Mendidik dengan Seribu Pena
Oleh : Subliyanto
_________________________________
LIMADETIK.COM – Dengan menyebut nama Allah, yang Maha pengasih lagi Maha penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, yang telah berfirman :
“Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan,berkat karunia Tuhanmu engkau (Nabi Muhammad) bukanlah orang gila. Sesungguhnya bagi engkaulah pahala yang tidak putus-putus. Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS.al-Qlam : 1-4).
Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. yang telah mengedukasi manusia tentang kehidupan. Waba’du,
Mungkin tidak asing di indera kita sosok seorang Da’i yang meyakini kekuatan tulisan. Motivasi yang sangat menggugah dapat kita ambil hikmah atau pelajaran dari pendiri Pesantren Gontor yang meyakini kekuatan pena (tulisan) yang menyatakan bahwa.
“Andai murid saya tinggal satu tetap akan saya ajar, yang satu ini sama dengan seribu, jika yang satu inipun tidak ada saya akan mengajar dunia dengan pena”.(Imam Zarkasyi).
Dikutip dari buku 50 Pendakwah Pengubah Sejarah, karya Putra Daerah Pamekasan yang lahir pada 23 April 1962, M.Anwar Djaelani, dijelaskan bahwa kendatipun jumlah santri atau murid Imam Zarkasyi grafiknya terus meningkat, artinya beliau tidak pernah mengalami keadaan tidak punya murid seorangpun.
Namun ia tetap berkeyakinan bahwa menulis buku merupakan bentuk aktivitas yang tak kalah hebat pengaruh positifnya dalam mendidik. Maka ia pun menulis, dan dikenal sebagai ulama’ yang cukup produktif dalam menulis, dan menghasilkan banyak karya.
Dari sekelumit kisah di atas, kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran bahwa menulis dan tulisan merupakan peluang investasi yang nyata bagi kita. Semakin banyak kebenaran yang kita sampaikan melalui tulisan, dan semakin banyak pula pembaca yang terketuk hatinya untuk mengamalkannya maka semakin banyak pula pahala yang kita dapatkan,insya Allah. Selaras dengan hal itu, sebagaimana sabda Baginda Rasulullah Muhammad SAW :
“Barangsiapa menunjukkan kepada sebuah kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang melakukannya”.(HR. Muslim).
Secara instruksi, sejatinya menulis dan membaca sejatinya merupakan kewajiban bagi setiap manusia, yang mana bentuk implementasinya tercover dalam istilah belajar. Baik belajar dan mempelajari ayat-ayat quliyah, maupun belajar dan mempelajari ayat-ayat kauniyah. Allah SWT. berfirman :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. al-‘alaq : 1-5).
Dengan membaca dan menulis, yang secara makna terminologis komprehensif adalah menfungsikan segala “jisim” kita, yang terdiri dari jasmani dan rohani untuk mengetahui segala sesuatu yang belum kita ketahui. Maka dengan hal tersebut kita akan menjadi orang yang sebelumnya tidak mengetahui something menjadi orang yang mengetahui something.
Dari hasil belajar itulah dapat memperkokoh keimanan kita kepada Allah. Sehingga dari keyakinan itu pulalah membuat kita semakin dekat kepadaNya, dengan memaksimalkan segala bentuk ibadah kita padaNya, sebagai wujud konkrit syukur kita kepada sang pencipta.
“Barangsiapa mengetahui dirinya, maka ia akan mengetahui Tuhannya”. Washallahu ‘ala sayyidina Muhammad, wal hamdulillahi rabbal ‘alamin.[*]
Penulis merupakan pegiat literasi di Pamekasan












