Yant Kaiy

Sumenep, 15 Januari 2020

Limadetik.comOpini: Yant Kaiy

Susahnya mencari pemimpin sekarang sama susahnya dengan mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Idiom ini sepertinya telah menjadi pemandangan vulgar di berbagai daerah di tanah air. Sejatinya pemimpin bisa memberikan harapan hidup lebih baik bagi rakyatnya, justru ia berleha-leha dengan jabatan yang diraihnya. Dilema ini telah menggerus nilai kepercayaan publik karena bentuk penyelewengannya terungkap.

Media televisi sering mengetengahkan sosok maling uang rakyat dengan berbaju jingga. Baju kebesaran koruptor yang terciduk atau tertangkap tangan. Baju yang semestinya menjadi momok bagi pemangku kebijakan publik lainnya. Namun hilang satu tumbuh seribu.

Bahkan ada sosok berkostum agama dan trah dari orang terhormat malah hanyut terbuai dalam irama korupsi. Ini sangat menyedihkan sekaligus menyakitkan. Sepantasnya ia menjadi panutan bagi umat, menjadi teladan bagi anak-cucunya, justru ia mencoreng harga dirinya sendiri dan melukai hati nurani pengagumnya.

Memang ada ungkapan: “Lebih baik memiliki pemimpin ketimbang tidak ada.” Pemimpin yang menurut nalar lebih baik dari calon lainnya. Pemimpin yang bisa menebarkan asa di tengah samudera galau para pemilihnya.

Ditelisik dari beberapa bakal calon (balon) Bupati Sumenep 2020-2024 yang mulai berpropaganda di berbagai media sosial (medsos) Facebook, tampak ada Dr.Ir.H.RB. Fattah jasin,M.S., Nyai Hj. Dewi Khalifah,S.H.,MH.,M.Pd.I, dan Achmad Fauzi,SH,MH. Sedangkan beberapa poster juga mulai marak dipasang di setiap pinggir jalan raya dengan slogan menarik dan penuh harapan. Mereka membangun optimisme.

Memberangus kebimbangan di benak pemilih di Kota Keris Sumenep sudah mendesak waktunya.Tak ada kata terlambat. Karena masyarakat Kabupaten Sumenep sudah mulai terjangkiti sindrome tidak percaya terhadap sosok pemimpin yang bakal bertarung. Adalah tugas para bakal calon untuk bisa mengembalikan kepercayaan itu.

Ada lagu lama yang terdengar lucu: “Ketika mau bertarung dia butuh rakyat, tapi setelah jadi rakyat butuh dia.” Sebenarnya ini budaya keliru, tapi lumrah terjadi di tanah tercinta kita. Entah sampai kapan budaya salah kaprah ini tamat riwayatnya. Sehingga wajar kalau sosok pemimpin ideal susah didapatkan.

Tapi sebagai rakyat kita semestinya tetap optimis. Menatap hari esok akan lebih baik dan mendekat pada impian. Semoga kita bakal memperoleh pemimpin amanah di kabupaten ujung timur Pulau Garam Madura. Mari menyulam asa di tengah galau membuncah.

Yant Kaiy adalah wartawan limadetik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here