Pamekasan, 14 Agustus 2019.

Oleh : Subliyanto.

ARTIKEL — Sudah mafhum di pengetahuan kita dan kerap diajarkan di kalangan pelajar bahwa empat sifat Rasul berupa Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fatonah menjadi sifat yang mengikat dalam hidupnya. Bagi kita, tentu keempat sifat ini tidak hanya menjadi pengetahuan akademik semata. Akan tetapi juga harus menjadi napaktilasi kehidupan dalam aktualisasi diri.

Dalam definisi singkatnya, secara etimologi siddiq adalah bermakna jujur. Amanah bermakna titipan. Tabligh bermakna menyampaikan. Dan Fatonah bermakna cerdas. Keempat sifat ini bak dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Artinya keempatnya saling berkaitan dan nyaris tidak bisa dipisahkan. Karena dari keempatnya dapat menjadi barometer value kehidupan seseorang.

Dalam grafik matematika keempat sifat ini memang berurutan secara nomerik, yaitu pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Namun secara implementatif nilai filosofis hakikat dari keempat sifat ini berbanding terbalik, yaitu sifat yang keempat menjadi tujuan dan ketiga sifat lainnya menjadi basic prosesnya. Dan distulah finalnya berupa gelar kehormatan.

Jujur menjadi basic dari amanah, artinya kejujuran seseorang menjadi materi tes pertama atau uji kelayakan sesorang untuk diberikan sebuah amanah. Jika seseorang lulus materi tes ini maka ia layak diberi sebuah amanah.

Ketika seseorang sudah mendapatkan amanah dengan basic penilaian kejujuran, maka ia akan menghadapi materi tes berikutnya berupa konsep tabligh, yaitu menyampaikan amanah. Karena sesuai dengan makna etimologisnya bahwa amanah adalah titipan, maka tentu punya objek yang harus kita tunaikan kemana dan kepada siapa amanah itu harus disampaikan.

Selanjutnya, jika tiga tahapan materi tes kelayakan (siddiq, amah, tabligh) sudah berhasil dilalui oleh seseorang, dan ia berhasil menjalaninya dengan nilai sangat baik, maka layak baginya untuk mendapat gelar kehormatan sifat yang keempat, yaitu fatonah yang bermakna cerdas.

Fatonah merupakan satu-satunya gelar kehormatan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang telah lulus menjalani semua tahapan tes yang diberikannya.

Maka, keempat sifat Rasul ini sudah selayaknya menjadi pegangan konsep hidup dan kehidupan manusia. Tidak hanya sebagai konsep akademik semata, akan tetapi sudah seharusnya masuk pada nilai filosofis kontekstual kehidupan.

Semoga catatan singkat ini menjadi renungan bagi kita dalam menjalani roda hidup dan kehidupan. Merasa berat sudah tentu, karena dalam konsep matematika ekonomi saja, semakin berat bobot sesuatu walaupun bobot dalam satuannya ringan dan harganya murah maka akan semakin banyak pula mendapatkan nilai rupiah. Apalagi sesuatu yang bobot dalam satuannya berat dan harganya sangat mahal, baik di hadapan manusia terlebih di hadapan Allah. Wallahu a’lam []

Penulis adalah pemerhati sosial dan pendidikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here