kaiyyant

Sumenep, 17 Januari 2020
Limadetik.comOpini: Yant Kaiy

Semarak komentar di beberapa warung kopi di belahan pelosok desa di Kota Keris Sumenep mulai bermunculan dan tak bisa dibendung lagi. Dukung-mendukung kandidat dari beberapa Bakal Calon (Balon) Bupati Sumenep periode 2020-2024 juga menjadi isu yang kian menghangat. Tak pelak di beberapa media sosial juga santer, karena tak ada isu yang skalanya lebih besar di Januari ini setelah selesai pelantikan para Kepala Desa pada Desember 2019 kemarin.

Beberapa responden yang sempat saya temui tampak meniscaya dengan Balon idolanya. Kadang ada beberapa perdebatan kecil sebagai manifestasi dukungan penuh. Sehingga lahirlah konsep untuk saling mempengaruhi. Tanpa disadari mereka mulai terseret ke ranah persaingan untuk menunjukkan eksistensinya sebagai pendukung tak tergoyahkan.

Ada beberapa faktor mereka menjadi pembela “buta”; diantaranya karena nasab Balon Bupati dari orang terhormat dari sisi ketokohannya. Bisa jadi dia adalah guru agamanya. Wajar sang pemilih mendukungnya karena ingin menunjukkan baktinya sebagai seorang murid. Lalu kapan lagi akan membalas budi.

Faktor kedua yang tak sangat kuat, adanya ikatan famili. Baik dengan dirinya atau keluarganya. Apalagi sang pemilih sebelumnya telah banyak dibantu dalam banyak hal.

Faktor ketiga adanya pertemanan. Dalam budaya kita, teman baik tak ubahnya seperti saudara kandung. Bisa jadi lebih intim daripada saudara kandung.

Sedangkan pemilih (responden) di posisi netral adalah mereka yang tidak memiliki jaringan dengan Balon Bupati Sumenep. Mereka yang berada di posisi ini kadang mudah diombang-ambingkan dengan situasi dan kondisi. Namun ada pula yang bersikap menutup diri. Ia senantiasa menyibukkan dirinya dengan aktivitas. Baginya tidak terlalu urgen, tapi ia merasa wajib untuk menentukan pilihannya.

Untuk pemilih abu-abu adalah mereka yang hantam-kromo. Baginya siapa pun orang yang akan duduk di nomer satu di Kota Keris Sumenep sama saja. Slogan dan propaganda dari Balon Bupati tidak membuatnya kepincut. Tapi ketika ada bantuan sosial mereka berada di garis depan.

Itulah warna-warni pemilih di Kabupaten Sumenep. Barangkali di daerah lain realita ini juga berlaku.

Yant Kaiy adalah wartawan limadetik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here