Kota Batu, 5 Desmber 2019

Oleh : Fauzi Efendi.

Belajar Pada Air Yang Mengalir

Limadetik.com — Aliran air selalu mengisi ruang-ruang kosong. Saat kita membuat sebuah kotak kedap air yang bersekat tapi memiliki celah, kemudian isi kotak tersebut dengan air pasti akan berusaha memenuhi ruang kotak tersebut sebagaimana wujudnya. Pelan, melalui celah antar sekat, air akan mengisi kotak tersebut hingga penuh.

Demikian pula manusia, manusia yang baik ialah manusia yang berusaha mengisi kekosongan hati dari manusia lain. Dengan meniru sifat air, kita seharusnya bisa menjadi penolong bagi manusia lain yang sedang bermasalah atau kekurangan. Bukan dengan melakukan tindakan sebaliknya yang justru melahirkan kegaduhan di setiap ruang.

Di era sekrinsut dan peradaban tautan seperti sekarang, kebijaksanaan harus diimbangi dengan moderasi akal, keberanian juga harus dibalut dengan moderasi kekuatan nafsu dan amarah, sedangkan pemeliharaan diri adalah bagian dari moderasi kekuatan individu maupun kelompok (daya syahwat). Dari ketiga hal inilah kemudian akan melahirkan sikap moderat (tawassuth) sebagaimana pola fikir (fikroh) dan gerakan (harokah) yang terus dirawat oleh ajaran Islam ala Ahlussunah wal jamaah.

Pun tidak terlalu keras (ekstrim) baik kepada kelompok sendiri maupun kepada kelompok yang lain. Tidak terlalu bebkos (liberal) agar setiap apa yang kita lakukan tidak berdampak negatif bagi orang-orang disekitar kita.

Lalu tantangan kita?. Tatangan kita sekarang adalah masyarakat yang kritis. Tentu dengan literatur yang kuat dan komperhensif. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Sebab Kritis di maya (medsos) belum tentu kritis di dunia nyata. Seeing dijumpai yang kritis tidak sesuai dengan kemampuannya. Banyak yang agamis tidak sesuai kadar keilmuannya. Implikasinya, over simbol.

Yang paling urgen, terlihat alim namun belum mampu mentransformasikan penilaian orang lain terhadapnya. Yang terlihat sederhana justru menyimpan banyak mutiara ilmu berupa akhlak dari kesederhanaanya.

Kecerdasan kita akan sia-sia jika lisan dan akhlak kita tak mampu memberikan kedamaian dan kenyamanan bagi orang-orang di sekitar. Sebab sekitar adalah akibat dari bagaimana diri kita.

Sebab kesopanan (akhlak) lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan, bukan?

Penulis adalah Santri Madura Asal Desa Lebeng Timur Pasongsongan Sumenep

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here