Penulis Asal Sumenep Muhammad Nafis Launching Buku Membaca Ulang Keluarga Maslahah

- Redaksi

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Buku karya Moh. Nafis, asli putra Sumenep

Buku karya Moh. Nafis, asli putra Sumenep

Penulis Asal Sumenep Muhammad Nafis Launching Buku Membaca Ulang Keluarga Maslahah

LIMADETIK.COM, MALANG – Penulis asal Sumenep, Muhammad Nafis, S.H., M.H., menghadirkan buku terbarunya berjudul Membaca Ulang Keluarga Maslahah. Buku ini mengajak pembaca melihat kembali makna keluarga maslahah di tengah perubahan kehidupan keluarga yang semakin kompleks.

Muhammad Nafis yang juga merupakan Dosen Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Islam Malang (Unisma) menempatkan persoalan keluarga sebagai isu yang tidak hanya berkaitan dengan keutuhan rumah tangga, tetapi juga kualitas relasi di dalamnya.

Melalui buku tersebut, Nafis mengajukan pertanyaan mendasar: apakah keluarga yang tetap utuh secara struktural otomatis dapat disebut sebagai keluarga yang maslahah?

“Pertanyaan itu penting karena persoalan keluarga hari ini tidak selalu tampak dalam bentuk pertengkaran terbuka maupun perceraian. Sebuah keluarga dapat terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi di dalamnya terdapat jarak emosional, komunikasi yang melemah, hingga hilangnya rasa aman di antara pasangan maupun anggota keluarga” katanya kepada media, Selasa (28/7/2026).

Nafis melihat bahwa perubahan wajah keluarga membuat konsep keluarga maslahah perlu dibaca kembali. Keluarga tidak cukup dipahami hanya dari keberlangsungan perkawinan, terpenuhinya kewajiban formal, atau tidak adanya konflik yang terlihat. Kualitas relasi, komunikasi, rasa aman, dan kemampuan anggota keluarga untuk saling memahami juga menjadi bagian penting dari kemaslahatan.

“Salah satu persoalan yang dibahas dalam buku ini adalah “bocornya emosi”. Istilah tersebut menggambarkan keadaan ketika kebutuhan emosional yang semestinya mendapatkan ruang dalam relasi suami-istri justru mencari tempat di luar hubungan pernikahan” ujarnya.

Fenomena ini dapat terjadi ketika pasangan tidak lagi menjadi tempat pertama untuk berbagi cerita, mendapatkan dukungan, atau memperoleh rasa dipahami. Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat lebih nyaman mencurahkan persoalan kepada orang lain, termasuk melalui ruang digital dan media sosial.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa krisis keluarga tidak selalu berawal dari konflik besar. Terkadang, keretakan justru tumbuh dari hal-hal kecil yang berlangsung terus-menerus: percakapan yang semakin jarang, perhatian yang berkurang, perasaan yang tidak tersampaikan, hingga kehidupan bersama yang hanya menyisakan rutinitas.

“Dalam kondisi demikian, keluarga dapat tetap bertahan secara administratif, tetapi kehilangan fungsi pentingnya sebagai ruang aman emosional” tandasnya.

Karena itu, buku Membaca Ulang Keluarga Maslahah juga membawa pertanyaan: “Maslahah untuk siapa?”

Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika kemaslahatan keluarga sering dibicarakan sebagai konsep bersama, tetapi pengalaman setiap anggota keluarga tidak selalu sama. Suami, istri, dan anak dapat memiliki kebutuhan, beban, dan pengalaman emosional yang berbeda.

Bagi Nafis, keluarga maslahah tidak semestinya dipahami sebagai keluarga yang sempurna dan bebas dari konflik. Kemaslahatan lebih tepat dilihat sebagai proses yang terus diupayakan melalui komunikasi, penghormatan, pembagian peran, kemampuan menyelesaikan konflik, dan kesediaan untuk memperbaiki hubungan.

“Dengan perspektif tersebut, keluarga tidak hanya dilihat sebagai institusi yang harus dipertahankan keutuhannya, tetapi sebagai ruang relasi yang harus terus dirawat” ujarnya.

Buku ini sekaligus menjadi refleksi bagi keluarga di tengah perubahan zaman. Kehadiran teknologi digital, perubahan pola komunikasi, tuntutan pekerjaan, serta meningkatnya kompleksitas kehidupan sosial membuat keluarga membutuhkan kemampuan baru untuk menjaga kedekatan.

Nafis mengajak pembaca untuk tidak hanya bertanya apakah sebuah keluarga masih bertahan, tetapi juga apakah anggota keluarga di dalamnya masih merasa didengar, dihargai, aman, dan memiliki tempat untuk pulang.

“Pada akhirnya, Membaca Ulang Keluarga Maslahah menawarkan satu gagasan penting: keluarga yang baik bukanlah keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan keluarga yang memiliki kemauan untuk terus memperbaiki hubungan ketika masalah datang” pungkasnya.

Melalui buku tersebut, penulis asal Sumenep ini berharap pembicaraan tentang keluarga maslahah tidak berhenti pada konsep normatif, tetapi dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari dan benar-benar dirasakan oleh seluruh anggota keluarga.

Facebook Comments Box

Penulis : Dzunnur

Editor : Wahyu

Follow WhatsApp Channel limadetik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:04 WIB

Penulis Asal Sumenep Muhammad Nafis Launching Buku Membaca Ulang Keluarga Maslahah

Berita Terbaru