IWPG Dorong Pendidikan Perdamaian Perempuan Jadi Strategi Global Cegah Kejahatan Transnasional

- Penulis

Rabu, 4 November 2026 - 10:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lara Schmidt, Manajer Cabang IWPG Frankfurt, sedang menyampaikan presentasi dalam sidang pleno Konferensi Para Pihak ke-13 Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Kejahatan Terorganisir Lintas Batas (UNTOC COP13) yang diselenggarakan pada tanggal 22.

Lara Schmidt, Manajer Cabang IWPG Frankfurt, sedang menyampaikan presentasi dalam sidang pleno Konferensi Para Pihak ke-13 Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Kejahatan Terorganisir Lintas Batas (UNTOC COP13) yang diselenggarakan pada tanggal 22.

IWPG Dorong Pendidikan Perdamaian Perempuan Jadi Strategi Global Cegah Kejahatan Transnasional

LIMADETIK.COM, AUSTRIA – Upaya memberantas kejahatan terorganisasi lintas negara tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum. Pemberdayaan perempuan dan pendidikan perdamaian di tingkat komunitas dinilai menjadi kunci penting untuk mencegah kejahatan sejak dari akar persoalan.

Gagasan tersebut disuarakan International Women’s Peace Group (IWPG) yang dipimpin Ketua Jeon Nayeong dalam Konferensi Para Pihak ke-13 Konvensi PBB tentang Pemberantasan Kejahatan Terorganisasi Transnasional (UNTOC COP13) di Vienna International Center (VIC), Austria, pada 19–23 Oktober 2026.

Dalam konferensi internasional yang diselenggarakan Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) tersebut, IWPG tidak hanya menyampaikan pernyataan resmi di sidang pleno, tetapi juga menggelar acara sampingan bersama Misi Tetap Kirgistan untuk PBB di Wina.

Dalam sesi kerja sama internasional pada 22 Oktober, IWPG mendapat kesempatan menyampaikan pandangan masyarakat sipil. Organisasi tersebut menegaskan bahwa pemberantasan kejahatan transnasional harus melampaui kerja sama yudisial dan penindakan hukum antarnegara.

Lara Schmitt, Manajer Cabang IWPG Frankfurt, dalam pernyataannya menekankan dua hal yang harus berjalan beriringan dengan penegakan hukum, yakni perlindungan korban serta investasi pada pencegahan dan pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, kerja sama internasional tidak boleh berhenti pada penghukuman pelaku. Negara-negara juga harus memastikan korban mendapatkan perlindungan, pemulihan, serta pengembalian hak dan martabatnya.

Di sisi lain, ketahanan masyarakat perlu diperkuat agar kejahatan transnasional dapat dicegah sejak akar permasalahannya.

Lara mencontohkan program pendidikan perdamaian IWPG melalui Peace Lecturer Training and Education (PLTE). Program tersebut telah menjangkau 3.376 peserta dari 67 negara.

Melalui program itu, IWPG mendorong perempuan di tingkat lokal menjadi agen perubahan sekaligus penggerak pembangunan perdamaian di komunitas masing-masing.

Satukan Agenda Perempuan dan Pemberantasan Kejahatan

Komitmen tersebut kembali diperkuat dalam acara sampingan resmi pada 23 Oktober bertajuk “Peace as Prevention: Women, Vulnerable Regions, and Transnational Organized Crime” atau Perdamaian sebagai Upaya Pencegahan: Perempuan, Wilayah Rentan, dan Kejahatan Terorganisasi Transnasional.

Kegiatan yang diselenggarakan bersama Misi Tetap Kirgistan untuk PBB di Wina itu menghasilkan pandangan bersama bahwa Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1325 tentang Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan perlu diintegrasikan dengan UNTOC dalam satu kerangka kerja yang saling melengkapi.

Evelina Henriksson, Manajer Cabang IWPG Wina, yang menyampaikan pidato utama, menegaskan bahwa pencegahan kejahatan lintas negara harus dimulai jauh sebelum tindak kejahatan terjadi.

“Pencegahan kejahatan transnasional dimulai jauh sebelum insiden terjadi, melalui pendidikan perdamaian di komunitas lokal dan dukungan terhadap pemberdayaan perempuan,” ujarnya.

Ia juga memaparkan hasil Forum Perdamaian Perempuan Global 2026 yang digelar pada Juli lalu dan diikuti sekitar 1.000 peserta dari 46 negara.

Sejumlah praktik baik turut disampaikan, mulai dari pelatihan pendidik perdamaian di universitas-universitas Meksiko hingga inisiatif solidaritas untuk mendukung kelompok rentan di Brasil.

IWPG Dorong Pendidikan Perdamaian Perempuan Jadi Strategi Global Cegah Kejahatan Transnasional
Para peserta acara sampingan berpose untuk foto kenang-kenangan.

Evelina menegaskan, perempuan tidak seharusnya hanya dipandang sebagai kelompok yang rentan menjadi korban kejahatan. Mereka juga memiliki kapasitas menjadi aktor utama dalam mencegah perdagangan manusia dan infiltrasi organisasi kriminal.

“Perempuan bukanlah korban pasif, melainkan agen aktif dalam pencegahan kejahatan secara proaktif,” tegasnya.

Ia menambahkan, pendidikan perdamaian yang dipimpin perempuan serta penguatan kepemimpinan perempuan dapat membantu mengatasi akar persoalan perdagangan manusia dan kejahatan terorganisasi.

Pandangan serupa disampaikan Duta Besar Kirgistan Nurzhan Shaildabekova selaku salah satu tuan rumah kegiatan. Ia menilai, pemimpin perempuan dan organisasi masyarakat sipil di tingkat akar rumput memiliki posisi strategis karena menjadi pihak yang pertama kali menjangkau keluarga dan masyarakat dalam situasi krisis.

“Penegakan hukum yang dipimpin negara saja tidak dapat mencegah kejahatan terorganisasi,” ujarnya.

Ia kemudian memaparkan pengalaman Kirgistan dalam membangun komite perdamaian perempuan di sekitar 20 wilayah serta menjalankan kampanye pencegahan perdagangan manusia.

Menurutnya, pendidikan perdamaian yang dipimpin perempuan bukan sekadar pelengkap dalam strategi pencegahan kejahatan, melainkan salah satu instrumen paling efektif untuk memperkuat perlindungan masyarakat.

Sementara itu, Jana Merunková, Direktur organisasi nirlaba asal Republik Ceko, Your Chance (yourchance o.p.s.), memaparkan studi kasus mengenai pendidikan literasi keuangan bagi perempuan rentan. Program tersebut dinilai efektif mengurangi risiko perempuan terjerat atau menjadi korban kejahatan.

Perluas Kolaborasi Internasional

IWPG menilai keikutsertaan dalam UNTOC COP13 menjadi momentum penting untuk memperkuat pengakuan internasional terhadap kontribusi perempuan dalam pencegahan kejahatan lintas negara.

Seorang pejabat IWPG menyatakan, kesempatan menyampaikan gagasan dalam sidang pleno dan acara sampingan di lingkungan UNODC Wina menjadi langkah strategis untuk membawa perspektif perempuan ke dalam pembahasan kebijakan global.

Ke depan, IWPG berencana memperkuat kerja sama dengan Misi Kirgistan, Civil Society Unit (CSU) UNODC, serta organisasi masyarakat sipil dari berbagai negara.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih efektif dan pernyataan bersama terkait peran perempuan dalam membangun perdamaian serta mencegah kejahatan transnasional.

IWPG juga menargetkan perluasan kiprah di sejumlah forum internasional, termasuk Komisi PBB tentang Status Perempuan (UN CSW) di New York, Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, serta Konferensi Internasional Uni Afrika (AU) tentang Pendidikan bagi Perempuan dan Anak Perempuan (PANCOGEd).

Melalui berbagai forum tersebut, IWPG ingin memastikan suara perempuan di tingkat akar rumput tidak hanya didengar, tetapi juga menjadi bagian dari arah kebijakan internasional dalam menciptakan perdamaian dan melindungi masyarakat dari ancaman kejahatan terorganisasi lintas negara.

Facebook Comments Box

Penulis : Juli

Editor : Wahyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel limadetik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 10:03 WIB

IWPG Dorong Pendidikan Perdamaian Perempuan Jadi Strategi Global Cegah Kejahatan Transnasional

Berita Terbaru