Yant Kaiy

Sumenep, 28 November 2019

Opini: Yant Kaiy.

LIMADETIK.com — Ketika menjadi redaktur sastra di koran harian Jakarta, saya mencoba mengadu peruntungan di dunia penerbitan buku. Dari sekian banyak novel yang dibuat ketika masih di Sumenep, sebagian saya tawarkan ke beberapa penerbit mayor.

Bahkan ada yang ditawarkan ke penerbit plat merah. Bukan dikirim lewat pos, tapi saya sendiri yang mendatanginya.

Seminggu kemudian saya menanyakan nasib naskah novel beragam genre itu. Ternyata redaktur penerbit buku itu banyak yang gelengkan kepala. Ada yang menyarankan untuk cari sponsor. Lebih sakit lagi, mereka terkesan menyepelekan karya orisinil saya. Kalau memang tak mau, jangan menghina, batinku tanpa sikap protes.

Setelah diedit seperlunya, kembali saya tawarkan pada penerbit di Pasar Senen Jakarta Pusat. Penerbit abal-abal di Pasar Senen era 90-an tumbuh subur. Tak terjamah hukum.

Umumnya sistem pembelian penerbit di pasar ini adalah jual lepas. Maksudnya, penulis tidak mendapatkan royalti. Saya keluarkan 17 judul novel yang rata-rata panjangnya 110 halaman lebih. Penerbit akan membeli semua tapi nama saya akan diganti orang lain. Alasannya, nama saya tidak populer.

Saya coba untuk melobi dan bernego ulang. Ia tetap pada keputusan awal. Saya mencoba cari celah, kebetulan ada novel saya diterbitkan Karya Anda Surabaya di jual di kios itu. Akhirnya ia mengakui kalau saya bukan orang baru di penerbitan novel. Namun ia tetap pada pendiriannya.

Pada 1998 saya punya beberapa naskah cerita anak. Tiba-tiba saya ingin sekali menawarkannya. Saya menuju penerbit yang ada di Jakarta Timur. Singkat cerita, penerbit berinisial PS mau menerbitkannya. Penerbit memberikan 2 alternatif, royalti atau jual lepas. Spontan saya memilih royalti karena uang akan mengalir terus sepanjang buku mau dicetak ulang.

Proses panjang dalam penerbitan buku sangat membosankan. Saya mafhum akan hal itu. Pada 1999 koran tempat saya kerja gulung tikar. Saya pulang ke Sumenep tanpa pesangon. Harapannya masih ada royalti buku.

Setahun kemudian saya dapat kabar dari penerbit PS kalau royalti sudah ditransfer ke bank. Saya girang bukan kepalang. Karena ada 4 judul cerita anak yang diterbitkan. Pikir saya satu buku royaltinya Rp 1 Juta. Segera saya ke bank untuk menarik dana itu. Astaga… Saya kucek mata, tak percaya. Di monitor ATM tertulis Rp 400 ribu.

Saya sekarang menyadari kalimat teman di Jakarta untuk menjual putus saja: “Karena dalam royalti banyak tipu-tipu,” tegas teman saya.

Penulisa adalah Wartawan Limadetik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here