https://limadetik.com/

PSBB di Sidoarjo Mulai Diberlakukan, Begini Pandangan Gus Muhdlor

  • Bagikan
IMG 20200422 WA0080
Gus Ahmad Muhdlor Ali, S.IP

SIDOARJO, Limadetik.com – Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) tentunya amat sangat berperanguh di semua sisi baik itu agama, budaya, sosial, ekonomi maupun lainnya. Hal ini tentu menganggu apalagi dalam hitungan hari bulan puasa. Dimana kegiatan sholat Tarawih dibatasi bahkan dilarang, termasuk untuk mudik dan bersilahturahmi. Biasanya apabila lebaran mudik, saat ini dilarang mudik.

Menurut Gus Ahmad Muhdlor Ali, S. IP putra dari K.H. Agus Ali Masyhuri yang akrab di panggil Gus Muhdlor memaparkan, dengan adanya PSBB atau pembatasan otomatis akan berdampak juga terhadap kegiatan keagamaan terutama yang menyangkut orang banyak, melibatkan orang banyak seperti sholat Tarawih dan sebagainya.

https://limadetik.com/

“Tapi inti yang perlu dicapai di sini adalah mari bersama kita maknai sebagai hal positif, mewujudkan Rahmadan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Alloh SWT sebagai pribadi yang lebih baik. Jadi urusan kita dengan Alloh secara pribadi sehingga bisa intropeksi diri lebih mendalam, kita maknai saja semua hal ini menjadi hal lebih positif dalam rangka peningkatkan diri, peningkatkan kualitas pribadi menjadi pribadi yang lebih bertakwa” kata Gus Muhdlor.

Dengan adanya pelarangan mudik yang dilakukan oleh pemerintah sadarnya pada ada kaidah Taatilah ulil amri. Ulil amri ini adalah pihak yang memiliki otoritas. Atau ulil amri itu siapa? Kalau dalam soal agama terutama agama Islam  adalah para ulama, khususnya para fuqaha (ahli fikih).

“Kalau dalam bidang kesehatan, para Ulil Amri atau orang yang punya otoritas adalah dokter dan pakar-pakar kesehatan. Para ulama sendiri tidak mungkin berfatwa menyangkut pelarangan tanpa lebih dulu tanya kepada para dokter dan ahli kesehatan. Mereka wajib ditaati. Kalaupun ada sebagian ulama yang berbeda, meskipun jumlahnya sangat sedikit, namun negara kita sudah mengikuti para ulama yang melarang” terangnya.

Dengan demikian, lanjut Gus Mihdlor, maka seluruh warga negara terikat dengan keputusan negara itu. Jadi, dengan negara kita ini mengambil pendapat yang melarang, berarti khilaf (perbedaan pendapat) sudah tidak ada atau bisa dibilang hukmul hakim yarfa’ul khilaf. Oleh karena itu, kita sebagai warga negara, kaum muslimin, yang sekaligus menjadi warga negara yang baik, harus taat kepada ulil amri-nya.

“Apalagi sliaturahmi bukan perkara yang wajib, tapi sunnah sehingga agama itu pasti akan memberikan, agama ini adalah agama yang utuh tidak ada pemaksaan sehingga hitungan silahturahmi ini bisa di tempuh dengan cara yang lain terutama dengan situasi yang seperti ini. Situasi masa kesusahan seperti ini sehingga silahturahmi tidak hanya dimaknai letter leg harus bertemu dan sebagainya” ungkapnya.

“Silahturahmi bisa ditempuh jalan lain terkait kondisi seperti ini maka saya anjurkan ikuti pemerintah hari ini sebaiknya jangan dulu. Memang kurang afdol apabila tidak bertemu tapi saya kira ini adalah jalan yang terbaik, semua harus memahaminya, memaknainya dengan baik dengan positif sehingga tidak ada kecurigaan” lanjutnya mengutarakan.

Dan pemerintah sebut Gus Muhdlor melanjutkan, saya yakin tidak memikirkan ini serta merta dengan seenaknya saja, semoga Rahmadan ini lebih baik, silahturahmi bisa di tempuh dengan jalan lain semuanya bisa tercapai, ketakwaan bisa di capai, tapi tidak juga menjadi buah simalakama atau menjadi suatu yang menimbulkan hal-hal negative dibelakangnya artinya tanpa silahturahmi secara langsung walaupun kurang afdol tidak apa-apa, yang penting esensi hati kita silahturahmi tetap tercapai.

“Terkait solat Terawih monggo secara pribadi menyikapinya secara bijak, memaknai dengan positif, jika ingin ada yang memaksakan monggo, yang jelas saya kira ini adalah hal yang terbaik, jika ada yang merasa ini prinsipil harus monggo, karena Terawih ini juga duko sunnah, di rumah juga ada anak, istri, saudara bisa dilakukan di rumah dengan dengan prosedurnya” paparnya lebih jauh.

Gus Muhdlor berpendapat soal sholat tarawih, jikalau ingin di Masjid tidak apa-apa yang penting diikuti SOP nya sehingga usaha kita, usaha pemerintah untuk menekan penyebaran covid 19 ini menjadi berhasil. Jadi pemerintah sebenarnya juga tidak mengharapkan seperti ini, ini namanya musibah.

“Tidak seorangpun yang ingin musibah ini. Yang terpenting kita bersama-sama komit untuk menghadang laju covid 19. Yang perlu dibedakan kumpul bersama, sholat bersama dilarang ini merupakan sarana saja, tujuannya ini adalah biar tidak menular. Mari bersama-sama sarana yang sudah di tempuh pemerintah untuk melarang ini dimaknai secara positif, mari bersama-sama tahan laju covid 19” pungkasnya. (tnt/yd)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan