https://limadetik.com/

NU dan Pluralisme Kita untuk Kemajuan Indonesia

NU dan Pluralisme Kita untuk Kemajuan Indonesia
FOTO: Acara Muktamar ke-34 NU di Lampung

OLEH: Faishl Ridho.
Aktivis HMI Komisariat STKIP PGRI Sumenep

_________________________________________

ARTIKEL – Organisasi sosial keagamaan yang menjadi sayap kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Keduanya memilki persamaan dan perbedaan, akan tetapi perbedaan tersebut tidak menjadi likuidasi semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Karena sama-sama berdedikasi dalam memperjuangkan keislaman dan keindonesiaan yang diintegrasikan menjadi satu kesatuan yang utuh agar tercipta kedamaian sekaligus kemajuan. Dan telah sepakat bahwa Pancasila dijadikan sebagai dasar berbangsa dan bernegara, sebab tidak ada pertentangan antara substansi Pancasila dengan nilai-nilai Keislaman.

limadetik branding

Beberapa hari yang lalu organisasi terbesar di dunia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) telah melaksanakan Muktamar Ke-34 di Lampung. Sebelumnya, dua kandidat terkuat, yaitu KH. Said
Aqil (yang telah mejabat selama dua periode sebagai Ketua umum PB NU dengan sederet prestasinya di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial dan budaya telah banyak membawa perubahan yang cukup signifikan di tubuh organisasi ini). Serta memberikan kontribusi yang jelas untuk kemajuan umat dan bangsa.

Dan yang kedua adalah, KH. Yahya Kholil yang sejak kecil tumbuh di lingkungan yang erat dengan organisasi Nahdltul Ulama. Ayah beliau adalah salah seorang tokoh NU yang disegani, yaitu KH. Kholil Bisri, sekaligus salah seorang pendiri Partai Kebangkitan Bangsa, dan juga keponakan Tokoh NU terkenal KH. Mustafa Bisri (Gus Mus), adiknya adalah Yaqut Kholil Khomas, yang saat ini sedang menjabat sebagi Menteri Agama RI. Beliau pernah mejabat sebagai aggota dewan pertimbangn presiden Joko Widodo dan menjadi Jubir Presiden RI yang ke-4, yaitu KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Keduanya memiliki kemampuan yang tidak dapat diragukan lagi, karena dalam hal wawasan kebangsaan sama-sama dipengaruhi oleh KH. Abdurahhman Wahid. Terpilihnya KH. Yahya Kholil Staquf yang akrab juga dipanggil Gus Yahya sebagai Ketua Umum PB NU pada muktamar tersebut, diharapkan mampu membawa organisasi besar ini semakin baik lagi seperti yang disampaikan oleh KH. Said Aqil Siradj.

Baca Juga :  Dampak Covid-19 Pada Neraca Perdagangan Indonesia April 2020

Sebab keduanya seperti yang telah disinggung di atas, sama-sama dipengaruhi oleh pemikiran Gus Dur dalam segi ilmul hal. Kemajuan NU akan sangat berimplikasi pada kemajuan negara Indonesia. Warga Nahdiyin di Indonesia berkisar 50% lebih atau 120 juta dari pernyataan Gus Dur. Berdasarkan survei yang sudah dilakukan oleh Alvara Research Center pada oktober 2018, dapat dilihat bahwa warga NU memiliki karakteristik tersendiri, seperti halnya Tahlilan dan perayaan Maulid Nabi yang mencapai persentase sekitar 80%.

Hasil riset yang dikeluarkan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada bulan Februari 2019, persentase mencapai angka 49,5% dengan melibatkan 1.200 responden, yang dilakukan melalui wawancara. Koordinasi dari organisasi ini beberapa tahun terakhir sampai hingga ke pelosok-pelosok desa, dengan memberikan instruksi sesuai dengan visi misi ketua umum PB NU agar masayarakat semakin produktif sesuai dengan tantangan dan kebutuhan zaman.

Maka jelas berdasarkan data-data tersebut, kemajuan NU akan sangat berpengaruh bagi kemajuan bangsa dan negara ini. Dalam upaya kulminasi terhadap akselerasi kemajuan islam, sebagaimana kejayaan islam terdahulu pada masa Dinasti Abbasyiah dan Dinasti Umayyah, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang mampu menjawab tantangan zaman, dengan memberikan dogma pada corak islam dengan tidak mempertentangkan keduanya. Disamping itu, organisasi NU juga menjadi instrumen untuk mengobarkan semangat keislaman dan nasionalisme di Indonesia, sebagaimana cita-cita pelopor dan pendiri organisasi ini ini, yaitu Hadratus syaikh KH. Hasyim Asy’ari atas restu Syaikhona Kholil Bangkalan.

Setelah tuntas membahas Pancasila dan Islam sebagai dua substansi yang berjalalan secara beriringan, maka tugas lain dari NU yakni mensosialisasikan plurasime di negara indonesia. Salah satu bentuk keragaman tersebut adalah dalam aspek keyakinan, sebab rasa toleransi sangat dibutuhkan dalam konteks tersebut, karena tidak mungkin memaksakan keyakinan terhadap orang lain. Pemaksaan terhadap agama tertentu, akan berimplikasi pada terjadinya konflik, yang berpotensi terhadap desintegrasi bangsa dan perilaku represif sebagaimana yang dipaparkan oleh Nurcholis Madjid dalam buku Indonesia Kita.

Baca Juga :  Erfandi Melawan, Pilkades Tertunda

Dalam buku tersebut, dia juga menjelaskan bahwa bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk menyatukan banyak perbedaan di bawah naungan Pancasila. Maka, manifesto wasathiyyah dalam dimensi akidah, syariat, tasawwuf dalam memahami kehidupan sosial, sebagai cita rasa bagi orgnaisasi NU dalam tradisi dan platformnya merupakan hal yang sangat signifikan. Jadi, NU tidak hanya berkisara pada internal organisasinya, melainkan juga mampu merangkul semua perbedaan sesuai dengan niali-nilai agama untuk memberi kedamaian bersama.

Banyak sekali persoalan di luar dari radikalisme yang kerap kali berujung pada perilaku represi, harus segera diatasi, karena Indonesia mayoritas penduduknya menganut agama islam dan hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi mayoritas warga nahdliyin untuk menepis persoalan terorisme yang disering dilabelkan terhadap agama islam, sehingga muncul doktrinasi bahwa muslim garis keras, yang berefek pada umat islam lainya. Paham Wahabisme yang bergejolak silih berganti dengan cara cara yang baru, mengancam para generasi selanjutnya, sebab pada realitanya selalu menjadi sasaran doktrin islam garis keras dan ini akan berakibat pada desintegrasi bangsa.

Perbedaan etnisitas, agama dan ideologi politik biasanya menjadi persoalan yang ekstrim, karena dapat berujung pada esksitensi gerakan sparatisme. Membuat garis-garis tersendiri yang berpotesnsi pada kesenjanga kaum minoritas. Memang memahami persoalan pluralisme dengan teks lebih mudah dibandingkan pengaplikasiannya, sebab dalam hal ini konversi pandangan kita bukan hanya diprioritaskan pada kepentingan kelompok, tetapi juga pada stigma-stigma buruk. Seperti halnya dalam agama yang bisanya dianggap pro non muslim, kafir, sesat dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Bencana Banjir Turunkan Tingkat Pelayanan Kepada Masyarakat

NU yang selalau memakai cara humanis dengan mengedepankan etika kemanusiaan akan memberikan gambaran tersendiri bahwa begitulah sisi kedamaian islamm nusantra ini. Tidak heran jika islam di Indonesia tidak seperti negara-negara lain yang mempertentangkan agama dan nasionlisme. Pada kepemimpinan KH. Said aqil siroj beliu telah mengenalkan nilai-nilai KE-NU-an pada dunia.

Selanjutya, pada prinsip bernegara melalui Pancasila dengan cita-cita keadilann sosial bagi seluruh rakyat indonesisa. Setelah Soekarno berhasil mengantarkan rakyat Indonesia pada pintu gerbang kemerdekaan, maka tugas bangsa ada mewujudkan cita-cita bangsa itu sendiri.

Pemerataan ekonomi sebagaoi salah satu infrastruktur pembagunan dari kesejahteraan. Seperti yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo bahwa NU memilki potensi yang besar untuk
menggerakkan warga nahdliyin dalam pemerataan ekonomi, sehingga tidak terlalu banyak ketimpangan yang yang seharusnya tidak terjadi ditanah subur ini. Dengungan menuju satu abad Indonesia atau dengan kata lain Indonesia emas sudah sering kita dengar dan para akademisi sudah banyak mendiskusikan momentum ini.

Indonesia dengan kekuatan dua sayap Nahadlatul Ulama dan Muhammadiyah tidak akan hanya terfokus pada sosial ibadah vertikal, tetapi secara horizontal akan membawa peradaban bagi bangsa ini, kita ambil contoh pembangunan SDM dengan mendirikan beberapa sekolah kejua]ruan NU, dan beberapa Universitas NU, Rumah Sakit NU, dan pemerataan ekonomi yang tersebar yang sudah didirikan oleh organisasi ini. Harapan bersama Organisasi Nahdltul Ulama semakin lagi bersama nakhoda baru untuk kapal besar ini. Bersama sama mebangun kemajuan sabagai jam’iyah merajut perbedaan, mrawat persatuan, menjaga islam dan menjaga NKRI.

Tinggalkan Balasan