui orang yang telah mengidap TBC. Kemudian, batuk atau bersin menyemburkan air liur yang telah terkontaminasi dan terhirup oleh orang sehat yang kekebalan tubuhnya lemah terhadap penyakit tuberkulosis.

Walaupun biasanya menyerang paru-paru, penyakit ini dapat memberi dampak juga pada tubuh lainnya, seperti sistem saraf pusat, jantung, kelenjar getah bening, dan lainnya.

Hal inilah membuat komunitas peduli sosial di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur yang tergabung di Sub-Sub Residen (SSR) Sumenep tergugah dan terpanggil untuk memberikan penyadaran dan pengertian agar masyarakat tidak terlalu takut terhadap penyakit TBC, sebab menurut mereka (SSR) Sumenep penyakit itu tetap bisa disembuhkan.

“Kita tidak perlu terlalu takut terhadap penderita penyakit TBC ini, sebab penyakit ini masih bisa tetap disembuhkan” kata Eka salah satu Kader SSR saat memberikan sosialisasi melalui poster yang dipegangnya, Jumat (13/12/2019).

Saat disinggung langkah dan cara seperti apa saja yang akan dilakukan mereka untuk menyembuhkan pasien atau penderita penyakit yang dianggap menular ini, ia memastikan pendampingan pemberian obat secara berkala dan teratur bagi penderita TBC itu salah satu cara yang pas.

“Penyakit ini (TBC, red) kan bukan penyakit kutukan, ataupun penyakit turunan yang seperti isu tidak bisa disembuhkan. Penyakit ini tetap bisa disembuhkan dengan cara memberikan pendampingan dan pemberian obat secara teratur dan berkala bagi pengidap TBC, insya Allah pasti sembuh kok” terang Ibu ini dengan senyum penuh semangat.

Selain itu penderita penyakit TBC sebut Eka tidak atau jangan sampai dikucilkan, sebab secara sosial, mereka juga butuh komunikasi dengan layak, baik di lingkungannya sendiri maupun di luar sana.

“Kita sebagai masyarakat yang bersosial jangan sampai mengucilkan mereka (penderita penyakit TBC) justru semakin kita menjauhi mereka maka akan semakin sulit dia mendapatkan perawatan untuk sembuh” tegas Eka.

Ditambahkan, SSR Sumenep ini sudah bekerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat untuk terus memberikan penyuluhan dan pemahaman kepada masyarakat agar tidak perlu lagi terlalu takut dengan penderita penyakit TBC. Disamping itu pihaknya juga melakukan sosialisasi melalui kontak dan ketuk pintu untuk memberikan pengobatan serta pendampingan.

Seperti diketahui, saat SSR Sumenep melakukan sosialisasi di depan kantor MMP dengan cara memasang tulisan pada sebuah kertas karton yang berisi sentilan “Aku penderita TBC, Maukah kamu memelukku atau berjabat tangan dengan ku”.

Dengan tulisan berbahasa sentilan itu, tidak sedikit orang yang lewat di depannya merasa cuek dan risih, namun tidak sedikit pula yang melempar senyum. (yd/yd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here