banner 728x90

Jeritan Pengayuh Becak dan Pedagang Emperan di Tengah PPKM Darurat

  • Bagikan
Jeritan Pengayuh Becak dan Pedagang Emperan di Tengah PPKM Darurat
FOTO: Abang becak/dok. LD

SUMENEP, Limadetik.com – Semenjak Indonesia dilanda wabah penyakit yang disebut dengan corona virus disease (covid-19) membuat hampir semua sektor lumpuh, terlebih sektor ekonomi.

Virus asal negara china tersebut tengah melanda Indonesia sejak tahun 2020 lalu hingga kini pun masih belum dapat dijinakkan apa lagi dihilangkan. Berbagai cara sudah dilakukan pemerintah, dari 3M, 5M, PSBB, PPKM Mikro hingga diberlakukannya PPKM Darurat, namun masih belum juga bisa menyelesaikan masalah covid-19 yang kini telah banyak merenggut nyawa.

Di Kabupaten Sumenep sendiri, pemberlakukan PPKM Darurat yang baru saja ditetapkan pemerintah sejak bulan Juni kemarin benar-benar membuat para tukang becak dan pedagan kecil menjerit bak serasa diambang kematian.

Saidi (samaran), salah satu tukang becak yang biasa mangkal di beberapa tempat di kota Sumenep ini menceritakan apa yang dialaminya sejak PPKM Darurat diberlakukan, ia bercerita betapa sulitnya mendapatkan penghasilan dalam situasi saat ini.

“Saya sudah 3 hari sekarang sama sekali tidak mendapatkan penghasilan mas, bahkan sejak PPKM Darurat ini kadang sehari saya hanya dapat penumpang satu orang, itu pun juga dapatnya Rp. 5.000 ribu” katanya bercerita, Rabu (21/7/2021).

Sejauh ini kata dia, bukan lagi persoalan tukang becak dilarang pemerintah untuk tidak bekerja, akan tetapi untuk mendapatkan satu calon penumpang saja sangat sulit dalam sehari.

“Karena penumpangnya tidak ada, kadang saya sama teman becak lainnya muter-muter kota Sumenep untuk cari penumpang belum tentu juga dapat. Yah begini sudah kami tidak tahu lagi harus seperti apa, karena pekerjaan saya hanya ini (narik becak, red)” keluhnya.

Jeritan Pengayuh Becak dan Pedagang Emperan di Tengah PPKM Darurat
FOTO: Area pasar anom sumenep

Ketika ditanya apakah sejak PPKM Darurat ini dirinya sudah pernah menerima bantuan baik berupa sembako atau lainnya dari pemerintah setempat, ia dengan tegas mengatakan belum sama sekali. “Kalaupun ada, itu hanya sebungkus nasi yang diberikan para dermawan yang biasa berbagi” jelasnya.

Sementara itu, hal yang sama juga dirasakan Maimunah (samaran) salah satu pedagang emperan yang kesehariannya berjualan Ubi dan singkong rebus di area pasar di Sumenep mengeluhkan akan keadaan saat ini.

Setiap harinya dia berjualan ubi dan singkong rebus, namun belakangan ini sangat sulit untuk bisa menghabiskan dagangannya terjual habis, bahkan pernah hanya dapat Rp. 3.000 ribu.

“Saya ini hanya orang desa yang berjualan ubi dan singkong rebus, itupun bukan dari hasil tani saya. Saya beli ke tetangga mentahnya lalu saya rebus dan saya jualan di pasar. Lebih sering modal tidak balik, dagangan saya bawa pulang untuk dimakan bersama anak di rumah” katanya.

Menurutnya, sejak PPKM Darurat ini diberlakukan, kesulitan semakin terasa jauh lebih sulit dari keseharian sebelum ditetapkan peraturan (PPKM Darurat, red), jika sebelum itu, dagangannya bisa laku lebih dari separuh.

“Sebelum PPKM Darurat ini masih mendingan, saya bisa bawa uang pulang Rp. 30.000-40.000 ribu, sekalipun tidak laku semua paling tidak odal saya kembali untuk diputar lagi, tapi sekarang sangat sulit” tukasnya.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya pemerintah telah menetapkan penerapan PPKM Darurat di sejumlah daerah, tak terkecuali Kabupaten Sumeenep, Jawa Timur, sampai batas tanggal 20 Juli 20221. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk memutus penyebaran covid-19. Namun, terbaru pemerintah telah kembali menambah waktu PPKM Darurat hingga 25 Juli 2021.

(yd/yd)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan