Senin, 4 November 2019

Limadetik.com — Oleh : Subliyanto.

OPINI — Dalam kalender Hijriyah, bulan ini adalah bulan Rabi’ul Awwal, atau yang kerap disebut dengan bulan maulid. Disebut demikian karena dalam sejarah, bulan Rabi’ul Awwal merupakan bulan kelahiran Nabiyullah Muhammad SAW. Sehingga sebagian ummat Islam merayakannya dengan beragam desain kegiatan sebagai bentuk syukur dan kecintaannya kepada baginda Muhammad SAW.

Namun demikian juga tidak dinafikan adanya sebagian yang lainnya memperdebatkannya. Berlepas diri dari debatible bab perayaan tersebut, yang tak kalah penting dari semuanya adalah bagaimana agar kita sebagai ummat Muhammad SAW. senantiasa mencintainya dengan mengikuti segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya serta mengikuti sunnah-sunnahnya.

Mencintai Rasulullah Muhammad SAW. merupakan hal yang sangat penting untuk senantiasa terpatri dalam hati sanubari. Karena beliaulah yang memberikan arahan dan bimbingan menuju jalan yang benar. Hal demikian juga perlu kita ajarkan kepada putra-putri kita agar bagaimana Muhammad SAW. senantiasa menjadi idola dalam hidupnya. Karena beliaulah sebaik-baiknya tauladan bagi manusia dalam segala aspek kehidupannya.

Secara umum, dalam jiwa manusia, khusunya anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan, cenderung untuk mengidolakan kepribadian sosok yang berada di sekitarnya. Dan hal ini mendorong anak untuk meneladani sang idola, berjalan sesuai petunjuknya, dan menirukan segala gerak-geriknya.

Maka dalam konsep pendidikan Islam, mengajarkan agar mengikat anak dan orang dewasa dengan pribadi Rasulullah Muhammad SAW. Karena beliaulah tokoh dan idola yang paling layak untuk diikuti dan ditiru dalam segala aspek hidup dan kehidupan. Apalagi kita hidup di zaman yang penuh dengan tantangan di segala aspek sosial kehidupan saat ini, terlebih tantangan dalam tatanan moral dan pola berpikir generasi bangsa yang sudah jauh dari “Manhaj an-Nubuwah”.

Diakui atau tidak, bahwa tidak sedikit generasi bangsa ini yang sudah melenceng hidupnya, mengalami kekosongan kepribadian, rusaknya moral, menggonggong di balik silih bergantinya musim, melenggang bersama para idola yang gerak-geriknya jauh dari tuntunan yang benar. Sehingga tidak heran jika moralitas anak bangsa secara pelan-pelan terkikis.

Maka menjadikan Muhammad Rasulullah SAW. sebagai suri tauladan adalah sebuah kewajiban bagi kita, dan mengajarkannya kepada putra-putri kita juga merupakan keharusan. Baik secara langsung, maupun melalui lingkungan pendidikan. Karena konsep hidup yang secara implementatif sudah beliau contohkan secara aplikatif dan koprehensif. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali telah beliau ajarkan, maka sangat disayangkan jika diabaikan.

Rabi’ul Awwal merupakan momentum bersejarah. Maka untuk menguatkan mahabbah kita kepada junjungan kita Nabiyullah Muhammad SAW. kembali membaca dan mempelajari sejarah beliau merupakan langkah untuk senantiasa mengikuti beliau.

Dikutip dari buku “Prophetic Parenting” bahwa para sahabat dan kaum salafus shalih sangat bersemangat sekali mempelajari sejarah hidup Nabiyullah Muhammad SAW. Kemudian mengajarkannya kepada anak-anak mereka sampai pada tingkatan mereka mengajarkannya bersamaan dengan mengajarkan al-Qur’an. Karena sejarah hidup Nabiyullah Muhammad SAW. merupakan reflektor makna al-Qur’an. Disamping dapat menggugah perasaan, memperlihatkan sejarah Islam memiliki pengaruh yang besar dalam jiwa.

Untuk itu, sebagai bentuk kongkrit bahwa kita benar-benar mencintai Rasulullah SAW. kita optimalkan peran kita dalam melaksakan perintahnya dan menjauhi segala larangannya serta mengikuti sunnah-sunnahnya dalam keseharian kita, dengan harapan semoga kelak kita mendapatkan syafaat beliau. Amin. Wallahu a’lam (*)

Penulis adalah pemerhati sosial dan pendidikan asal Kadur Pamekasan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here