UA-110482044-1, G-W7VVX1GT8W

Sumenep, Korupsi dan Islam Sontoloyo

Sumenep, Korupsi dan Islam Sontoloyo
FOTO: Sulaisi Abdurrazaq

Oleh: Sulaisi Abdurrazaq
_________________________

HARI Jadi Sumenep ke-753 tanggal 31 Oktober 2022 menyisakan “sesak nafas”.

Penyebabnya: tindakan pengurus takmir Masjid Jamik Sumenep dan remaja masjid yang secara heroik dan sekonyong-konyong membubarkan Road Race Bupati Cup pada Ahad (30/10/2022).

Peristiwa ini menarik dan viral, paling tidak karena beberapa hal:

Pertama, dilakukan oleh pengurus ta’mir masjid Jamik dan remaja mesjid.

Kedua, dilakukan tidak dengan cara Islami, melainkan dengan cara vandal: menuangkan bensin di lokasi road race dan mau dibakar jika tidak berhenti, diikuti pekikan Allahu Akbar.

Landasannya, kitab fiqh: kesombongan di lawan dengan kesombongan.

Akhirnya, road race dipaksa berhenti, meski legal dan atas izin pemerintah.

Alasan pemaksa: tidak berhenti menjelang shalat dzuhur. Atau dalam makna lain, tidak menghormati waktu shalat dzuhur.

Ketiga, secara dramatis, pada dimensi berbeda, dengan nada penuh emosi, ta’mir masjid menyatakan, anggaran road race 1,1 M dari APBD, uang rakyat untuk hura-hura.

Yang harus diberi atensi adalah pernyataan-pernyataan berikutnya, yaitu:

“…Kalau bicara Pemda itu, masjid jami’ icon, icon, icon. Saya mau tanya, apakah pernah membantu cat satu gelas ini? Tidak ada. Cuma mesjid jami’ dibuat topeng mencari dana…”

“…Katanya masjid jami masuk cagar budaya. Cagar budaya yang bagaimana. Mana SK nya. Kita tidak pernah mengajukan cagar budaya. Kemana larinya anggaran cagar budaya?..”

“…Bukan sedikit, saya dapat tembusan dari Jakarta itu. M M-an angaran perawatan masjid Jamik itu. Tapi masjid Jamik satu senpun dak terima. Silahkanlah orang, Pemerintah Daerah korupsi korupsi, tapi masjid Jamik tolong jangan dikorupsi.”

Melihat kenyataan itu, Sumenep nampak surplus dinamika, tapi defisit dialektika.

Baca Juga :   Menyiarkan Pancasila di Media Penyiaran

Peristiwa itu adalah cermin, bahwa Sumenep miskin dialog. Soal anggaran perawatan masjid, harus diorasikan dengan emosional dan dengan aksi sumir karena bercampur dengan urusan shalat.

Memaksa muslim lainnya menghormati waktu shalat dzuhur dengan menyiram bensin. Wajah agama menjadi seram.

Saya jadi ingat buku Muslim Tanpa Masjid karya Kuntowijoyo. Semestinya, sebelum bertindak, takmir masjid menyadari bahwa tempat lahir penonton atau penikmat road race, pedagang, dan pesertanya berasal dari berbagai daerah berbeda, sehingga sikap dan tata cara ber-Islamnya bisa jadi berbeda pula.

Banyak generasi Islam yang tidak dibesarkan dengan nuansa masjid, bahkan terasing dari umat. Tapi mereka muslim.

Banyak generasi umat muslim yang bahkan belajar Islam secara terbatas, pengetahuan agama tidak diperoleh dari Pesantren, masjid, madrasah, dan sejenisnya.

Generasi baru muslim banyak juga yang belajar Islam dari internet, YouTube, radio, televisi, dan lain-lain.

Tugas kita semestinya, berdakwah dengan penuh sikap bijaksana (bilhikmah) dan dengan kalimat-kalimat yang lembut (mau’idzah hasanah), yang dapat dijadikan pedoman dalam menapaki hidup, agar mereka tertarik ke masjid dan selamat dunia-akhirat.

Jangan sampai menilai mereka yang tidak menghormati waktu shalat dzuhur lebih rendah derajat ke-Islamannya, apalagi menganggapnya bukan muslim.

Menarik minat generasi Muslim Tanpa Masjid agar lebih dekat dengan masjid termasuk tugas pengurus masjid dan tugas kita bersama. Jangan biarkan mereka semakin sengsara karena krisis identitas, menghindari masjid karena wajah pengurus masjid garang. Zaman ini sudah berubah, kita harus lebih bijaksana.

Baca Juga :   Menggugat Polri Presisi (Part-1)

Saya rasa, tanpa harus menyiram bensin dan tanpa ancaman kekerasan akan membakar sudah cukup menegur panitia dan menghentikan sementara kegiatan road race. Ajak mereka ke masjid. Jangan memaksa dihentikan sepenuhnya, karena tindakan itu merugikan. Perbuatan yang merugikan pihak lain jelas bertentangan dengan ajaran agama. Apalagi kegiatan tersebut legal dan ta’mir masjid bukan pihak berwenang untuk menghentikan. Tidak proporsional. Kurang elok.

Karena itulah, saya nilai Sumenep defisit dialektika dan miskin dialog.

Padahal, para pendahulu kita telah memberi contoh. Jika berbeda pendapat, sampaikan pendapatnya, tapi jangan dipaksakan.

Bung Karno, pernah menyempatkan diri mengkritik situasi yang mirip peristiwa ini. Judulnya: Islam Sontoloyo.

Soekarno mengkritik seorang “sayid” yang pengetahuannya mati hidup dengan kitab-fiqh, bukan Kalam Ilahi sendiri. Sehingga menurut Bung Karno, Al-Qur’an dan Api Islam seakan-akan mati, tenggelam di alam kitab-fiqh. Tidak terbang seperti burung Garuda di atas udara-udaranya Levend Geloof, yakni udara-udaranya Agama Yang Hidup.

Karena tindakan ta’mir masjid menjadikan kitab fiqh sebagai landasan gerakannya, dan bukan Al-Qur’an yang mengajarkan hikmah dan mau’idzah hasanah. Maka, sah-sah saja kita mengajukan pertanyaan: jangan-jangan ini yang dimaksud Bung Karno dengan Islam Sontoloyo.

Pada bagian akhir tulisannya itu Bung Karno akhirnya berpesan:

“janganlah kita kira diri kita sudah mukmin tetapi hendaklah kita insyaf, bahwa banyak di kalangan kita yang Islamnya masih Islam sontoloyo!”

Jangan lupa, tulisan Bung Karno itu secara dialektis dan penuh polemik tahun 1934-1940 ditanggapi secara serius oleh Mohammad Natsir melalui tulisannya,
“Islam dan Akal Merdeka, Kritik atas Pemikiran Soekarno tentang “Islam Sontoloyo” dan Seputar Pembaruan Pemikiran Islam.”

Tak ada kekerasan. Dialektika dan dialog berlangsung secara serius, keras tanpa kekerasan. Dua tokoh itu tetap baik, saling menghormati, meski berbeda cara pandang.

Baca Juga :   Fenomena 'Apatisasi Organisasi' Mahasiswa

Kembali pada peristiwa penghentian paksa road race. Saya justru mencurigai motif yang melatarbelakangi tindakan salah satu pengurus ta’mir dan remaja masjid Jamik Sumenep bukan semata-semata karena panitia road race tidak menghormati waktu shalat dzuhur. Bisa saja langkah itu dilakukan karena ta’mir masjid jamik tidak diajak bicara sebelum kegiatan itu dilaksanakan.

Selain itu, dapat saja karena curiga Pemda korupsi anggaran perawatan masjid jamik sebagai cagar budaya.

Apalagi, Pemerintah Daerah dinilai tidak memberi kontribusi untuk perawatan masjid Jami dan hanya menjadikannya sebagai icon.

Akhirnya, tujuan baik ta’mir dan remaja masjid Jamik Sumenep menuai kontroversi, karena dilakukan dengan cara yang tidak Islami.

Menurut saya, tiga motif di atas seolah-olah memberi sinyal, agar Pemerintah Daerah sensitif dan responsif. Berilah mereka atensi.

Ro’yuna showab wayahtamilul khoto’, wa ro’yu ghairina khoto’ wayahtamiluasshowab
_______________________________
Catatan: Seluruh isi dan diksi dalam artikel ini, adalah tanggungjawab penulis

Tinggalkan Balasan