Sumenep, 11 Januari 2020
Limadetik.comOpini: Yant Kaiy

Suatu malam habis acara tahlilan di rumah teman, sengaja saya dengan beberapa tetangga tidak langsung pulang. Biasa kalau di kampung, para tetangga baik laki-laki dan perempuan kumpul-kumpul dulu di rumah yang baru kehilangan anggota keluarganya. Tujuannya menghibur agar tidak terus berkubang di lembah duka cita.

Diantara hadirin, ada salah satu diantara mereka paling pintar daripada lainnya. Orang berbicara tentang bisnis online, dia mampu menguasai jalannya pembicaraan. Yang lain berbicara politik, ia bisa memberikan opini cerdas dari sekian banyak komentar. Pokoknya dia bisa melahap habis topik pembicaraan apa saja.

Akhirnya yang lain kalah argumen dari dia. Hebat, decak hadirin. Dia gampang menelikung semua buah pemikiran hadirin yang tak sejalan. Maka kami menjadi makmum. Kami hanyut dalam irama bicaranya. Sikapnya yang meniscaya melumat habis ide-ide kami.

Di riwayat hidupnya, dia alumnus perguruan tinggi swasta terkemuka di Malang. Dia pemilik LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) cukup disegani (sebut: ditakuti) oleh beberapa kalangan karena kepintarannya. Pintar menakut-nakuti mereka yang “pelit” memberi angpau.

Nah, ketika berbicara gadget, dia terpeleset. Ia mengatakan, kalau smartphone karya teknologi super hebat di jagad raya ini. Siapa orang yang pegang hand-phone android, ia akan bisa melakukan apa saja.

Dalam hati saya mengatakan, kalau teknologi masa kini mampu berbuat apa saja, lantas kemana Tuhan selama ini. Hidup manusia itu bergantung sama Tuhan, bukan sama teknologi.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman dengan jelas sekali:

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis), meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” [al-Kahfi/18:109].

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ruh maka katakanlah, Ruh itu urusannya Tuhanku dan tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit.” [al-Isra’/17:85].

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Lukman/31:27]

Dari ayat-ayat Al-Qur’an di atas bisa ditarik benang merah bahwa ilmu manusia tidak mampu berbuat apa-apa ketika ruhnya dicabut. Bisakah teknologi hasil buatan manusia itu mengembalikan ruh yang hilang dari jasadnya?.

Yaint Kaiy adalah wartawan limadetik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here