Oleh :Abd. Hamid Ramadhany*
Sumenep, 16 September 2019
Limadetik.com — Oleh :Abd. Hamid Ramadhany*

OPINI — Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah. Begitulah senandung ungkapan yang teramat mafhum dipendengaran kita selaku pemuda. Soekarno dan Bung Hatta sudah berulang kali menegaskan perkara ini.

Maka tak ayal bila ungkapan yang diperuntukkan bagi Negeri ini patut disuarakan oleh pemuda bangsa. Ia dianggap sebagai aset paling berharga dan memegang peranan penting bagi masa depan bangsa.

Indonesia adalah Negara yang menganut hukum politik Demokrasi Pancasila, “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.” Begitulah adagium gamblang yang biasa digunakan untuk menginterpretasikan makna dari kata Demokrasi.

Demokrasi adalah kata yang diambil dari kata serapan bahasa Yunani yaitu, Demos yang berarti rakyat, sedangkan Ratos yang berarti pemerintah. Dalam artian ini, peranan paling penting yang memiliki andil dalam hal kekuasaan maupun wewenang sepenuhnya berada di tangan rakyat.

Namun alangkah ironisnya peradaban bangsa kita ini tak kunjung berakhir dari penderitaan, penjajahan, dan kemiskina. Sehingga yang terjajah semakin terjajah, yang tertindas semakin tertindas, si miskin semakin miskin dan si kaya semakin kaya. Itulah sederet gambaran sistem perpolitikan yang justru semakin memburuk dan menempatkan nama Indonesia di ujung tanduk keamburadulan.

Masa kolonialisme memang sudah sepenuhnya berhenti, Tanggal 17 Agustus 1945 sebagai bukti bahwa kita telah merdeka, akan tetapi di manakah peran dan bukti dari kemerdekaan itu sendiri. Ia hanya mampu berkelindan dalam perjalanan yang sudah terejawantahkan dalam peranan kebebasan dewasa ini. Namun pada kenyataannya kita tak kunjung merdeka, sebab kita masih diperbudakan oleh sistem perpolitikan yang stagnan. Pasif dan diam di tempat tanpa berusaha untuk maju atau pun melawan dalam memproklamasikan bangsa yang benar-benar merdeka.

Marilah sejenak menyempatkan diri untuk mengaca pada Negara Vietnam. Ia adalah Negara yang dulunya miskin, kemajuan literasinya sangat memprihatinkan. Namun selama masih di kandung badan dan perbedaan menuju kemajuan masih tetap di suarakan, maka teramat muhal rasanya bila kesesuaian harapan tetap tak terealisasikan setelah semuanya sudah diusahakan.

Di sinilah keadilan Tuhan dapat kita saksikan, bahwa hidup ini harus terus berubah dan jangan pernah berhenti melangkah untuk mencapai sebuah perubahan yang nyata. Dan faktanya Vietnam sudah mampu membuktikan, ia sudah menjadi Negara yang cepat dalam mencapai perkembangan. Dari asal yang miskin mayoritas sudah menjadi kaya, dari yang bodoh menjadi lebih berpengetahuan, dari yang buta huruf menjadi kutu buku. Inilah bukti dari sebuah kata ‘ketekunan’, ya,  ketekunan menuju perubahan.

Politik dan Negeri

Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) adalah serangkaian bumerang paling menyakitkan yang terasa belum mampu dihanguskan dari Negeri maritim ini. Tentu refleksi nyata sangat dibutuhkan demi mengusung keberlangsungan peradaban bangsa ini ke arah masa depan  yang mapan. Namun lagi-lagi hal ini rupanya selalu mampu dipatahkan oleh sistem politik Negeri ini yang amburadul, ugal-ugalan, dan tidak kunjung menemukan kepastian.

Lalu siapakah yang mampu mewujudkan impian bangsa ini? Maka jawabannya pendek dan singkat saja, yakni PEMUDA. Kehadirannya sangat diharapkan dalam memproklamasikan kebenaran skenario keamburadulan hukum perpolitikan yang tidak kunjung memajukan peradaban, bahkan menggerogoti aset-aset penting yang dimiliki bangsa.

Pemuda masa kini adalah pemimpin di masa yang akan datang, begitulah segenap paradigma yang  dapat membantu kita (pemuda) untuk melawan pengultimatuman Negeri ini. Pemuda adalah harapan terbesar bangsa. Sebagaimana ungkapan Presiden Soekarno, “Berilah aku sepuluh pemuda maka akan aku goncangkan dunia”.

Diakui atau tidak adagium yang disuarakan oleh Sang Proklamator RI mampu menjadi bukti kekonkretan realitas dari peranan pemuda itu sendiri. Kita justru bisa merefleksikannya melalui diri sendiri dengan merelevansikannya pada wujud yang nyata. Kita boleh memilih memainkan peran apa saja sesuai keinginan dan kemampuan yang dimiliki untuk kita torehkan pada masa depan.

Perbedaan adalah rahmat, tiap individu pasti mempunyai keinginan untuk mewujudkan cita-citanya dengan cara yang berbeda. Sebab, inilah sebenarnya makna filosofis yang berada pada kekuatan kata “Rahmatan Lil ‘alamin” bentuk kasih sayang Tuhan pada makhluk-Nya.

Namun jika ditelisik dengan konteks kekinian bangsa Indonesia, maka korelasinya ada pada esensi semboyan bangsa kita, “Bhinneka Tunggal Ika” berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Satu cita-cita, satu haluan, satu harapan, yaitu mewujudkan refleksi nyata bagi impian bangsa dalam memajukan peradaban. Dengan mengantarkan perubahan, maka jelaslah esensi kemanusiaan yang tertanam pada jiwa kita.

Sebab yang berubah-ubah justru akan lebih mengarah pada jalan kestatisan (kemunduran). Maka sepatutnya pemuda bisa dikatakan tidak menghargai kenikmatan utama yang diterimanya, yakni akal budi dan pikiran. Jika demikian “Nikmat Tuhan yang manakah yang akan kita dustakan” demikianlah bunyi salah satu surah Ar-Rahman yang berulang kali dimaktubkan di dalam Al-Qur’an.

Ingat bahwa denga akal, Tuhan telah memberikan manusia wewenang untuk menduduki kepemimpinan (khilafah) paling tinggi di muka bumi ini. “Setiap kamu adalah seorang pemimpin dan setiap pemimpin pasti dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” Inilah pesan bijak untuk setiap pemimpin yang layak dijadikan bahan refrensi untuk direnungi kembali demi memantapkan jiwa kemanusiaannya. Agar peran urgen dari gelar “khalifah” yang sudah Tuhan sematkan kepada kita sesuai dengan harapan.

Oleh karena itu, sudah selayaknya kita selaku pemuda perlu mengaplikasikan ungkapan Rhenald Kasali, “CHANGE!” Ya, hanya dengan satu kata inilah amunisi baru Negeri ini akan terwujudkan. Perubahan menuju kemajuan yang sarat dengan perkembangan, kemakmuran, dan kedinamisan menuju arah masa depan yang cerah dan mapan.

Demi sebuah kata, “memperjuangkan dan mempertahankan esensi perubahan untuk keberlangsungan hidup bangsa kita suatu saat nanti. Mari, wujudkan cita-cita dan segenap harapan bangsa ini dengan merekonstruksikan dan membidik pemudanya agar sesuai dengan harapan.

*Ketua Perpustakaan PPA. Lubangsa Utara dan aktif di Organisasi Persatuan Santri 
Pakong Annuqayah (PESPA).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here