Sumenep, 17 November 2019.

Opini: Yant Kaiy.

LIMADETIK.com — Dari jaman para Raja Sumenep hingga kini, hasil tangkap ikan nelayan Desa Pasongsongan Kabupaten Sumenep terus melimpah. Tak pernah berkurang karena nelayan Pasongsongan menggunakan banyak metode penangkapan ikan.

Hal ini yang memungkinkan perusahaan pengolahan ikan tidak akan defisit stok bahan baku. Metode penangkapan ikan itu meliputi: Majeng, arombang, apolang, ajaring, ajurung, manceng, ngoncor, dan nyambalang. Masing-masing metode penangkapan ikan ini, perbedaannya terletak pada cara dan alat tangkapnya serta waktunya. Inilah yang memungkinkan pabrik pengolahan ikan akan terus berproduksi seandainya ada pabriknya di kecamatan paling barat Kabupaten Sumenep ini.

Saya tidak habis pikir, fenomena ini kenapa bisa terjadi. Sejatinya pemangku kebijakan bisa mengakselerasikan kepentingan hajat orang banyak untuk bisa menyejahterakan mereka. Bukan melegalkan argumen berdasar pada sebuah opini politis dari sebagian kelompok. Kalau di Pulau Jawa perusahaan-perusahaan yang memakai bahan baku ikan banyak beroperasi dengan baik, lantas kenapa di Pulau Madura tidak. Misalnya di Pasongsongan.

Sebagian masyarakat akhirnya punya wacana negatif terhadap realita ini. Ternatallah beberapa asumsi yang membuat suasana tidak kondusif. Bahwa regulasi yang diproses oleh pemerintah daerah dan pusat tidak mampu mengakomodir aspirasi akar rumput. Sejatinya mereka bisa mengevaluasi potensi daerah paling terpencil sekalipun. Padahal aset ini bisa mendatangkan keuntungan “abadi” bagi pendapatan daerah itu sendiri.

Suatu hari saya ikut mengirim ikan yang dikemas dalam tong besar yang sudah diberi es batu ke daerah Muncar-Banyuwangi. Kami berangkat jam 13.00 WIB dan tiba di Muncar pada jam 03.00 WIB. Setibanya di sana kami istirahat sebentar di masjid sambil menunggu kumandang adzan subuh. Pada jam 07.00 WIB pick up kami masuk ke perusahaan untuk melakukan pembongkaran. Sangat banyak perusahaan pengolah hasil ikan di daerah itu. Tiga jam kemudian kami bertolak dari Muncar.

Itulah potongan kisah penjual ikan Pasongsongan ke Muncar. Sangat melelahkan. Terbersit dalam benak saya, andai di Pasongsongan ada perusahaan seperti di Muncar, jelas dan pasti putra-putri Desa Pasongsongan khususnya, dan masyarakat luas di sekitarnya tidak akan kebingungan mencari kerja sampai ke luar negeri. Kalau daerah lain bisa, kenapa pemangku kebijakan Sumenep seolah menutup mata dengan realita ini? Aneh.

Berdasar pada kata “aneh” inilah lahir berbagai sakwasangka dari beberapa tokoh masyarakat. Ketika saya bertanya pada salah seorang pegawai di UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Pasongsongan Kabupaten Sumenep, dia bilang tidak ada investor yang mau membuka pabrik pengolahan ikan di Pasongsongan. Tapi saya bilang prospeknya kan bagus menanamkan modalnya di daerah Pasongsongan. Dan ketika saya bertanya soal regulasi dari pemerintah terkait, dia tidak tahu menahu dengan hal itu.

Harapan terakhir dari sebuah impian masyarakat Pasongsongan tinggal pada Kepala Desa Pasongsongan yang baru. Apakah impian itu akan terwujud atau tidak.

Penulis adalah kontributor limadetik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here