SIDOARJO, limadetik.com — Penutupan masa Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas NU Sidoarjo (Unusida) dihadiri Bupati Sidoarjo, Jawa Timur, Saiful Ilaj sekaligus menutup kegiatan tersebu, Kamis, (5/9/2019).

Dalam penutupan kegiatan ini Bupati Sidoarjo H. Saiful Ilah, SH, M.Hum mengatakan. “Kampus merupakan benteng untuk mencegah penyalahgunaan narkoba dan paham radikalisme sehingga saat mahasiswa lulus bisa langsung dapat bersaing dan bekerja di era industri 4.0.” kata Bupati Saiful Ilah.

ratusan peserta PKKBM Unusida pose bersama Bupati Saiful Ilah

Penutupan kegiatan ditandai dengan pelepasan Id Card peserta untuk digantikan dengan almamater Unusida.

Acara penutupan tersebut diramaikan oleh berbagai tampilan kesenian mahasiswa baru dan unit kegiatan mahasiswa (UKM). UKM tari dan pencak silat Pagar Nusa menarik perhatian peserta dan undangan karena menampilkan kreasi unik dan atraksi seni silat.

Selain itu, khusus hari ini semua yang hadir wajib memakai batik. Panggung tempat acara pun berubah menjadi panggung budaya.

Menurut ketua pelaksana PKKMB M. Ainur Rofiq, batik menjadi poin dan ikon yang ditampakkan di hari terakhir PKKMB. Pasalnya, Sidoarjo pernah menjadi pusat batik nasional di tahun 1800 an.

“Kita kasih tahu mahasiswa bahwa Sidoarjo pernah jadi salah satu pusat batik tertua di Indonesia,” ucap Rofiq.

Dulunya, lanjut Rofiq, Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, menjadi penghasil batik nusantara yang mencukupi kebutuhan nasional. Bahkan, batik tersebut diminati oleh orang Belanda sehingga tak sedikit produknya dikirim ke sana.

“Namun, keberadaan batik Kedungcangkring semakin sulit ditemui karena sebagian besar pengerajinnya tidak produksi lagi. Perkembangan zaman dan berubahnya trend fashion menuntut mereka harus kehilangan pasar karena batik harus bersaing dengan produk fashion lainnya, dari dalam maupun luar negeri” pungkasnya. (tnt/yd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here