SUMENEP, limadetik.com — Sejumlah jurnalis di ujung Timur Pulau Garam Madura terlibat dalam diskusi tentang media bertajuk  “Analisis Konten Media: Demam “Ecek-Ecek” dan Hegemoni Oligarki di Tanah Sumekar” di Warung UPNORMAL Sumenep, Jawa Timur (12/10/19) malam.

Diskusi tersebut dihadiri sejumlah jurnalis, LSM Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI), dan aktifis mahasiswa.

Nara Sumber dalam diskusi tersebut tidak asing bagi insan pers di Madura, Abd. Aziz, wartawan Antara Jatim dan Ketua PWI Pamekasan bersanding dengan wartawan senior di Sumenep, Moh. Rifai, Wartawan Surya, Penasehat PWI Sumenep sekaligus komisioner Komisi Informasi Kabupaten Sumenep yang digadang-gadang maju bacalon PWI Jatim.

Pada kesempatan ini, Moh. Rifai mengatakan bahwa, media-media yang profesional dan punya integritas di Sumenep tidak menulis status faceebook tentang media ecek-ecek, karena dengan menulis itu, justru medianya menunjukkan dirinya ecek-ecek.

“Radar Madura, Kabar Madura, Kompas Group, Surya, Antara, dan lain-lain tidak satupun yang menulis status facebook media ecek-ecek, karena hal itu tidak ada dampak positif terhadap masyarakat luas, hanya masalah ketersinggungan antara salah satu wartawan dengan seorang anggota DPR, muter-muter di sana aja” ujar Moh. Rifai di hadapan peserta.

Penasehat PWI Sumenep itu menyampaikan bahwa, saat ini banyak wartawan dadakan tanpa pengetahuan tentang jurnalisme, tak tahu kode etik, minus kompetensi.

“Banyak wartawan standart ganda, merangkap LSM, merangkap pengacara bahkan merangkap preman.”  katanya.

Selain itu tambah manta Ketua PWI Sumenep dua periode ini, banyak perusahaan media yang tidak memenuhi standart Undang-Undang, kantor bersama dengan LSM, bersama kantor kontraktor, bahkan ada yang satu ruangan dengan toko.

Diskusi tersebut dipandu oleh moderator Sulaisi Abdurrazaq, Dosen IAIN Madura yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPC APSI Madura, Ketua YLBH Madura, dan Ketua LKBH IAIN Madura.

Acara diskusi Media digelar maduraku.com yang dimulai pukul 19.30 – 22.00 Wib, dilanjutkan ngopi santai di Warung UPNORMAL Jl.KH.Mansyur, Pangarangan Sumenep.

Dalam diskusi tersebut Abd. Aziz menyajikan bahwa konten media, isi media merefleksikan realitas, tetapi realitas-realitas isi media dapat tersaji dari hasil kompromi antara pihak yang menjual informasi kepada media dan siapa yang membelinya.

Abd. Aziz mengajak peserta untuk membaca teori Lasswell dan Pamela J. Shoemaker tentang The mirror aproach dan The null effect approach

Media, lanjut Abd. Aziz, dapat dipengaruhi ideologi tertentu (ideological level), dapat dipengaruhi individu si pewarta (individual level), dapat dipengaruhi atasan dari si pewarta (organization level) extra media level dan media routines level.

“Media ecek-ecek dapat diukur lewat barometer analisis Alexa, kata ecek-ecek kan dalam KBBI artinya tidak sungguh-sungguh atau pura-pura, jadi media yang tidak dikelola secara profesional dapat saja dimaknai sebagai media ecek-ecek”, tegas Ketua PWI Pamekasan dua periode ini.

Sementara itu, menimpali Moh.Rifai dan Abd.Aziz, Sulaisi Abdurrazaq, mengatakatan masalah status facebook tentang “media ecek-ecek” itu tidak penting, seperti disampaikan Moh. Rifai. “Masalah itu hanya muter-muter dari wartawan sendiri, discreenshoot sendiri, disebarkan sendiri di internal wartawan, dipermasalahkan dan diviralkan sendiri oleh mereka, padahal mestinya wartawan fokus pada masalah kinerja DPRD yang menyangkingan masyarakat.” terangnya.

Sulaisi menambahkan, masih banyak yang harus menjadi atensi media, misalnya, persoalan koruptor migas, pelayanan kapal yang merugikan masyarakat, masalah pengadaan kapal Sumekar III dengan harga berjibun, masalah Pilkades dan interpelasi, masalah infrstruktur di kepulauan Kangean yang tidak terealisasi, masalah listrik yang tidak masuk ke kepulauan, masalah perebutan jabatan di DPR, dan lain-lain.

Sebagai konsumen media, kita disuguhi berita yang tidak berkualitas yang malah lebih viral daripada media-media berkualitas yang profesional.

“Yang dimaksud pemberitaan yang berkualitas adalah berita yang fokus pada kinerja instansi bukan malah mempersoalkan masalah status facebook, itu kan problem, mungkin karena status itu ditulis politisi ya, sehingga lebih viral,” sentil Sulaisi Abdurrazaq.

Dalam diskusi media tersebut, Rudi Hartono, salah satu wartawan yang menjadi korban pelecehan profesi wartawan yang dilakukan oleh oknum karyawan RSI Kalianget menyampaikan keluh kesahnya.

“Sebenarnya teman-teman wartawan yang ada di Sumenep harus lebih tidak terima, jauh lebih tersinggung dan sakit hati bila profesi wartawan dikatakan ‘BANCI DAN WARTAWAN NOL KECIL’ seperti yang terjadi di RSI Kalianget, tapi tidak dipersoalkan oleh teman-teman wartawan yang lain, apa karena yang mengatakan itu bukan wakil ketua DPRD?”, tanya Rudi dengan nada kesal. (nfl/yd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here