Ketika Teknologi Menguji Nurani Pendidikan: Antara Kemajuan Digital dan Tanggung Jawab Kemanusiaan
Oleh: Noris Soleh
Mahasiswa Pascasarjana IAI Al-Khairat Pamekasan
___________________________________
Ketika Teknologi Menguji Nurani Pendidikan
ARTIKEL – Perkembangan teknologi digital telah membawa pendidikan ke babak baru dalam sejarah peradaban manusia. Ruang kelas telah berubah menjadi ruang virtual, buku telah beralih ke layar, dan guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Di satu sisi, transformasi ini membawa harapan besar untuk pendidikan yang lebih terbuka, mudah diakses, dan inklusif.
Namun, di sisi lain, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran yang mendalam: apakah pendidikan masih setia pada misi kemanusiaannya, ataukah mulai kehilangan hati nuraninya di bawah dominasi teknologi?
Teknologi pada dasarnya bersifat netral. Teknologi itu sendiri bukanlah sesuatu yang baik atau buruk. Nilainya ditentukan oleh bagaimana manusia menggunakannya.
Dalam konteks pendidikan, teknologi seharusnya menjadi sarana untuk membebaskan manusia, memperluas wawasan, dan memperkuat kemampuan berpikir kritis siswa.
Namun, kenyataan menunjukkan bahwa teknologi sering diposisikan sebagai tujuan akhir, bukan sebagai alat. Sekolah dan lembaga pendidikan berlomba-lomba menampilkan citra modern dan digital, tetapi sering mengabaikan pertanyaan mendasar tentang makna, nilai, dan arah pendidikan itu sendiri.
Tantangan Kemanusiaan di Tengah Arus Digitalisasi
Tantangan paling mendasar adalah penyempitan makna pembelajaran. Pendidikan semakin direduksi menjadi masalah pencapaian akademik yang dapat diukur secara numerik. Keberhasilan siswa ditentukan oleh nilai, peringkat, dan grafik statistik.
Padahal, pendidikan sebenarnya adalah proses panjang untuk mengembangkan manusia seutuhnya dengan akal, hati nurani, dan kepekaan sosial. Ketika proses pembelajaran terjebak dalam logika efisiensi dan kecepatan, dimensi reflektif dan humanistik perlahan memudar.
Tantangan selanjutnya adalah krisis hubungan antarmanusia dalam pendidikan. Interaksi tatap muka, yang kaya akan nilai-nilai, teladan, dan dialog internal, digantikan oleh komunikasi satu arah melalui layar.
Guru dan siswa berisiko terjebak dalam hubungan yang mekanis dan impersonal. Pada kenyataannya, pendidikan adalah proses interaksi manusia yang saling memengaruhi secara emosional dan moral, bukan sekadar penyampaian fakta.
Selain itu, teknologi menimbulkan hambatan signifikan terhadap etika akademik. Budaya kepuasan instan meniru tanpa pemahaman, bekerja tanpa berpikir, dan belajar tanpa kejujuran dimungkinkan oleh kemudahan akses terhadap pengetahuan dan kecerdasan buatan.
Teknologi sebenarnya dapat meningkatkan tanggung jawab moral dan integritas intelektual siswa ketika digunakan tanpa pendidikan karakter. Ketidaksetaraan dalam akses sosial terhadap teknologi adalah masalah penting lainnya.
Tidak setiap siswa memiliki perangkat, koneksi internet yang andal, atau ruang yang nyaman untuk belajarKetidakadilan dapat meningkat sebagai akibat dari digitalisasi yang mengabaikan realitas sosial. Dalam hal ini, teknologi yang seharusnya menjadi alat untuk kesetaraan menjadi alat untuk pengucilan.
Selain itu, pekerjaan guru dapat direduksi oleh digitalisasi. Alih-alih menjadi pengajar yang dihargai dan kompas moral, guru sering dipandang sebagai operator platform atau pelaksana sistem. Namun, seberapa canggih pun teknologinya, teknologi tersebut tidak akan pernah mampu menggantikan posisi pengajar sebagai panutan moral.
Menawarkan Solusi: Mengembalikan Pendidikan pada Nurani
Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, langkah pertama adalah mengarahkan kembali pendidikan ke arah nilai-nilai kemanusiaan. Teknologi harus diposisikan sebagai alat pedagogis, bukan sebagai pusat atau penentu arah pendidikan.
Setiap kebijakan dan inovasi teknologi perlu diuji dengan pertanyaan-pertanyaan etis: apakah hal itu meningkatkan martabat manusia, keadilan, dan pengembangan karakter?
Pendidikan perlu mengintegrasikan literasi digital dengan literasi etika dan kemanusiaan. Siswa tidak hanya harus diajarkan cara menggunakan teknologi tetapi juga dibimbing untuk memahami dampak moral, sosial, dan spiritual dari penggunaannya. Pendidikan harus menanamkan kesadaran bahwa teknologi membawa tanggung jawab, bukan hanya kemudahan.
Memperkuat peran guru adalah suatu keharusan. Guru harus diposisikan sebagai subjek utama pendidikan, bukan korban digitalisasi. Pedagogi humanis harus diperkuat bersamaan dengan pelatihan teknologi sehingga para pendidik dapat terus mempromosikan empati, komunikasi, dan teladan dalam pembelajaran berbasis digital.
Akses yang setara terhadap teknologi harus dijamin oleh pemerintah dan lembaga pendidikan. Pendidikan harus didigitalisasi dengan cara yang mendukung populasi yang kurang beruntung dan bersifat inklusif.
Teknologi akan memperburuk ketidaksetaraan dan melemahkan peran pendidikan sebagai mekanisme keamanan jika tidak ada keadilan sosial. Harus ada ruang dalam pendidikan untuk introspeksi dan diskusi kritis.
Siswa perlu meluangkan waktu untuk mempertimbangkan, merenungkan, dan mengajukan pertanyaan tentang nilai-nilai kemanusiaan, tanggung jawab sosial, dan makna hidup di tengah dunia teknologi yang serba cepat. Aspek moral dan spiritual dari pendidikan yang beradab tidak boleh hilang.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat, bukan faktor penentu. Teknologi akan menjadi berkah atau ancaman tergantung pada nilai-nilai yang membimbingnya. Ketika teknologi digunakan dengan hati nurani, ia dapat menjadi sarana keamanan dan kemanusiaan.
Namun, ketika pendidikan kehilangan aspek kemanusiaannya, teknologi justru akan mempercepat dehumanisasi.
Oleh karena itu, tantangan utama bagi pendidikan di era digital bukanlah bagaimana mengikuti perkembangan teknologi yang canggih, tetapi bagaimana mempertahankan kesetiaan pendidikan pada tugas sucinya: memanusiakan manusia.












