Momentum Haul Ke 16 Gus Dur, Sebagai Pengingat Akar Sejarah dan Nilai Lahirnya PKB
LIMADETIK.COM, BONDOWOSO – Memanfaatkan momentum Haul ke-16 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), PKB Bondowoso kembali menegaskan kembali arah perjuangan politik partai sebagai alat perjuangan Nahdlatul Ulama (NU) di ranah pemerintahan.
Kegiatan doa bersama yang digelar di gedung DPC PKB Bondowoso, Selasa (30/12/2025) itu juga dirangkai dengan refleksi menjelang tahun baru 2026.
Ketua DPC PKB Bondowoso, H. Ahmad Dhafir, mengatakan haul Gus Dur bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang evaluasi ideologis bagi seluruh kader, khususnya anggota fraksi PKB di DPRD Bondowoso.
Menurutnya, kader perlu terus diingatkan pada akar sejarah dan nilai dasar lahirnya PKB.
Dhafir menegaskan bahwa PKB lahir dari aspirasi warga NU pada masa awal reformasi 1998, ketika Gus Dur menjabat Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Dari aspirasi itulah kemudian dibentuk Tim 5 dan Tim 9 yang akhirnya melahirkan PKB sebagai Partai Kebangkitan Bangsa.
“Yang memprakarsai lahirnya PKB adalah Gus Dur bersama para ulama. Ini bukan sekadar fakta sejarah, tetapi identitas yang harus terus dipegang oleh kader PKB,” ujar Ahmad Dhafir pada Limadetik.com usai acara.
Ia menjelaskan, secara filosofis, Nahdlatul Ulama berarti kebangkitan ulama, sementara PKB dimaknai sebagai kebangkitan bangsa. Dua entitas ini, kata dia, memiliki pembagian peran yang jelas namun saling menguatkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
NU, lanjut Dhafir, fokus pada penjagaan akidah dan nilai keagamaan, sementara PKB hadir sebagai saluran politik untuk memastikan nilai-nilai perjuangan ulama terimplementasi dalam kebijakan pemerintahan. Pembagian peran ini dinilai sah dan konstitusional dalam kerangka demokrasi.
Ia juga menegaskan bahwa NU memiliki kontribusi besar dalam lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, sikap NU yang menegaskan Pancasila sebagai dasar negara yang final dan NKRI sebagai harga mati merupakan bagian dari tanggung jawab sejarah.
“Bahkan kader terbaik NU, KH. Wahid Hasyim, terlibat langsung sebagai perumus dasar negara, Pancasila. Ini menunjukkan bahwa ulama bukan hanya bicara agama, tapi juga bangsa,” katanya.
Menurutnya, haul Gus Dur menjadi sarana untuk mengurai kembali kesadaran kolektif kader PKB agar tetap berdiri tegak di bawah bendera partai sebagai alat perjuangan NU di pemerintahan, tanpa kehilangan arah dan nilai dasar.
Dirinya juga mengingatkan bahwa Gus Dur adalah pelopor demokrasi dan pluralisme pada masa awal reformasi. Sebagai Koordinator Demokrasi (Kordem) saat itu, Gus Dur meletakkan fondasi kuat bagi kehidupan demokrasi yang inklusif dan berkeadaban.
“Nilai pluralisme dan persaudaraan yang diajarkan Gus Dur, harus terus hidup dalam praktik politik PKB, terutama dalam melayani masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama, suku, maupun golongan, ” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa persaudaraan yang diajarkan Gus Dur mencakup persaudaraan seagama, sebangsa, dan setanah air. Prinsip inilah yang seharusnya menjadi pedoman kader PKB dalam menjalankan fungsi politik dan pelayanan publik.
“Ini amanah Gus Dur kepada kita semua. PKB harus terus hadir untuk kepentingan masyarakat luas, dengan komitmen seperti jargon kami: PKB maju tak gentar, membela yang benar,” pungkas Dhafir.












