Dari Lafaz Nilai ke Praktik Gerakan: Refleksi HMI di Usia ke-79
Oleh : Mamluatul Hasanah
Kader HMI Cabang Sumenep Komisariat Lancaran
___________________________________
ARTIKEL – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang memasuki usia ke-79 berada pada fase penting dalam siklus organisasi kader. Usia ini bukan lagi tentang pembuktian eksistensi, melainkan tentang evaluasi kebermaknaan.
Pertanyaan mendasarnya sederhana namun mendalam, sejauh mana nilai-nilai yang selama ini dirumuskan dan diikrarkan mampu menjelma menjadi praktik gerakan yang nyata dan berdampak?
Sebagai organisasi kader, HMI sejak awal berdiri diproyeksikan bukan sekadar wadah aktivisme mahasiswa, tapi juga instrumen pembentukan insan cita. Dalam kerangka ini, Nilai Dasar Perjuangan (NDP) menjadi fondasi ideologis yang mengikat keislaman dan keindonesiaan.
Namun, dalam dinamika kontemporer, problem utama yang dihadapi banyak organisasi mahasiswa, termasuk HMI adalah kesenjangan antara nilai normatif dan praksis gerakan. Nilai kerap berhenti sebagai wacana, slogan, atau bahkan sekadar teks kaderisasi, tanpa keberlanjutan dalam tindakan sosial dan intelektual. Padahal, dalam perspektif sosiologi gerakan, nilai hanya bermakna sejauh ia mampu membimbing tindakan kolektif (Touraine, 1985).
Disrupsi digital, pragmatisme politik, dan menguatnya budaya instan turut memengaruhi wajah gerakan mahasiswa hari ini. Aktivisme sering kali direduksi menjadi seremonial, responsif sesaat, dan miskin basis kajian. Kondisi ini berpotensi menjauhkan HMI dari watak dasarnya sebagai gerakan intelektual.
Antonio Gramsci menyebut bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan hanya mungkin dilakukan oleh intelektual organik mereka yang mampu menghubungkan gagasan dengan realitas sosial (Gramsci, 1971). Dalam konteks ini, HMI semestinya menjadi ruang produksi intelektual organik umat dan bangsa.
Refleksi di usia ke-79 menuntut HMI untuk membaca ulang NDP secara kontekstual. Keislaman tidak cukup dimaknai sebagai identitas simbolik, melainkan sebagai etika sosial yang berpihak pada keadilan, kemanusiaan, dan pembelaan terhadap kelompok rentan. Keindonesiaan tidak berhenti pada nasionalisme formal, tetapi terwujud dalam keberpihakan pada problem struktural bangsa. ketimpangan ekonomi, krisis lingkungan, dan degradasi demokrasi.
Dalam perspektif teori organisasi, kaderisasi merupakan jantung keberlanjutan nilai (Etzioni, 1964). Jika kaderisasi hanya menekankan aspek loyalitas struktural tanpa penguatan kapasitas intelektual dan moral, maka organisasi berisiko melahirkan kader yang aktif tetapi tidak reflektif.
Oleh karena itu, transformasi kaderisasi HMI menjadi keniscayaan, dari rutinitas administratif menuju proses pembentukan kesadaran kritis.
Dies Natalis HMI ke-79 seharusnya menjadi momentum penagihan tanggung jawab ideologis. Dari lafaz nilai menuju praktik gerakan. Dari romantisme sejarah menuju keberanian menjawab tantangan zaman. Sebab, eksistensi organisasi kader tidak diukur dari panjang usia, melainkan dari sejauh mana ia tetap relevan, berintegritas, dan mampu memberi arah bagi perubahan sosial.
HMI hanya akan tetap hidup bila nilai-nilainya tidak berhenti di lisan, tetapi berakar dalam sikap, keputusan, dan keberpihakan nyata kader-kadernya.
Di situlah makna sejati perayaan usia, bukan pada kemeriahan seremoni, tetapi pada kedewasaan refleksi dan keberanian berbenah.
