Gulu 14 September 2019.

Oleh: Sulaisi Abdurrazaq, Limadetik.comKORUPSI Participating Interest Migas Sumekar terbentang amat panjang dalam kisah Skandal Bellezza, lalu bagaimana bisa nama Mister Sitrul & Madam Reika Zulaekha berkorelasi dan tiba-tiba bersembulan dari secarik catatan liar yang hadirnya megap-megap mencari jalan di tengah perspektif yang rawan pragmatis.

Nanti akan tergambar bagaimana gerutu tak dapat menyelesaikan masalah korupsi, disana justru akan tertambat kejujuran tanpa suara yang menyisakan banyak ruang untuk dusta, keadilan bukanlah mentari yang terbit setiap pagi, ia harus dicari karena tak pasti.

Sejarah Skandal Bellezza tak dapat terhenti atau dihentikan, memintanya berhenti sama dengan berharap gelombang lautan tak lagi berkejaran, atau berharap tak ada pantai di tepi lautan, hak publik untuk tahu bahwa migas Sumekar penuh drama, banyak pemeran cerita lepas dari jerat pidana, sebagian lagi pasang gaya menyeru anak muda kudu move on.

Kisah lanjutan ini mencerminkan apa yang disebut dengan “hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas”, adil tak dapat ditakar, penegak hukum banyak yang nakal, ada yang suka bertanya pada perutnya dahulu sebelum memutus suatu perkara, baru mencari pasal yang tepat.

Cerita Mister Sitrul & Madam Reika Zulaekha sama-sama terkuak sejak tahun 2017 dan sama-sama dinyatakan bersalah tanggal 24 April 2018, ketika keduanya sama-sama terbentur pidana korupsi, namun mereka berada dalam masalah dan ruang yang berbeda, meski penerapan pasalnya sama.

Mister Sitrul didakwa dengan dakwaan primair Pasal 2 ayat (1) Jo. Pasal 18 ayat (1) b UU No. 31 tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Pada dakwaan subsidair pasal yang diterapkan adalah: Pasal 3 jo. Pasal 18 ayat (1) b UU No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Mister Sitrul didakwa rugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara sebesar USD 203.630,05 dan Rp. 4.435.290.317,58 dan diputus oleh Pengadilan Negeri Surabaya 1 tahun penjara serta pidana denda 50 juta, jika tidak dibayar maka diganti kurungan 1 bulan.

Sementara Madam Reika Zulaekha hanyalah seorang Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan seorang ibu dari dua orang anak yang masih berusia Sembilan tahun dan satunya lagi berusia dua tahun ketika Madam Reika Zulaekha didakwa.

Madam Reika Zulaekha didakwa dengan dakwaan primair Pasal 2 ayat (1) Juncto Pasal 18 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pada dakwaan subsidair pasal yang diterapkan adalah: Pasal 3 Juncto Pasal 18 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Madam Reika Zulaekha didakwa rugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara sebesar Rp. 223.800.000,- dan diputus dakwaan primair terbukti oleh Pengadilan Negeri Bandung tanggal 24 April 2018 dengan pidana penjara 4 tahun dan denda Rp. 200.000.000,-, jika tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan enam bulan.

Belum cukup disitu, Madam Reika Zulaekha juga dihukum membayar uang pengganti Rp. 218.000.000,- paling lama dalm waktu satu bulan sejak putusan inkrahct, jika tidak membayar maka harta bendanya disita dan dilelang oleh jaksa untuk menutupi uang pengganti, jika harta benda tidak mencukupi maka diganti dengan pidana kurungan enam bulan.

Kasus pokok Cerita Mister Sitrul telah terurai dalam kisah sebelumnya pada tajuk Skandal Bellezza, sementara kisah Madam Reika Zulaekha adalah kasus Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Program Keluarga Harapan (PKH) Quick Wins Kemensos Tahun Anggaran 2016 di Kabupaten Indramayu tanggal 12 Juni 2017.

Kisah ini memotret perbedaan kerja hukum bagi pejabat dan rakyat jelata, jumlah kerugian Negara akibat perilaku Mister Sitrul ibarat air di lautan, bermilyar-milyar, sementara kerugian Negara akibat perilaku Madam Reika Zulaekha ibarat tetesan air mata, hanya ratusan juta, tapi betapa garang Negara pada Madam Reika Zulaekha daripada pada Mister Sitrul.

Hukum bahkan tak mampu menyentuh pemain utama dalam Skandal di Bellezza Office Walk Jakarta terkait korupsi Participating Interest Migas Sumekar [*].

Penulis adalah Ketua YLBH Madura dan Wasekjen DPP LPKAN Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here