Sabtu, 12 Oktober 2019.
Limadetik.com, Oleh: Yant Kaiy

OPINI — Dari jaman dahulu sampai sekarang tembakau di Pulau Madura sudah terkenal ke seluruh penjuru nusantara, khususnya tembakau yang dari Kabupaten Sumenep. Banyak pabrikan rokok besar membangun gudang tembakau di daerah ini. Tujuannya sebagai antisipasi agar tidak kehabisan stock tembakau.

Ini membuktikan kalau tembakau Sumenep yang memiliki ciri khas  (ada rasa manisnya) menjadi rebutan perusahaan-perusahaan rokok ternama di Pulau Jawa. Semestinya petani tembakau yang dapat menikmati berkah dari tanaman ini, tapi ternyata tidak. Justru petani hidupnya seperti sudah jatuh masih tertimpa tangga pula.

Dulu sebelum tahun 2000-an, tembakau Sumenep memang menjadi jenis tanaman primadona bagi para petani. Bahkan ada beberapa orang bilang kalau tenaman tembakau dapat julukan ‘si daun emas’. Julukan ini bukan isapan jempol semata. Dulu 1 kilogram tembakau kering dapat 1 gram emas. Namun sekarang tidak. Untuk memperoleh 1 gram emas membutuhkan 25 kilogram tembakau kering. Sungguh sebuah ironi yang membuat pilu hati sang petani.

Bagaimana mereka tidak akan pilu hatinya. Kita bisa kilas balik proses mulai dari awal tanam  sampai menjadi tembakau kering. Sebelum tembakau ditanam tanah digemburkan dulu dengan alat bajak berpenarik sapi atau hand tracktor. Kemudian tanah dicangkul, baru setelah itu bibit tembakau ditanam. Selama perawatan, tembakau disiram setiap hari dengan pemupukan yang seimbang.

Kalau salah dalam tahap pemupukan, daun tembakau akan susah untuk menguning. Selama tiga bulan tanaman tembakau membutuhkan perawatan yang super ekstra, mulai dari penyemprotan obat serangga sampai memetik bunganya sebagai tanda tembakau sudah siap  dipanen. Selanjutnya daun tembakau dipetik dan didiamkan di tempat teduh selama 2 sampai 3 hari. Lantas daun tembakau baru memasuki proses perajangan.

Hasil rajangan daun tembakau selanjutnya disusun tipis-tipis di atas anyaman bambu untuk dijemur. Diproses penjemuran ini membutuhkan panas seharian karena kalau tidak maka kualitas tembakau akan kurang baik dan harganya menjadi rendah.

Proses yang begitu panjang dari sebuah tembakau ini menguras tenaga dan pikiran seorang petani. Memang sangat melelahkan. Dan dari proses ini tentu memerlukan anggaran dana yang tidak sedikit. Bahkan ada banyak petani mengandalkan pinjaman uang kepada bank atau koperasi. Apalagi bagi petani yang punya lahan di dataran tinggi yang umumnya minim dengan sumber air, mereka harus merogoh kantong celana lebih dalam untuk membeli air.

Begitulah suka-duka petani tembakau di Sumenep yang kalau ditakar lebih banyak pahitnya. Sebab untuk harga tembakau di petani sekarang berkisar Rp.25.000,- perkilogram. Untuk di tahun 2018 kemarin harga tembakau mencapai Rp.50.000,- perkilogram. Perbedaan harga yang sangat mencolok ini membuat para petani tembakau sekarang tidak untung, tapi buntung.

Adakah kepedulian dari pemangku kebijakan (pemerintah) selama ini? Tentu ada jawabnya. Kalau tidak ada berarti selama ini keberadaannya hanya formalitas di atas kertas. Tapi seberapa besar power kepedulian itu menyentuh komunitas petani tembakau? Rumusnya gampang, kalau nasib petani lebih makmur dan lebih sejahtera dari sebelumnya, berarti kepedulian itu menyentuh hidup petani.

Sayangnya kepedulian itu lebih cenderung bukan kepada petani tembakau. Sungguh naif. Sedangkan pihak pabrikan rokok semena-mena membuat kebijakan yang menyengsarakan petani.

Banyak dari beberapa kalangan (organisasi kemasyarakatan) yang slogannya bernada peduli petani tembakau, namun ternyata adalah basa-basi  belaka. Sebenarnya petani tembakau saat ini sangat membutuhkan campur-tangan pemerintah untuk mengatasi masalah ini. Mereka tetap optimis di atas tangis derita.

Pertanyaannya sekarang, siapa yang paling diuntungkan dalam produksi tembakau yang melimpah saat ini? Yang jelas bukan petani tembakau. Ada  tiga variable dalam proses tembakau  sehingga menjadi rokok. Pertama petani sebagai penghasil tembakau kering. Yang kedua adalah pemerintah daerah yang mempunyai regulasi terhadap sistem jual-beli tembakau antara petani dan pihak pabrikan.

Dalam hal ini pemerintah meliputi eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Yang ketiga adalah pihak pabrikan. Dimana pihak ketiga ini sebelum membeli produk petani jelas telah ada beberapa rambu kesepakatan mengenai aturan main/sistem pembelian tembakau.

Pemerintah daerah sebagai fasilatator tentu punya power untuk bisa menanggulangi krisis harga tembakau. Atau pihak pabrikan rokok yang sengaja menafikan amanat penderitaan petani tembakau saat ini? Wallahualam bissawab.

Ketua Sanggar Adinda Pasongsongan-Sumenep

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here