Bukan Sekadar Turunkan Angka, Kader Posyandu Sapeken Dibekali Hadapi Stunting

- Penulis

Rabu, 23 September 2026 - 16:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Edukasi Kader Posyandu di Puskesmas Pagerungan Besar

Edukasi Kader Posyandu di Puskesmas Pagerungan Besar

Bukan Sekadar Turunkan Angka, Kader Posyandu Sapeken Dibekali Hadapi Stunting

LIMADETIK.COM, SUMENEP — Penanganan stunting di wilayah kepulauan Sapeken, Kabupaten Sumenep, membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Selain tenaga kesehatan, peran keluarga, pemerintah desa, kader Posyandu hingga masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan pencegahan dan penanganan stunting berjalan secara berkelanjutan.

Upaya memperkuat peran tersebut dilakukan melalui pelatihan kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang digelar pada 22–23 September 2026 di Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken.

Kegiatan yang berlangsung di wilayah operasi produksi SKK Migas–Kangean Energy Indonesia (KEI) itu diikuti kader Posyandu dan dihadiri Camat Sapeken, Kapolsek Sapeken, Koramil Sapeken, Pemerintah Desa Pagerungan Besar dan Pagerungan Kecil, Kepala Puskesmas Pagerungan Besar, serta perwakilan Community Development (Comdev) KEI.

Pelatihan tersebut menjadi ruang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mengenali faktor risiko stunting, memantau tumbuh kembang anak, serta memberikan edukasi kepada keluarga, terutama yang memiliki ibu hamil dan balita.

Sejumlah materi diberikan dalam kegiatan tersebut. Di antaranya materi “100 Hari Pertama Kehidupan: Penatalaksanaan pada Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronis” yang disampaikan dr. Harry Dwi Pratama, Sp.OG.

Selanjutnya, materi “Penanganan dan Pencegahan Balita Stunting” disampaikan dr. Raissa Virgy Rianda, Sp.A. Sementara materi “Bimbingan Teknis Pemberian Makanan Tambahan Berbasis Lokal” disampaikan Yuliani, S.Keb.

Materi yang diberikan menekankan pentingnya periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada periode tersebut, pemenuhan gizi ibu dan anak, pemeriksaan kehamilan, pemberian ASI dan makanan pendamping yang sesuai, pemantauan pertumbuhan, serta deteksi dini menjadi bagian penting dalam mencegah gangguan pertumbuhan.

Data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut menunjukkan adanya penurunan jumlah anak yang teridentifikasi mengalami stunting di dua desa sasaran.

Di Desa Pagerungan Besar, sebelumnya tercatat 11 anak mengalami stunting. Pada periode Januari hingga Agustus 2026, jumlah tersebut turun menjadi enam anak. Namun, masih terdapat dua anak yang tercatat mengalami gizi buruk.

Sementara di Pagerungan Kecil, sebelumnya terdapat 15 anak stunting. Hingga Agustus 2026, jumlah tersebut tercatat menjadi lima anak. Adapun data terkait gizi buruk masih perlu dilengkapi dan dikonfirmasi kembali.

Meski menunjukkan tren penurunan, kondisi tersebut tetap membutuhkan perhatian dan pendampingan secara berkelanjutan. Sebab, keberhasilan penanganan stunting tidak hanya ditentukan oleh berkurangnya jumlah kasus, tetapi juga kemampuan keluarga dan masyarakat mempertahankan pola pengasuhan, pemenuhan gizi, serta pemantauan kesehatan anak secara konsisten.

Kolaborasi Jadi Kunci

Camat Sapeken, Hamka, mengatakan keberadaan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) SKK Migas–KEI memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung sektor kesehatan di wilayah kepulauan.

“Program PPM ini sangat membantu di tengah kondisi efisiensi anggaran Dana Desa di Kepulauan Sapeken. Kita perlu bersyukur karena KEI berkomitmen menyediakan ruang edukasi berupa pelatihan untuk kader Posyandu,” kata Hamka, Selasa (22/9/2026).

Ia juga mengapresiasi kolaborasi KEI bersama Puskesmas Pagerungan Besar dalam memaksimalkan pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting.

“Semoga para kader tetap semangat memberikan pelayanan terbaik di tengah masyarakat,” ujarnya.

Menurut Hamka, kader Posyandu memiliki posisi strategis karena berada paling dekat dengan masyarakat. Kader dapat menjadi penghubung antara keluarga dengan tenaga kesehatan, terutama dalam memastikan ibu hamil dan balita memperoleh pemantauan kesehatan secara rutin.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep, drg. Ellya Fardasah, mengapresiasi pelaksanaan pelatihan kader Posyandu tersebut.

Menurutnya, penguatan kapasitas kader menjadi bagian penting dalam membangun gerakan bersama untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak, terutama dalam upaya pencegahan stunting di wilayah kepulauan Sapeken.

“Pelatihan seperti ini sangat penting karena kader merupakan bagian yang dekat dengan masyarakat. Ketika pengetahuan dan kapasitas kader semakin kuat, edukasi kepada keluarga juga akan semakin baik,” ujarnya.

Ia menegaskan, penanganan stunting membutuhkan kolaborasi yang konsisten antara tenaga kesehatan, kader Posyandu, pemerintah desa, keluarga, masyarakat, serta mitra pembangunan seperti SKK Migas–KEI.

“Semangat kolaborasi ini harus terus kita jaga. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk SKK Migas–KEI melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM), kami optimistis upaya pencegahan dan penanganan stunting di wilayah Kepulauan Sapeken dapat terus diperkuat,” katanya.

Drg. Ellya menambahkan, kader juga memiliki peran penting dalam memberikan edukasi sederhana namun berkelanjutan kepada keluarga. Mulai dari pentingnya pemeriksaan kehamilan, pemenuhan gizi ibu dan anak, pemantauan pertumbuhan balita, hingga mendorong keluarga memanfaatkan layanan kesehatan secara rutin.

“Kami berharap para kader tetap semangat, terus belajar dan tidak lelah memberikan edukasi kepada masyarakat. Dengan kerja bersama dan kepedulian yang terus tumbuh, kita optimistis anak-anak di Kepulauan Sapeken dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal,” ungkapnya.

Sementara itu, Manager Public & Government Affair (PGA) sekaligus penanggung jawab Program PPM KEI, Kampoi Naibaho, mengatakan pelatihan tersebut menjadi modal kompetensi bagi kader Posyandu untuk memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.

“Keluarga perlu memahami bahwa pencegahan stunting tidak hanya dilakukan ketika anak sudah mengalami masalah pertumbuhan,” katanya.

Menurut Kampoi, upaya pencegahan harus dimulai sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan rutin dan pemenuhan gizi ibu. Setelah anak lahir, pemantauan berat dan tinggi badan juga perlu dilakukan secara berkala.

“Oleh sebab itu, kami memandang keberadaan pelatihan ini sangat penting dilakukan secara kolaboratif. Semoga bermanfaat untuk kita semua,” pungkasnya.

Facebook Comments Box

Penulis : Wahyu

Editor : Wandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel limadetik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kejari Sumenep Hentikan Penuntutan Dua Tersangka Lewat Keadilan Restoratif
Perkuat Peran Kader Posyandu, SKK Migas–KEI dan Puskesmas Pagerungan Besar Kolaborasi Tangani Stunting
Jelang Berlayar, Penumpang Kapal di Kalianget Bisa Cek Kesehatan Gratis
HIMPASS Gelar Diskusi Publik, Bedah Wacana Perubahan Nomenklatur Kabupaten Sumenep
Papan Informasi Tak Cantumkan Nilai Anggaran, Revitalisasi SDN Kalianget Timur IV Disorot: Diduga Minim Transparansi
Promosi Wisata Tak Cukup dari Panggung, Duta Wisata Se-Madura Raya Didorong Melek Digital
Gelar Seminar “Green Generation”, KKN Universitas Annuqayah Edukasi Pelajar Darul Ulum Peduli Lingkungan
Jejak Toleransi Tionghoa di Dungkek Sumenep Disebut Berakar Sejak Era Majapahit
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 17:28 WIB

Kejari Sumenep Hentikan Penuntutan Dua Tersangka Lewat Keadilan Restoratif

Rabu, 23 September 2026 - 16:37 WIB

Bukan Sekadar Turunkan Angka, Kader Posyandu Sapeken Dibekali Hadapi Stunting

Rabu, 23 September 2026 - 16:21 WIB

Perkuat Peran Kader Posyandu, SKK Migas–KEI dan Puskesmas Pagerungan Besar Kolaborasi Tangani Stunting

Minggu, 20 September 2026 - 15:56 WIB

HIMPASS Gelar Diskusi Publik, Bedah Wacana Perubahan Nomenklatur Kabupaten Sumenep

Minggu, 20 September 2026 - 08:42 WIB

Papan Informasi Tak Cantumkan Nilai Anggaran, Revitalisasi SDN Kalianget Timur IV Disorot: Diduga Minim Transparansi

Berita Terbaru