Kamis, 17 Oktober 2019
Limadetik.com, Opini: Yant Kaiy

 

OPINI – Kegelisahan yang menyeruak dalam dada Kacong senantiasa menyiksa, walau tidak sampai memberangus segenap asa yang tersisa. Mungkin, masih belum separah pagi ini kegelisahan Kacong ketimbang kegelisahan yang sebelumnya. Kendati ia telah mencobanya, berdiri tegak menyingkap kabut gelisah itu, namun belum ia temukan resep jitu sebagai penjinak semuanya.

“Buat apa kau gelisah?” cecar Debur.

Kacong tak bergeming. Pandangannya lurus tak bergairah, meski sebentar lagi ia harus menyelesaikan tugasnya.

“Harapan masih terbentang, Cong,” Debur kembali mencoba membongkar bentuk kegelisahan yang menimpa pada sahabatnya itu.

Kedua lelaki berusia kepala empat lebih itu berprofesi kuli bangunan. Masing-masing sudah mempunyai anak. Kacong beranak dua. Debur memiliki tiga anak. Mereka harus membanting tulang untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

Meski mereka bekerja setiap hari, tapi pendapatan kerja mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya yang kian tinggi. Pulsa HP, token Listrik, gas LPG untuk memasak, bensin sepeda motor, sembako, jajan anak, biaya kuliah, melayat orang meninggal dunia, menjenguk orang sakit, menghadiri pesta pernikahan, sabun mandi, sampo, pasta gigi, dan sederet daftar belanja lainnya. Belum lagi bagi yang punya cicilan bulanan atau ada salah satu keluarganya yang sakit. Semua kebutuhan hidup tersebut tidak bisa tidak harus terpenuhi.

Sedangkan pendapatan Kacong hanya dari kerja kuli bangunan. Itu pun satu bulan tidak full bekerja karena ia harus menunggu panggilan apabila ada orang yang mau membangun atau merenovasi rumah.

Ilustrasi tenaga kerja di atas menggambarkan betapa berat perjuangan hidup di era milenial seperti sekarang ini. Mungkin yang dialami Kacong hampir sama dengan tenaga kerja lain yang ada di Kabupaten Sumenep. Balancing pendapatan dengan belanja hidup membuat semuanya menjadi kacau. Lebih besar pasak daripada tiang, lebih banyak pengeluaran ketimbang pemasukan. Begitulah realita hidup di sekitar kita.

Lapangan kerja yang tak mampu mengakomodir lulusan sarjana mejadi salah satu indikator ketimpangan. Hasil pertanian melimpah juga tak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan para petani.

Dari sektor perikanan tidak menjamin para nelayan bisa hidup tenang. Aturan atau perundangan yang dilegalkan masih belum mewakili aspirasi kaum jelata. Sedangkan pemangku kebijakan tak bisa berbuat apa-apa. Yang terlintas di benaknya tentang kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Ada sebuah peribahasa lucu: “Jangan tanya apa yang diberikan Negara kepadamu, tapi bertanyalah apa yang diberikan kamu terhadap bangsamu.” Lalu kalau kita sudah memberikan sebanyak-banyaknya terhadap bangsa, bisakah bangsa ini menjamin hidup kita tidak gelisah.  Salahkah anak-anak bangsa ini membangun bangsa lain di bidang tekhnologi karena di negerinya sendiri tak bisa menghargai karya mereka.

Peribahasa menyudutkan bagi kaum tertindas ini semakin menjauhkan impian tentang hidup yang indah. Kehidupan yang terbebas dari gelisah. Sementara elite politik sering menjadikan peribahasa ini sebagai senjata untuk melegalkan kebijakan yang tidak pro wong cilik.

Kegelisahan bertubi-tubi ini bukan rahasia lagi. Wakil rakyat yang sejatinya bisa melakukan aksi nyata menangkal kegelisahan ini justru tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya kata-kata yang terlontar; suara rakyat adalah suara Tuhan.

Kalau sudah begitu, semestinya dirinya menjadi malaikat, menjadi pelayan rakyat.  Bukan malah minta dilayani. Sebab selama ini wajah birokrasi kita seperti itu.

Birokrasi yang dibangun dari keringat rakyat lewat pajak dan pungutan lainnya. Padahal baju yang dikenakannya, makanan yang membuatnya ia perkasa, kendaraan dinas yang dipakainya adalah uang rakyat. Mereka kadang lupa itu semua. Mereka alpa akan jatidirinya. Sejatinya ia malu dan menyadari hakikat dirinya yang sesungguhnya.

Kegelisahan memang tidak akan lenyap dari sisi kehidupan manusia. Derita, bahagia, kecewa, bimbang, merana, terluka, sengsara, pahit, manis selalu mengiringi langkah kehidupan kita. Kita tumbuh dan besar dari itu semua.

Agama yang telah mengajarkan kita tentang ini. Agama yang mungkin bisa menjadi obor dalam ketidakpastian kehidupan berbangsa dan menjadi obyek penyeimbang dalam kegelisahan.

Semoga di Tahun 2019 ini kita nanti mendapatkan: Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Tapi bukan: Senang pun tak datang, malah mati kemudian.

Bravo Sumekar Sumenep!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here