SUMENEP, limadetik.com — Musim kemarau saat ini memang cukup panjang. Udara terasa garing. Debu-debu berterbangan ketika angin bertiup. Memerihkan mata dan sangat menyesakkan rongga dada. Penyakit saluran pernapasan pun tak bisa dihindari.

Pada bulan Maret 2019 kemarin tercatat adalah puncak akhir turunnya hujan di Desa Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Kondisi tanah tegalan yang berbatu kapur putih, juga banyaknya lembah berbatu cadas kian menambah parahnya kekeringan yang terjadi hampir di sebagian besar tanah di Desa Pasongsongan.

Ivan Budiono S.Pd, salah satu guru SD di Pasongsongan mengatakan, harusnya gerakan reboisasi semestinya lebih digalakkan lagi. Padahal semua orang tahu, kalau reboisasi sangat berguna bagi kesuburan tanah. Reboisasi juga berguna untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia itu sendiri lebih baik.

“Banyak orang tahu kalau berolahraga itu menyehatkan badan, tapi mereka malas berolahraga. Banyak orang tahu kalau penghijauan itu banyak manfaatnya, tapi mereka enggan untuk melaksanakannya,” ujar Ivan menilai fenomena lingkungan di desanya.

Sebenarnya menurut Ivan, reboisasi (penghijauan) berfungsi untuk menyerap polusi dan debu dari udara, membangun kembali habitat dan ekosistem alam, juga berfungsi untuk menangkal pemanasan global dengan menangkap karbon dioksida dari udara.

“Gerakan reboisasi itu besar faedahnya. Gerakan ini semestinya dijadikan gerakan bersama untuk mewujudkan Desa Pasongsongan lebih asri dan udaranya sejuk,” komentar Ivan Budiono, S.Pd. di sela-sela aktifitasnya mengajar di SDN Padangdangan II Kecamatan Pasongsongan, Jumat (20/9/2019).

Dia juga menambahkan, selama ini masyarakat Desa Pasongsongan lebih banyak fokus pada hasil sesaat, tak pernah terpikirkan oleh mereka kalau gerakan penghijauan itu sangat berguna untuk kesehatan kita. Bukankah kesehatan itu mahal harganya. Tidak ada orang yang mau dirinya sakit.

Potensi hasil ikan laut yang sangat baik, ternyata tidak diimbangi oleh hasil pertanian masyarakat maka timbulah ketimpangan yang sangat mencolok yang terjadi di Desa Pasongsongan saat sekarang. Ini realita yang terjadi selama ini. Semestinya kedua potensi ini bisa bersinergi agar kemakmuran bisa terwujud.

Lelaki menantu kandidat kuat Kepala Desa Pasongsongan Moh. Amir ini lebih jauh memaparkan, “Siapa pun nanti yang terpilih menjadi orang nomer satu di Desa Pasongsongan, saya sangat berharap kondisi lingkungan harus menjadi prioritas, utamanya gerakan reboisasi.” paparnya dengan berharap.

Ia juga cukup prihatin terjadinya pembakaran ladang rumput di Dusun Sempong Barat, Dusun Sempong Timur dan Dusun Tolabang. Setiap tahun kejadian serupa selalu terulang. Tidak ada semacam kepedulian. Padahal situasi yang demikian akan semakin menambah buruknya kondisi lingkungan. Tak jarang pepohonan yang besar pun mati karena api membakar seluruh bagian bawah batang pohon. Sangat tragis memang. Pohon besar yang semestinya jadi penopang kesejukan udara, musnah dilalap si jago merah.

Ketika limadetik.com menanyakan tentang kantong air yang ada di Desa Pasongsongan. “Sesungguhnya titik sumber air tanah di beberapa dusun di Desa Pasongsongan banyak, apalagi sekarang pengeboran mudah dilakukan. Kalaupun tidak mau melakukan pengeboran, masih ada potensi air yang memadai, seperti air sungai yang tak pernah kering walau musim kemarau, yaitu sungai yang menjadi pembatas kedua desa, antara Desa Pasongsongan dan Desa Panaongan,” ujar Ivan panggilan akrabnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, untuk potensi air bersih dan cukup layak dikonsumsi di Desa Pasongsongan juga ada, yakni Sumber Agung yang terletak di Dusun Pakotan.

Harapan Ivan Budiono ini sebenarnya merupakan harapan semua masyarakat Desa Pasongsongan. Bahwa gerakan penghijauan memang sudah saatnya untuk dilaksanakan. Tidak ada kata terlambat. Semoga pemangku kebijakan di daerah yang terkenal sebagai penghasil ikan melimpah ini bisa mewujudkan gerakan reboisasi. (Yant Kaiy/yd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here