Surat Kiai Sepuh Ternyata Ampuh

Hafid Yusik Santri Situbondo

OPINI, Limadetik.com – Membaca tulisan Choirul Anam (Duta.co) dengan tema “Kiai Sepuh Vs Kiai Kampung” Saya kira kurang elok kedengarannya, Konotasinya juga sarat dengan upaya untuk membenturkan para kiai pondok pesantren dengan para kiai di desa-desa. apalagi dengan kata “Versus” Kayak pertandingan saja.
Istilah semacam ini, kiai Sepuh dan kiai kampung juga pernah nge-trend dan populer ketika terjadi konflik politik antara Almarhum Gusdur dangan Kiai Forum Langitan. Bahkan Almarhum KH. Abdullah Faqih sempat risih dengan istilah ini.
Terkait Surat 21 Kiai ke DPW PKB yang dianggap aneh dan kebalik oleh Cak Anam dan bahkan mustahil jika kiai yg melihatnya dengan matahati ( Bashirah ) sampai mengirim surat dan minta dilibatkan persoalan Pilgub. saya kira tidaklah kebalik dan memalukan, Karena dalam surat itu berisi himbauan kepada DPW PKB Jatim. Di dalam surat itu dengan jelas dan gamblang argumentasi yang dipaparkan 21 Kiai. Diantaranya kebersamaan dan kekompakan dalam perjuangan serta tidak menginginkan perpecahan di lingkungan NU.
Mungkin menurut Cak Anam, yang aneh dan tak lazim tentang pengiriman surat itu ialah ketika kiai sepuh minta dilibatkan (berharap dijadikan rujukan) dalam proses penentuan figur Cagub. Semestinya, Pengurus DPW PKB Jatim yang datang sowan ke kiai sepuh untuk minta masukan dan pertimbagan dalam menentukan Cagub di Pilkada Tahun 2018. Tapi saya kira hal itu juga tidak mengapa, sekali- kali jemput bola tidak menunggu bola itupun dikarenakan kiai punya tanggungjawab pada masyarakat yang seringkali dijadikan referensi atau rujukan dalam segala hal termasuk Pilgub dll.
Pertanyaan selanjutnya apakah tindakan kiai sepuh dengan mengirim surat ke DPW PKB Jatim sebagai bentuk intervensi ? Tidak, Mari kita lihat sejarah, bahwa PKB tidak bisa dipisahkan dari NU, karena yang melahirkan PKB adalah kiai-kiai sepuh NU sebagai deklaratornya. Memang,secara Organisatoris NU tetap netral sesuai khitthah. Tapi hal demikian wajar dilakukan bukan tidak wajar, karena ini bentuk kepedulian kiai Sepuh pada PKB sebagai partainya Mayoritas orang NU.
Bagi PKB sebenarnya ini adalah sebuah kebanggaan atas pedulinya 21 Kiai Sepuh dan sudah seharusnya PKB kedepan terus melibatkan dan minta pertimbangan dalam menentukan sebuah keputusan dan kebijakan
kalau partai ini tidak ingin ditinggal oleh Para Kiai.
Gayung bersambut. Ternyata PKB betul memperhatikan dan mengapresiasi seruan kiai sepuh. dengan cepat ketua DPP PKB, Cak Imin menggelar pertemuan di PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo dan Pesantren Lirboyo Kediri.
Bagi Ketua DPW PKB Jatim. cak Halim Iskandar surat yang ditujukan padanya itu sudah tepat Karena kiai merupakan fondasi utama dari institusi (jam’iyah) NU. Bahkan, bagi PKB, kiai bukan hanya imam spiritual dan simbol kultural bagi umat, tetapi sosok orang tua yang harus dihormati dan ditaati, Sami’na wa atho’na apapun keputusan para kiai sepuh, dengan tulus Gus Halim mengapresiasi hal tersebut sebagai ikhtiar orang tua membimbing anaknya.
Berikut isi surat yang ditujukan pada Abdul Halim Iskandar :
Kepada yth
Sdr Abdul Halim Iskandar
Ketua DPW PKB Jatim
Di Tempat
Assalamu alaikum wr wb
Dengan berharap ridla dari Allah SWT, setelah melalui musyawarah kami para kiai dan pengasuh Ponpes yang bertanda tangan di bawah ini, ingin menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Belajar dari pengalaman Pemilukada serentak beberapa tahun terakhir ini, diperlukan kebersamaan dan kekompakan demi kemaslahatan ummat. Para pendiri NU bisa begitu kuat dalam menghadapi cobaan dan tantangan di masa lalu karena kekompakan dan kebersamaan itu. Selain karena ikhtiar, ilmu, dan doa sebagai senjata utama.
2. Mengikuti tradisi para pendiri NU, kiai dan pengasuh ponpes selalu menjadi rujukan utama dalam proses pengambilan keputusan organisasi maupun politik. Setidaknya dilibatkan dalam7 musyawarah dalam pengambilan keputusan tersebut sehingga betul-betul membawa aspirasi NU maupun masyarakat luas.
3. Keterlibatan para kiai tersebut sangat penting untuk menjaga keutuhan NU, khususnya terkait dengan pemilukada Jatim mendatang. Para kiai dan pengasuh pondok pesantren tidak ingin pengalaman pemilukada yang lalu terulang karena tidak adanya kekompakan dan kebersamaan dalam perjuangan politik, saling ingin menang sendiri, sehingga mengakibatkan perpecahan di lingkungan NU yang butuh waktu panjang untuk menyatukannya kembali.
4. Sebagai tempat kelahiran NU dan basis utama Nahdliyin, saatnya Jawa Timur memberikan contoh kepada daerah lain tentang kebersamaan, kekompakan, dan keutuhan dalam setiap perjuangan. Semua itu demi kesejahteraan warga Nahdliyin dan warga masyarakat pada umumnya.
5. Sebagai partai yang didirikan para kiai dan NU, kami berharap PKB bersedia menjelaskan rencana pencalonan gubernur Jatim yang akan berlaga dalam pilgub 2018. Sungguh kami akan sangat bersyukur bila PKB bersedia menjadikan para kiai dan pengasuh pondok pesantren sebagai rujukan utama dalam menentukan figur calon gubernur yang akan diusung bersama.
6. Demikian atas perhatiannya, kami ucapkan banyak terima kasih.
Surabaya, 19 Mei 2017
Yang bertanda tangan :
1. KH ZAINUDDIN JAZULI (PP Al Falah Ploso Mojo Kediri)
2. KH ANWAR MANSYUR (PP Lirboyo Kediri)
3. KH NURUL HUDA JAZULI (PP Ploso Mojo Kediri)
4. KH MIFTAHUL AKHYAR (PP Miftahussunnah Surabaya)
5. KH NAWAWI ABDUL DJALIL (PP Sidogiri Pasuruan)
6. KH AGUS ALI MASYHURI (PP Bumi Sholawat Lebo Sidoarjo)
7. KH ANWAR ISKANDAR (PP Al Amien Ngasinan Kediri)
8. KH MUTAWAKKIL ALALLAH (PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo)
9. KH FUAD NUR HASAN (PP Sidogiri Pasuruan)
10. KH FUAD JAZULI (PP Ploso Mojo Kediri)
11. KH KHOLIL AS’AD SYAMSUL ARIFIN (PP Walisongo Situbondo)
12. KH IDRIS HAMID (PP Salafiyah Syafiiyah Pasuruan)
13. KH ABDULLAH KAFABIHI MAKHRUS (PP Lirboyo Kediri)
14. KH UBAIDILLAH FAQIH (PP Langitan Lamongan)
15. KH SYAFIUDIN WAHID (PP Darul Ulum Garsempal Sampang)
16. KH JA’FAR YUSUF (PP Darul Ulum Garsempal Sampang)
17. KH MAKHRUS (PP Al Ihsan Jrengoan Sampang)
18. KH NURUDDIN ABDURRAHMAN (PP Al Hikam Bangkalan)
19. KH MUDDASIR BADRUDDIN (Pamekasan)
20. KH MUJIB IMRON (PP Al Yasini Areng-areng Pasuruan)
21. KH FAKHRI ASCHAL (PP Saychona Cholil Bangkalan).


Penulis : Hafid Yusik
Editor    : Rudy 

LEAVE A REPLY