Yant Kaiy

Sumenep, 14 November 2019.

Opini: Yant Kaiy
LIMADETIK.com — Pelaksanaan pesta demokrasi Pilkades di Kabupaten Sumenep daratan sudah selesai 7 Nopember kemarin. Dan untuk Pilkades kepulauan hari ini juga terselenggara, Kamis (14/11/2019).

Secara umum penyelenggaraan Pilkades berlangsung sesuai dengan harapan banyak pihak. Memang ada beberapa desa yang pelaksanaan Pilkadesnya terganggu di Sumenep daratan, namun hal itu masih bisa diselesaikan dengan baik.

Euforia kemenangan dan legowo atas kekalahan para Cakades memang telah mewarnai nuansa politik tingkat masyarakat bawah. Ada Cakades yang menang dirayakan dengan mengadakan pertunjukan ludruk Madura semalam suntuk. Ada pula yang hanya menerima tamu warga yang mau mengucapkan selamat atas kemenangannya. Biasanya juga diselingi acara makan bersama sebagai wujud syukur.

Demikian pula dengan Cakades yang kalah, mereka juga kedatangan para tamu warganya sendiri. Mereka kebanyakan memberikan injeksi motivasi sebagai pengejawantahan dari rasa peduli.

Warna-warni acara di akhir pesta rakyat Pilkades adalah normal adanya. Dibalik selebrasi Cakades terpilih sesungguhnya tersirat beban berat di pundaknya. Salah satu beban itu adalah mengurangi angka pengangguran di desanya.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun ini angka pengangguran di Sumenep masih mencapai 11.067 jiwa.

Sekarang Kepala Desa yang terpilih tidak bisa berleha-leha lagi dengan realita ini. Fakta menunjukkan kalau warga Sumenep banyak yang bekerja ke kota lain di Indonesia. Bahkan tak jarang banyak warga Sumenep yang lari ke luar negeri untuk mengais rejeki. Terpisah dengan keluarga dan tanah kelahirannya.

Kalau dianalisa dari perspektif awam, banyaknya tenaga kerja, baik yang profesional atau tenaga kerja kasar, di kabupaten ujung timur Pulau Madura ini disebabkan oleh kurangnya lapangan kerja yang tersedia sehingga mereka banyak yang menganggur. Kalaupun ada, mereka kebanyakan enggan lantaran bayarannya tidak manusiawi.

Memang UMK (Upah Minimun Kabupaten) tahun 2019 telah ditetapkan oleh Gubernur Jatim, tapi pihak perusahaan tidak peduli dengan itu semua. Kalau melanggar sangsinya apa juga tidak jelas.
Kepala Desa baru akan dipertahankan kepemimpinannya kelak kalau melaju lagi ke arena Pilkades, asal ia bisa menjawab tantangan yang diberikan rakyatnya.

Ia harus bisa bermanuver dalam membuat kebijakan pro-rakyat. Ia mesti visioner dalam menentukan arah keputusan yang telah disepakati dengan anak buahnya. Kuncinya hanya satu, rakyat wajib diberdayakan agar mereka punya income mencukupi. Kalau sudah makmur, insya Allah mereka akan betah di kampung halamannya.

Banyak warga menggantungkan harapan baru kepada para Kepala Desa terpilih. Ingat, mereka sangat menginginkan perubahan demi kesejahteraan diri dan keluarganya.

Penulis adalah kontributor limadetik.com tinggal di Pasongsongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here