Tumpahan CPO di Laut Sumenep Jadi Ancaman Serius bagi Nelayan Tradisional, Bupati Fauzi Minta Penanganan Cepat dan Transparan
LIMADETIK.COM, SUMENEP – Tumpahan Crude Palm Oil (CPO) di perairan Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menimbulkan kekhawatiran serius bagi nelayan tradisional. Insiden pencemaran laut tersebut dikhawatirkan berdampak langsung terhadap ekosistem laut serta keberlangsungan mata pencaharian ribuan nelayan kecil yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil tangkapan laut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, tumpahan CPO terlihat mengapung di sejumlah titik perairan dan diduga berasal dari aktivitas pengangkutan minyak sawit di jalur laut. Lapisan minyak berwarna kekuningan itu menyebar mengikuti arus laut, sehingga berpotensi meluas ke wilayah tangkap nelayan.
Sejumlah nelayan tradisional mengeluhkan penurunan hasil tangkapan sejak munculnya tumpahan CPO tersebut.
Selain itu, bau menyengat dan kondisi air laut yang tercemar membuat nelayan khawatir terhadap kualitas ikan dan biota laut lainnya.
“Kalau laut tercemar seperti ini, ikan bisa menjauh atau bahkan mati. Kami nelayan kecil yang paling terdampak, karena setiap hari melaut di sekitar sini,” ujar Asrawi, salah seorang nelayan di pesisir pulau giliyang Sumenep, Minggu (25/1/2026).
Para nelayan juga khawatir pencemaran ini akan berdampak jangka panjang, terutama terhadap terumbu karang, rumput laut, dan ekosistem pesisir yang menjadi tempat berkembang biaknya ikan. Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa penanganan serius, maka ancaman krisis ekonomi bagi nelayan tradisional tidak dapat dihindari.
Sebelumnya, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menyatakan keprihatinannya atas kejadian tumpahan CPO di laut Sumenep. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak akan tinggal diam dan meminta pihak terkait segera melakukan penanganan cepat serta investigasi menyeluruh.
“Kami sangat prihatin dengan adanya tumpahan CPO ini. Laut adalah sumber kehidupan bagi masyarakat pesisir, khususnya nelayan tradisional. Saya sudah meminta dinas terkait dan pihak berwenang untuk segera turun ke lapangan melakukan penanganan dan memastikan sumber pencemaran ini,” tegas Bupati Fauzi.
Bupati Fauzi juga menekankan pentingnya transparansi dalam proses penyelidikan, termasuk penentuan pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut. Menurutnya, nelayan dan masyarakat pesisir jangan sampai terlalu lama terhambat oleh persoalan tumpahan CPO tersebut
“Kalau nanti ditemukan ada pihak yang lalai atau melanggar aturan, tentu harus bertanggung jawab. Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga menyangkut nasib nelayan dan masyarakat pesisir,” tambahnya.
Selain itu, Bupati Fauzi meminta agar dampak pencemaran terhadap nelayan segera didata, sehingga pemerintah dapat menyiapkan langkah mitigasi dan bantuan jika diperlukan. Ia juga mendorong adanya pemulihan lingkungan laut agar aktivitas nelayan bisa kembali normal.
Hingga saat ini, masyarakat pesisir dan nelayan tradisional berharap pemerintah serta aparat penegak hukum benar-benar serius menangani kasus tumpahan CPO tersebut. Mereka menilai, perlindungan laut bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga semua pihak yang memanfaatkan jalur laut untuk kepentingan bisnis.
Kasus tumpahan CPO di laut Sumenep ini kembali menjadi pengingat bahwa pengawasan aktivitas industri dan transportasi laut harus diperketat, agar laut sebagai sumber kehidupan tidak terus menjadi korban pencemaran.












