Agama sebagai Shock Absorber Sosiopolitik di Tengah Kecemasan Kolektif

- Redaksi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 16:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Moh Hamdan Rois

Moh Hamdan Rois

Agama sebagai Shock Absorber Sosiopolitik di Tengah Kecemasan Kolektif

Oleh: Moh Hamdan Rois, S.Pd.
Praktisi Pendidikan

__________________________________

ARTIKEL – Krisis dan konflik global biasanya meninggalkan jejak psikologis di masyarakat secara luas. Misalnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah tidak hanya memengaruhi negara-negara yang terlibat secara langsung, tetapi juga menciptakan kecemasan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Di tengah kondisi seperti ini, agama sering kali berperan sebagai penyangga sosial yang bisa meredakan kecemasan publik serta menjaga persatuan sosial.

Dalam konteks sosial, istilah “shock absorber” merujuk pada mekanisme yang bisa meredakan tekanan atau dampak yang dialami oleh masyarakat. Shock absorber merupakan bagian dari sistem kendaraan yang berfungsi untuk menyerap guncangan sehingga kendaraan tetap bergerak dengan stabil. Agama dapat bertindak sebagai sarana untuk mengatasi kecemasan masyarakat sehingga tidak berkembang menjadi kepanikan, kemarahan, atau konflik horizontal.

Sosiolog seperti Émile Durkheim telah membahas tentang fungsi agama dalam menciptakan stabilitas sosial sejak lama. Durkheim berpendapat bahwa agama tidak hanya memberikan sistem keyakinan spiritual tetapi juga merupakan organisasi sosial yang memperkuat solidaritas dan ikatan moral dalam masyarakat. Melalui ritual, doa, dan simbol-simbol keagamaan, rasa kebersamaan bisa tumbuh, memungkinkan masyarakat menghadapi krisis secara bersama-sama.

Dalam konteks komunitas Muslim, nilai-nilai seperti tawakal, kesabaran, dan husnudzan (Berbaik sangka terhadap ketentuan Tuhan) sangat penting dalam mengelola kecemasan sosial. Ketika masyarakat menghadapi situasi yang tidak pasti, seperti ancaman perang, krisis ekonomi global, atau ketegangan politik internasional, agama memberikan kerangka makna yang membantu individu mengerti peristiwa dengan lebih tenang dan reflektif.

Al-Qur’an menunjukkan bahwa ketenangan jiwa merupakan bagian dari iman yang kukuh. Ayat 28 dari Surah Ar-Ra’d menyatakan, “Dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. ” Dari pesan ini, kita memahami bahwa spiritualitas memiliki peran psikologis dan sosial, menenangkan individu serta menjaga stabilitas dalam komunitas.

Namun, agama juga berfungsi sebagai penghalang sosial di luar aspek spiritual. Agama sering kali menjadi sumber moral bagi masyarakat dalam banyak situasi. Di tengah kesulitan, orang sering merujuk pada agama. Seruan untuk menjaga persatuan, mencegah provokasi, dan mengutamakan solidaritas manusia bisa mencegah konflik sosial yang lebih besar di tingkat akar rumput.

Hal ini menjelaskan mengapa pemerintah sering melibatkan akademisi serta tokoh agama dalam merespons situasi geopolitik global. Untuk menciptakan narasi publik yang menenangkan, rasional, dan berlandaskan nilai kemanusiaan, komunikasi antara otoritas moral masyarakat dan negara menjadi sangat penting. Dalam konteks ini, agama tidak dipakai sebagai alat politik, melainkan digunakan sebagai modal sosial yang memperkuat daya masyarakat.

Agama dan stabilitas sosial di Indonesia memiliki sejarah panjang. Tradisi keagamaan yang moderat, dialogis, dan inklusif telah berkontribusi besar dalam menjaga kerukunan di tengah keragaman. Selama bertahun-tahun, organisasi masyarakat seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah telah menunjukkan bagaimana agama bisa menjadi kekuatan sosial yang positif dalam dakwah serta dalam pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Melihat agama sebagai penyangga sosiopolitik tidak berarti bahwa agama berhenti memiliki fungsi sebagai penenang massa. Agama memiliki dimensi yang lebih luas dibanding itu. Agama juga bisa dijadikan sumber kritik moral terhadap ketidakadilan. Konsep amar ma’ruf nahi munkar dalam tradisi Islam menunjukkan bahwa agama tidak hanya berfungsi untuk menenangkan, tetapi juga mendorong pengabdian pada keadilan dan kemanusiaan.

Akibatnya, penting untuk memahami peranan agama dalam konteks sosial secara seimbang. Agama berperan dalam memelihara ketenangan sosial serta meredakan kekhawatiran kolektif. Di sisi lain, agama tetap menjadi sumber nilai-nilai etis yang penting, mendorong masyarakat dan pemerintah untuk peka terhadap penderitaan manusia di segala tempat.

Peran sosial agama semakin krusial di era global yang saling terhubung, di mana ketegangan di satu lokasi dapat memengaruhi emosi di lokasi lainnya. Agama tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk merenungkan dan mendapatkan ketenangan, tetapi juga sebagai sumber semangat yang dapat memperkuat rasa solidaritas umat manusia di seluruh dunia.

Agama tidak hanya berperan sebagai penawar spiritual ketika masyarakat menghadapi tantangan geopolitik atau ketidakpastian global, tetapi juga berfungsi sebagai pengaman sosial yang menjaga keseimbangan antara emosi publik, solidaritas manusiawi, dan stabilitas hidup bersama. Agama menampilkan dirinya sebagai kekuatan moral yang tidak hanya menenangkan, tetapi juga mengarahkan masyarakat menuju kematangan sosial dan kemanusiaan.

Facebook Comments Box

Penulis : Moh Hamdan Rois

Editor : Wahyu

Follow WhatsApp Channel limadetik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 16:49 WIB

Agama sebagai Shock Absorber Sosiopolitik di Tengah Kecemasan Kolektif

Berita Terbaru