SUMENEP, limadetik.com — Nelayan Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur sudah lama terkenal tangguh dan pemberani di dalam mengarungi samudera luas. Mereka mempunyai nyali besar dalam mempertaruhkan nyawanya hanya untuk bisa menghidupi keluarga tercinta. Hanya demi sesuap nasi mereka rela beratapkan langit dan berbumikan air laut; jauh terpisah dengan anak-istrinya.

Sebuah pertaruhan hidup-mati dalam mengemban misi mencari nafkah dalam menyambung hidup. Begitu keras aktifitas mereka tergambar. Ada sebuah adagium sangat ironis terdengar: ‘Nelayan Pasongsongan lebih takut lapar daripada mati’. Maksudnya, nelayan-nelayan Pasongsongan agak terkesan menantang maut dalam menjalankan profesinya.

Hanya berbekal satu keyakinan, mereka membelah laut menantang badai. Tujuannya satu, mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya. Memang agak terkesan konyol, tapi itulah fakta yang terjadi di lapangan.

Pemikiran pragmatis yang sering dilontarkan oleh sebagian nelayan yang berwawasan ‘dangkal’ tidak bisa ditelikung dengan cara pandang jauh ke depan. Mereka seolah tidak peduli dengan harapan; bahwa esok matahari masih akan tetap bersinar; bahwa mencari rejeki itu tidak hanya menjadi seorang nelayan.

Sesungguhnya banyak kisah pilu dalam catatan masa lalu para nelayan Pasongsongan yang tergores dalam ingatan. Mulai yang tenggelam perahunya tersapu angin barat dan jasad sang nelayan tersebut tidak diketahui rimbanya, ada pula nelayan yang perahunya ditabrak lari oleh kapal pedagang sehingga nyawa dan perahunya tidak bisa diselamatkan. Itulah beberapa tragedi maut yang pernah menghiasi hingar-bingar perjalanan nelayan Pasongsongan dari masa ke masa.

Mengantisiapsi tragedi serupa terulang lagi, maka para nelayan Pasongsongan mulai tahun-tahun belakangan ini banyak yang memanfaatkan sarana teknologi komunikasi, seperti handphone dan HT sebagai sarana komunikasi bila terjadi kecelakaan di laut. Sedangkan pelampung, baju renang dan ban dalam mobil bekas senantiasa ada di setiap perahu nelayan Pasongsongan. Semua barang-barang itu bertujuan sebagai proteksi diri dalam menjalankan aktifitas tangkap ikan.

“Tetapi nelayan sekarang sudah berbeda jauh dengan nelayan tempo dulu. Generasi nelayan sekarang adalah para kaum muda. Mereka sudah paham akan arti sebuah keselamatan kerja. Mereka lebih mementingkan nyawa daripada kepentingan lainnya,” terang Sutiksan, M.Pd. seorang pengamat nelayan yang tinggal di Desa Pasongsongan.

Tumbuhnya kesadaran itu dilatarbelakangi faktor pendidikan yang sudah lebih baik. Memang akhir-akhir ini sosialisasi pemakaian baju renang terus digalakkan oleh beberapa pihak, termasuk dirinya yang senantiasa mengingatkan, kalau keselamatan itu nomer satu.

“Terutama kepada para juragan yang punya perahu untuk menyediakan baju renang di perahunya,” tambah Sutiksan di sebuah kesempatan berjumpa dengan limadetik.com di SDN Padangdangan II Kecamatan Pasongsongan-Sumenep, Kamis (19/9/2019).

Metode Tangkap Ikan

Hasil tangkap ikan nelayan Pasongsongan memang tercatat paling besar untuk wilayah Madura, dari jaman dulu sampai sekarang. Transaksi awal jual-beli di pelabuhan, selanjutnya ikan-ikan itu dikirim ke beberapa kota di Jawa Timur.

“Ikan-ikan itu akan tetap segar sampai tiba di tempat tujuan, karena setelah turun dari perahu ikan tersebut langsung diberi es,” terang Sutiksan yang nenek-moyangnya adalah seorang pelaut.

Ada beberapa metode tangkap ikan bagi nelayan Pasongsongan yang secara turun-temurun dilaksanakan sampai sekarang. Menurut Sutiksan ada beberapa klasifikasi penangkapan ikan nelayan Pasongsongan, diantaranya:

1. Majeng: Proses penangkapan ikan di tengah laut dengan alat tangkap modern menggunakan jaring. Perahu tradisional tersebut membawa awak 17 orang lebih berangkat sekitar jam 9 pagi menuju rumah ikan buatan dari janur yang sudah ditanam beberapa hari di tengah laut. Selanjutnya habis sholat subuh perahu itu mengelilingi rumah ikan (nengker) sambil melepaskan jaringnya ke tengah laut.

2. Ngoncor: Proses penangkapan ikan yang hampir sama dengan majeng. Perbedaannya terletak pada media pengundang ikan. Ngoncor memakai lampu sebagai pemikat ikan untuk mendekat ke sinar terang lampu. Setelah itu perahu mengelilingi lampu tersebut sambil melepaskan jaringnya. Ngoncor tidak bergantung waktu. Maksudnya tidak menunggu, kapan saja aktifitas tangkap ikan itu dapat dikerjakan. Kalau ikan sudah banyak yang mendekat ke lampu, barulah penangkapan dilakukan.

3. Arombhang: Proses penangkapan ikan yang menggunakan pancing lemileh (suatu alat tangkap ikan yang pancingnya lebih dari sepuluh biji). Cara kerjanya yaitu alat pancing itu diceburkan ke laut dan perahu itu terus berjalan. Kegiatan Arombhang ini membutuhkan waktu cukup lama, bisa lebih satu minggu nelayan berada di tengah laut.

4. Apolang: Proses penangkapan ikan hampir sama dengan arombhang. Perbedaannya terletak pada waktunya saja. Kalau apolang hanya menginap satu malam di tengah laut.

5. Ajurung: Proses penangkapan ikan teri atau udang kecil dengan memakai jaring halus sebagai alat tangkapnya.

6. Ajaring: Proses penangkapan ikan yang menggunakan jaring sebagai media tangkapnya. Biasanya jaring dilepaskan ke tengah laut secara memanjang. Sedangkan sang nelayan sambil memancing menunggu di atas perahunya. Aktivitas ajaring biasanya dilakukan pada malam hari, dan kalau sudah dapat ikan banyak langsung pulang. (Yant Kaiy/yd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here