Berbaju kaos cakades pasongsongan nomer urut 4 Ahmad Saleh Harianto (Ian) bersama penulis limadetik.com Yant Kaiy

SUMENEP, limadetik.com — Kecerdasan otak seseorang tidak menjamin kalau ia akan menjadi lebih bijak ketimbang dengan orang yang biasa saja. Dalam menyelesaikan problema hidup tak jarang kita sering dihadapkan pada satu persoalan yang dilematis.

Solusinya ada yang minta petunjuk sama teman dekat atau kekasih. Bahkan ada pula yang minta arahan dari orang yang bijak atau orang alim. Beberapa tips mungkin jadi jalan keluar. Tapi seringkali pula tips itu bertolak belakang dengan hasrat kita sendiri. Apa pun problema hidup kita, pasti ada solusi terbaik.

Namun ketika kebencian menghinggapi naluri, semua solusi rasanya tidak akan bisa menetralisir keadaan. Kita akan terbawa ke lembah kebencian teramat kacau. Jantung akan lebih kencang berdegub. Mata menjadi kabur. Desir darah sepertinya menggelegak dalam dada. Kata-kata yang terlontar tak terkontrol lagi. Kalimatnya menjadi kasar bernada tinggi, mengiris hati bagi siapa saja yang mendengarnya.

Demikian narasi politik Cakades Pasongsongan yang berada di nomor urut 4, Ahmad Saleh Harianto (lebih akrab dipanggil Ian) ketika limadetik.com mengunjungi kediamannya di Dusun Lebak Kecamatan Pasongsongan, Selasa (5/11/2019).

“Dalam diri manusia terselip rasa kebencian itu. Ada yang kebenciannya meledak-ledak. Ada juga yang slow dan menukarnya dengan senyum penuh makna,” ujarnya ketika limadetik.com menanyakan tentang arti persaingan dalam Pilkades 2019 kali ini.

Dalam kompetisi apa pun pasti ada kalah-menang. Kompetisi yang sehat akan mendapat catatan bijak mengesankan. Sebagai manusia di dunia fana ini ia akan berwibawa dan dapat dipercaya.

“Kalaupun menang tapi lewat kecurangan, itu tidak akan terhormat. Maka saya dan tim sukses berusaha menciptakan suasana damai di Pasongsongan, tidak menebar kebencian kepada pihak lawan. Ketika kebencian itu ada pada diri kita, maka rival itu bagaikan neraka menakutkan.” tegasnya

Rival dalam kompetisi Pilkades bagi Ian sebenarnya adalah anugerah terindah. Justru dengan adanya rival dalam merebut suara masyarakat, ia mengedepankan sistem pendekatan dari hati ke hati. Pendekatan ini akan sukses kalau menganulir sifat kebencian.

“Jadi peminpin apa pun, kalau sifat kebencian yang dipakai, ia akan menjadi pemimpin yang dholim. Masalah yang satu belum selesai, pasti akan datang masalah lain yang lebih rumit,” papar Ian dengan diplomatis.

Ketika ditanya tentang kantong suara mana saja yang menjadi basis terbesar pendukungnya, “Feeling saya dan tim sukses, kantong suara saya rata di keenam dusun.” pungkasnya. (Yant Kaiy/yt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here