Sumenep, 9 Januari 2020
Limadetik.com – Opini: Yant Kaiy.

Suatu sore, Selasa (7/1/2020) saya kedatangan tamu. Dua orang mahasiswi UTM Bangkalan yang sedang melakukan kegiatan KKN di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Saya tidak sempat menanyakan namanya, salah satu dari mereka ada yang dari Desa Salopeng Kecamatan Dasuk dan satu lagi berasal dari Rungkut Industri Surabaya.

Sesungguhnya mereka telah melakukan beberapa wawancara dengan para tokoh sejarah yang ada di Desa Pasongsongan. Siapa saja tokoh sejarah yang berpengaruh dan telah mewarnai Desa Pasongsongan. Mereka telah mendapatkan jawaban, kalau tokoh sejarah itu tidak lain adalah Syekh Ali Akbar (wafat 14 Jumadil Akhir 1000 H). Karena beliaulah nama Pasongsongan ada dan masyarakatnya menjadi muslim semua.

Surat tanah hadiah Raja Sumenep atas kemenangan Nyai Agung Madiya di perang Aceh.

Peran Syekh Ali Akbar bagi Kerajaan Sumenep juga sangat besar. Selain sebagai tokoh sentral penyebar agama Islam di wilayah pesisir utara Pulau Madura, beliau juga tercatat banyak membantu menjaga keamanan wilayah kerajaan dari berbagai rongrongan.

“Saya mendapat info dari seseorang kalau kebudayaan yang ada di Desa Pasongsongan berupa Rokat Tase’, Sapi Sono’ dan Musik Tongtong. Benarkah itu?” tanya mahasiswi yang dari Surabaya.

Saya jawab benar. Tapi saya menambahkan kalau Zikir Saman merupakan peninggalan seni tradisi lokal peninggalan putri Syekh Ali Akbar bernama Nyai Agung Madiya. Kebudayaan ini ada di Desa Pasongsongan pada abad XVII yang dibawa Nyai Agung Madiya dari Aceh. Beliau ke Bumi Serambi Mekah dalam rangka membantu Kerajaan Aceh menumpas tentara kolonial Belanda

Kebudayaan Zikir Saman yang dibawa Nyai Agung Madiya ke Pasongsongan bertujuan untuk membentengi pengikutnya agar tidak terpengaruh oleh kebudayaan berbau maksiat. Apalagi pada jaman itu kebudayaan non-Islam sudah berdiri lebih awal. Dan Nyai Agung Madiya sukses menenggelamkan kebudayaan lain yang tidak sejalan dengan syariat Islam.

Menurut sejarahnya, Zikir Saman sebenarnya aliran Tarekat Sammaniyah yang didirikan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Sammani al-Hasani al-Madani (1718-1775). Syekh Samman adalah seorang ulama dan sufi terkenal yang mengajar di Madinah.Tarekat ini dibawa para pelajar dari Indonesia yang menuntut ilmu di Mekkah dan Madinah.

Senjata Nyai Ageng Madiya saat perang melawan tentara kolonial Belanda di Aceh

Saya juga menerangkan pada kedua mahasiswi itu, kalau Zikir Saman setiap tahun tetap digelar rutin diacara haul Syekh Ali Akbar. Zikir Saman dihelat di astah Syekh Ali Akbar di Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan Sumenep.

Tentang Zikir Saman yang ada di Desa Pasongsongan dilaksanakan dengan duduk bersila. Lantunan shalawat nabi dan puji-pujian terhadap kebesaran Sang Khalik dipimpin oleh beberapa orang bergiliran. Sedangkan jamaahnya tanpa henti berzikir, mengagungkan asma Allah. Padu-padan suara itu menggetarkan hati bagi yang mendengarnya.

Tinggal satu bulan lagi Zikir Saman akan dihelat, ujar saya pada kedua mahasiswi itu. Barangkali berminat untuk menyaksikannya. Hadirlah di Astah Syekh Ali Akbar, himbau saya seraya mempersilakan teh manisnya.

Yant Kaiy adalah wartawan limadetik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here