Ubaidillah An Nasiqie
Limadetik.com, Oleh: Ubaidillah An Nasiqie*

OPINI — Ada pepatah mengatakan, “jika ingin mendirikan bangsa yang kuat maka harus membangun pola pikir pemuda-pemudi yang mendiami bangsa tersebut”. Akan tetapi, kata ‘’menbangun’’ di sini bukan hanya berhenti pada ranah intelektualitas saja, hal ini sudah merambat pada statemen-statemen mereka dalam menilai suatu persoalan yang lahir di tengah-tengah masyarakat.

Meminjam pernyataan sastrawan gaek kelahiran rembang, 1937, Budi Dharma, “bahwa setiap individu yang lahir kisaran 1995-2010 tergolong sebagai bagian dari generasi Z atau bisa disebut pula dengan Igeneration (generasi internet).” Karena memang, dalam kesehariannya mereka selalu bersinggungan dengan internet.

Hal ini banyak menimbulkan kekhawatiran. Semisal, mereka (pemuda-pemudi) lebih suka berinteraksi secara virtual dari pada berinteraksi secara verbal, timbulnya sifat apatisme, hedonisme dan yang lebih parah lagi adalah munculnya generasi stereotipe. Waduh bisa gawat tuh. akan tetapi, kalian sebenarnya tau gak sih tentang stereotipe? Apa itu stereotipe? Dan bagaimana bentuknya? Stereotipe ini merupakan persepsi atribut yang kita katakan pada kelompok tertentu dengan mengumbar wacana tanpa fakta, menilai sesuatu berdasarkan persepsi subyektif.

Kita mungkin perlu belajar pada Wiliam James (1842) dengan teori pragmatismenya, pemikiran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah sesuatu yang membuktikan pada dirinya sebagai yang benar, dengan akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis (Ali maksum;2009) kita tidak bisa menyangkal bahwa generasi ini sangat berbahaya  guys! Jika ini terus saja di biarkan, lama-lama akan membentuk karakter kita menjadi seperti itu.

Ketika kita merefleksi pada sejarah, karl marx bapak sosiologi yang lahir di rusia­ (1818) mengatakan bahwa kita dibentuk oleh lingkungan dimana kitra berada. Lantas bagaimana kelak generasi kita? Ini sama halnya dengan menikam tubuh sendiri secara perlahan. Waduh, parah guys !

Mari kita telusuri. Kita ambil sample pada harian jawa pos tanggal (15/12) dengan judul besar ’’ngawur artikan hay tayo”. Kalimat hay tayo di dunia film hay tayo the little bus belakangan ramai di perbincangkan. Bahkan hal itu menjadi salah satu pencarian terbanyak di google 2018. Katanya, arti kata ini ‘’aku yahudi’’. Entah siapa yang menyebarkan ini di medsos duluan. Yang pasti, banyak orang tua yang terhasut dan melarang anaknya menyanyikan lagu tersebut. Katanya lagi, kata ini diambil dari bahasa Ulumbu , mengarai, Nusa Tenggara Timur.

Akan tetapi, setelah jurnalis timur exsprees (timuex) Fransi Runggat melakukan penelusuran kepada ahli-ahli bahasa dengan tokoh masyarakat Ulumbu, hasilnya jauh sekali dari apa di edarkan. ‘’Ada kata Ta Yo yang digunakn orang-orang bagian Ulumbu Barat, tempatnya di kampung-kampung kempo’’. Menurut Fransi Runggat, arti kata ‘’Ta Yo’’ juga bukan  ‘’aku yahudi’’. Melainkan ‘’pergi atau jalan’’. Lah, mengapa kita mudah percaya dan menjadikan itu sebagai alat intimedasi pada kelompok tertentu? Padahal kenyataannya tidak?

Memang sih, Negara ini, Negara yang menganut asas demokrasi. Kita boleh-boleh saja menyampaikan pendapat kita dan menyikapinya sesuai sudut pandang kita. Akan tetapi, jika itu membahayakan bangsa kita dan akan menyulut perpecahan, apakah kita tidak akan bereaksi ? Nah, dimana hubbul wathan kita ? Jika seandainya kalian malah memilih bungkam, sudahlah jangan ngaku-ngaku Indonesia deh, Artinya, kita memiliki andil dalam menumpas masalah-masalah ini. Terutama sebagai generasi milenial.

Usut punya usut, hal ini pula adalah misi orang-orang barat untuk memecah belah kita, untuk menjajah kembali. Ih ngeri, emang kita mau kerja paksa kayak dulu saat membangun jalan raya anyer-panarukan? sisitem Rodi gitu ? jujur saja guys, saya sebagai pemuda yang belajar bertahun-tahun di kelas, memilih melawan sikap stereotipe ini.

Lantas siapakah yang harus bergerak dan menanggulanginya? Jawabannya cukup sederhana, yaitu ; Kaum santri. Mengapa seperti itu? Karna,  santri adalah pewaris estafet kepemimpinan bangsa yang paling di mungkinkan. Barangkali,hal ini karna  latar santri yang selalu berorientasi pada kebaikan.

Prof. Dr. Abd A’la As MA. Mantan rektor UIN Sunan Ampel Surabaya menegaskan bahwa; santri bukan hanya orang yang berada di pesantren saja, tetapi setiap orang yang berkelakuan seperti santri  bisa di sebut santri. (Dalam hal pengamalan ibadah sehari-hari). Mengaca pada pernyataan tersebut, berarti siapapun yang memiliki kesadaran seperti santri sudah sepatutnya ikut mengentaskan fenomena yang membuat seluruh lapisan masyarakat resah ini.

Semoga saja tulisan sederhana ini  bisa menyadarkan kita bahwa sebagai pewaris estafet kepemimpinan bangsa nantinya, kita harus mulai menimbang-nimbang lagi keputusan yang akan diambil. Harus lebih telaten men-filter berita apa pun yang beredar, terutama di media sosial. Agar kita tidak langsung men-judge suatu persoalan dengan pandangan miring.

Mari mulai membangun peradaban yang mapan dengan cara membenarkan pernyataan sesuai fakta. Kawan saya selalu mengatakan kepada saya. Soe Hok Gie pernah mengatakan: “manusia dibentuk oleh ambisi mengenal masa depan, dibentuk oleh kenyataan-kenyataan kini dan pengalaman masa lampau.” Semoga kita, khususnya pemuda cepat menyadari realita yangada di tengah-tengah masyarakat Indonesia ini. Amin!

Penulis Lahir, 04 Agustus 2001, di desa Pordapor, Guluk-Guluk, Sumenep. 
Tinggal di PPA. Lubangsa Utara. Staf Redaksi Majalah Infitah MA Tahfidh Annuqayah. 
Menjadi Ketua Komunitas Porsi (Pordapor Berkreasi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here