https://limadetik.com/

Siapkan Generasi Masa Depan, Mathur Gelar Diskusi dengan Aktivis dan Pemuda

Siapkan Generasi Masa Depan, Mathur Gelar Diskusi dengan Aktivis dan Pemuda
FOTO: Mathur Husyairi saat diskusi bersama aktivis dan pemuda Bangkalan

BANGKALAN, Limadetik.com – Mathur Husyairi menggelar wawasan kebangsaan dengan tema Aktivis dan Pemuda ( Berperan atau Baperan) di Abell Cafe Telang Kamal Bangkalan. Minggu (19/12/2021).

Hal itu dilakukan untuk mempersiapkan generasi yang akan datang. Mengundang banyak aktivis dan organisasi mahasiswa di tingkat kecamatan di kabupaten Bangkalan.

limadetik branding

Dari jumlah komunitas atau organisasi kepemudaan itu, ada yang tetap eksis setelah dilantik, dalam artian bergerak memiliki gagasan dan ide. Tapi, tidak sedikit juga yang tak terdengar kabarnya setelah dilantik.

Disisi lain, ada aktivis yang sensitif seperti pantat bayi, kenapa demikian, karena kebanyakan Aktivis di Bangkalan Gampang baper, Dikit-dikit ramai di Facebook atau di medsos, gerakan nyatanya nol besar.

Stigma tersebut muncul dalam acara sosialisasi wawasan kebangsaan, dengan tema “aktivis pemuda (baperan atau berperan?)”.

Lahirnya tema tersebut, berangkat dari munculnya organisasi-organisasi kedaerahan, yang hingga saat ini masih dianggap begitu-begitu saja, alias masih jalan ditempat, tanpa memberikan perubahan apapun terhadap daerahnya masing-masing.

Baca Juga :  Gelar Halal Bihalal, Ketua DPRD ajak Anggota Legislatif Bangkalan Bekerja hingga DPR Terpilih Dilantik

Oleh sebab itu, Bustomi selaku peneliti Tim peneliti Departemen Indonesia RSIS NTU Singapore, dalam pemaparannya menyebutkan, bahwa pemuda yang tergabung dalam organisasi kepemudaan disetiap daerahnya itu, harus memiliki wawasan yang luas, agar bisa memunculkan gagasan atau ide yang cemerlang.

“Jadi, pola gerakan pemuda harus bisa memunculkan gagasan yang dapat diterima oleh pemangku kebijakan,” ujar Bustomi, dihadapan para Pimpinan OKP se Bangkalan, di Cafe Abell, Telang Bangkalan, Minggu (19/12/2021).

Selain itu, Bustomi juga menuturkan, bahwa pemuda juga harus mampu beradaptasi dengan lingkungan kekinian. Sebab, saat ini diakui atau tidak, semua serba teknologi yang harus dikuasai oleh setiap lapisan masyarakat, khususnya pemuda-pemuda yang masih aktif di organisasi.

“Pemuda juga harus dimulai dengan kata Baper. (Sensitif pada lingkungan sekitar). Tidak hanya berkumpul, kalau hanya berkumpul tukang becak pun bisa,” cetusnya.

Baca Juga :  OJK Luncurkan Tabungan Gaul IB di Sumenep

Yang paling penting Kata pria Kelahiran Mandung Kokop itu saat ini sudah waktunya mengevaluasi organisasinya, apakah sudah sesuai dengan aturan atau pakem yang sudah ada atau belum. Jika sudah sesuai, maka setelah itu bicara soal tugas dan fungsi organisasinya.

“Makanya, organisasi itu bukan hanya untuk berkumpul, melainkan harus ada rencana untuk memenuhi target yang di inginkan oleh organisasi,” pungkas dia.

Sementara itu, disampaikan juga oleh Mathur Husyairi, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, dia mengatakan bahwa dirinya sudah seringkali mengajak aktivis mahasiswa untuk menyampaikan ide atau gagasannya.

Bisa kata dia, aktivis mahasiswa menyapaikan ide atau gagasannya dalam bentuk usaha, atau pemberdayaan terhadap masyarakat disekitarnya.

“Jadi, kalian punya ide atau gagasan apa, kami yang siapkan programnya, tapi sayangnya, sampai saat ini belum ada apa-apa dari aktivis mahasiswa, padahal saya sudah sering menyampaikan itu di ruang publik, bahkan di medsos (Fb) saya,” tegas Mathur dihadapan para aktivis mahasiswa.

Baca Juga :  Penghujung Tahun 2017, Polres Situbondo Kandangkan Ranmor Protolan dan Knalpot Brong

Sekedar diketahui, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur akhir-akhir ini bisa dikatakan cenderung banyak aktivisnya, bahkan wadah aktivis kepemudaan di Bangkalan sangat terstruktur, mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten.

Secara keorganisasian, Kabupaten Bangkalan saat ini sudah tidak diragukan lagi, organisasi kemahasiswaan maupun kepemudaan sudah tersebar di setiap kecamatan di Bangkalan.

Jika dilihat dari banyaknya organisasi kepemudaan di Bangkalan, tentunya sumber daya manusia (SDM) nya, bisa dikatakan sudah mumpuni.

Akan tetapi kenyataannya, Kabupaten dengan julukan kota dzikir dan sholawat itu, sampai saat ini masih menjadi daerah tertinggal nomor 2 dari bawah di Provinsi Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan