Rabu, 16 Oktober 2019.

Limadetik.com, Oleh: Yant Kaiy

CERPEN – Di suatu pagi di pesisir pantai, seorang Nenek tua sedang menjajakan dagangan ikannya. Ia tampak sibuk melayani pembeli yang banyak. Dalam waktu sekejap ikan Nenek ludes terjual. Dua orang pemuda yang mengenakan baju koko dengan kopyah haji mendekatinya. Nenek yang sudah beres-beres hendak pulang itu terhenti sejenak.

“Mau beli ikan, Nak?”

Kedua pemuda ini tersenyum.

“Kalian kurang pagi. Ikannya sudah habis,” terang nenek tanpa basa-basi. “Silakan beli ke pedagang yang lain.”

“Saya penasaran sama sampeyan, Nek,” ujar salah seorang diantara mereka. “Yang lain ikannya masih ada, tapi ikan punya sampeyan telah habis duluan. Padahal harganya sama dengan yang lain.”

“Mungkin ini rejeki saya,” sahut Nenek yang rambutnya beruban.

Suatu ketika, di hari yang lain, kedua pemuda itu yang tak lain merupakan Ustadz datang hendak membeli ikan kepada Nenek tersebut. Kali ini ikan Nenek masih banyak. Sedangkan pedagang ikan yang lain sudah pada pulang.

“Mau beli ikan, Nak?” sambut Nenek dengan senyum.

“Kok masih banyak, Nek?”

“Entahlah. Sudah seminggu lebih dagangan Nenek tidak laku dan selalu dibawa pulang,” sahutnya datar tidak bernada penyesalan.

“Tapi seminggu yang lalu laris banget,” ujar salah seorang pemuda itu sembari mengeluarkan uang. “Sebelumnya gimana?”.

“Sama. Hanya ketika waktu itu yang paling laris.”

“Berarti lebih banyak ruginya, dong.”

“Tidak juga.  Saya menabung untuk akhirat.”

Kedua Ustadz itu terkejut demi mendengar pernyataan sang Nenek. Sebuah pernyataan yang sangat dalam. Mereka tidak percaya kalau kalimat itu bisa meluncur dari bibir perempuan yang berpenampilan sederhana dan terkesan kumuh tersebut.

“Berarti Nenek rajin bersedekah?” kejar Ustadz satunya yang sedari tadi tidak angkat bicara.

“Tidak,” pintas Nenek datar dan apa adanya.

Kedua Ustadz itu saling berpandangan. Menurut mereka ucapan Nenek itu membingungkan.

“Saya setiap pagi sehabis Shalat Subuh selalu memohon kepada Allah agar dagangan ikan saya laris, dan saya mendapatkan keuntungan uang yang banyak. Saya juga mengamalkan Shalawat pada Kanjeng Nabi Mohammad SAW. Kalaupun saya tidak mendapatkan keuntungan uang yang banyak, berarti Allah akan memberikan keuntungan itu di akhirat kelak,”  ujar Nenek polos tanpa terkesan menggurui.

“Amalan Shalawatnya gimana, Nek?”

“Shallallahu ala Muhammad,” ujar sang Nenek sembari melayani pembeli yang tiba-tiba banyak. Ia lalu sibuk membungkus ikan.

“Nah, itu dia. Shalawatnya kurang lengkap,” pintas sang Ustadz seraya membacakan Shalawat yang agak panjang.

Kemudian kedua Ustadz itu berlalu karena takut ketinggalan perahu yang akan membawanya ke sebuah pulau. Sampai di tengah laut, para penumpang perahu berteriak keheranan demi mengetahui seorang Nenek penjual ikan itu mengejarnya.

“Ustadz… Ustadz…”

“Ya, ada apa, Nek?” tanya kedua Ustadz takjub. Kedua Ustadz dan penumpang perahu itu memperhatikan kaki Nenek yang tidak tenggelam ke air laut.

“Saya lupa dengan Shalawat yang diajarkan sampeyan tadi.”

“Subhanallah. Teruskan amalan Shalawat Nenek itu. Panjenengan pulang sekarang!” pinta kedua Ustadz itu yang tetap tidak habis pikir demi melihat yang tidak masuk akal.

Akhirnya, Nenek tersebut pulang seperti layaknya berjalan di atas bumi. Semua orang di atas perahu mengelus-elus dada tegang bercampur khawatir memperhatikan perempuan renta melenggang menuju daratan.

Sanggar Adinda Pasongsongan,Sumenep.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here