SUMENEP, limadetik.com — Pelabuhan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur sudah dikenal sebelum Raja Aria Wiraraja memerintah Kerajaan Sumenep. Aria Wiraraja dilantik sebagai Adipati pertama Sumenep pada tanggal 31 Oktober 1269, dan hal ini menjadi hari jadi Kabupaten Sumenep. Sedangkan saudagar dari Jazirah Arab dan China sudah masuk ke pelabuhan Pasongsongan sebelum Aria Wiraraja memerintah di Sumenep.

Bukti yang valid kalau bangsa asing sudah masuk ke Madura lewat pelabuhan Pasongsongan, yaitu adanya komunitas Bangsa Arab di Desa Panaongan dan Bangsa China di Desa Pasongsongan. Khusus Bangsa Arab yakni dengan ditemukannya kuburan mereka di Asta Buju’ Panaongan. Pada kuburan Syekh Al-Arif Abu Said misalnya bertuliskan wafat tahun 1292, dan Syekh Abu Suhri wafat 1281.

Pelabuhan Pasongsongan saat ini

“Ini bukti real yang memperkuat kalau komunitas Arab telah ada sebelum Raja Aria Wiraraja memangku jabatannya,” papar Akhmad Jasimul Ahyak, seorang kepala Madrasah Aliyah Itmamunnajah Pasongsongan, Sabtu (7/9/2019).

“Bangsa Arab selain berdagang di Pasongsongan, mereka sebenarnya lebih condong menyebarkan ajaran Islam. Mereka menyebarkan agamanya secara sembunyi-sembunyi dengan membangun pondok pesantren kecil di Desa Panaongan. Mengapa mereka sembunyi-sembunyi dalam menjalankan ibadahnya, karena mayoritas orang Pasongsongan dulu agamanya bukan Islam” tambah lelaki berkacamata itu.

Sedangkan untuk orang-orang China yang ke Pasongsongan lebih menekankan pada perniagaan saja. Untuk komunitas orang China di Pasongsongan ada di sepanjang jalan raya K. Abubakar Sidik sampai sekarang. “Para peranakan China di era sebelum 90-an sangat merajai jalannya perniagaan di Pasongsongan. Perekonomian peranakan China ini lebih maju daripada orang pribumi di Pasongsongan,” terang Akhmad Jasimul Ahyak lebih jauh kepada limadetik.com.

Faktor kenapa pelabuhan Pasongsongan jaman dahulu sudah maju dan ramai serta menarik minat bangsa asing untuk menetap, itu disebabkan oleh beberapa hal: Yang pertama, karena orang Pasongsongan sudah bisa membuat perahu jenis tengkong (perahu yang kanan-kirinya ada bambu sebagai penyeimbang agar tidak mudah tenggelam). Perahu jenis tengkong ini disamping sebagai sarana menangkap ikan nelayan, juga sering digunakan sebagai sarana transportasi oleh beberapa Raja Sumenep kalau hendak bepergian ke Aceh, Sulawesi, dan beberapa pulau lainnya.

Yang kedua, masyarakat Pasongsongan sangat terbuka terhadap kaum pendatang (asing), kendati berbeda keyakinan dan warna kulit sekalipun.
Yang ketiga, para nelayan Pasongsongan adalah nelayan yang tangguh dan pemberani dalam mengarungi lautan luas.

Hasil tangkapan ikan para nelayan yang melimpah, otomatis transaksi di pelabuhan menjadi ramai tak terelakkan. Sekarang pelabuhan Pasongsongan terus “bersolek” dan tetap menjadi pelabuhan terbesar di Madura. (Yant Kaiy/yd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here