BADKO HMI Jatim Kritik Acara Sumpah Pemuda Polda Jatim, Soroti Goyang-Goyang dan Nilai Santri
LIMADETIK.COM, SURABAYA – Peringatan Hari Sumpah Pemuda semestinya menjadi ruang untuk memperkuat semangat kebangsaan, daya kritis, dan integritas generasi muda. Namun, kegiatan yang digelar Polda Jawa Timur dengan melibatkan elemen mahasiswa, pemuda, dan santri justru menuai kritik dari Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Jawa Timur.
Kritik tersebut disampaikan M. Shohir, Ketua BADKO HMI Jatim Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda (PTKP). Ia menilai, perayaan yang lebih menonjolkan hiburan berpotensi mengaburkan substansi peringatan Sumpah Pemuda sebagai tonggak sejarah perjuangan bangsa.
“Di saat pemuda di ibu kota Jakarta turun ke jalan menyuarakan aspirasi dan substansi kebangsaan, Polda Jatim justru menyuguhkan hiburan seremonial yang berpotensi mengikis nilai moral pemuda dan santri,” ujar Shohir.
Menurutnya, kritik tersebut bukan semata-mata penolakan terhadap hiburan dalam sebuah kegiatan, melainkan bentuk keprihatinan atas pergeseran makna peringatan Sumpah Pemuda.
Ia menilai, momentum bersejarah yang seharusnya menjadi ruang konsolidasi gagasan, penyampaian aspirasi, dan penguatan kepedulian sosial justru berisiko kehilangan esensi ketika lebih banyak diisi aktivitas hiburan tanpa dampak substantif bagi kemajuan generasi muda.
Shohir juga membandingkan kegiatan tersebut dengan gerakan mahasiswa dan pemuda di Jakarta yang, menurutnya, konsisten menyampaikan kritik terhadap kebijakan serta mengangkat berbagai persoalan kebangsaan.
“Ketika elemen gerakan mahasiswa dan pemuda di Jakarta konsisten turun ke jalan menyampaikan gagasan, kritik kebijakan, serta isu-isu kebangsaan, Polda Jawa Timur justru terkesan meninabobokan pemuda dengan hura-hura dan goyang-goyang yang tidak memberikan dampak substantif bagi kemajuan daerah,” katanya, Kamis (29/10/2026).
Soroti Keterlibatan Santri
Selain persoalan substansi kebangsaan, Shohir menyoroti keterlibatan elemen santri dalam kegiatan tersebut. Ia menganggap sesi hiburan dengan lagu yang dinilai tidak bernuansa religi berpotensi bertentangan dengan nilai moral yang selama ini ditanamkan para ulama, kiai, dan tokoh agama di Jawa Timur.
Menurutnya, institusi kepolisian semestinya turut mengambil peran strategis dalam membangun karakter generasi muda melalui kegiatan yang edukatif, memperkuat integritas, serta menumbuhkan kesadaran sosial.
“Sesi goyang-goyang dengan lagu yang tidak bernuansa religi sangat berpotensi merusak fondasi nilai moralitas yang sudah ditanamkan oleh ulama, kiai, dan tokoh agama di Jawa Timur,” tegasnya.
Shohir menekankan, peringatan Sumpah Pemuda tidak seharusnya berhenti pada seremoni tahunan. Momentum tersebut perlu diarahkan untuk melahirkan gagasan, memperkuat kepemimpinan, serta mendorong keterlibatan nyata pemuda dalam menjawab persoalan masyarakat.
Ia berharap peringatan Sumpah Pemuda ke depan lebih mengedepankan substansi kebangsaan dan pendidikan karakter dibandingkan sekadar kemeriahan acara.
“Peringatan Hari Sumpah Pemuda seharusnya dikembalikan pada ruh aslinya: wadah konsolidasi ide, penguatan kepemimpinan, dan dorongan aksi nyata untuk kemajuan bangsa, bukan sekadar acara seremonial dan panggung hiburan yang mendegradasi moralitas santri dan kesadaran kritis pemuda,” pungkas Shohir.
Penulis : Joko
Editor : Wahyu








