Artikel

Manusia dan Nafsu Birahi : Islam Hadir dengan Solusi

×

Manusia dan Nafsu Birahi : Islam Hadir dengan Solusi

Sebarkan artikel ini
Manusia dan Nafsu Birahi : Islam Hadir dengan Solusi
Ilustrasi

Manusia dan Nafsu Birahi : Islam Hadir dengan Solusi

Oleh : Subliyanto
_______________________________

Bismillah wal hamdulillah, was shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, la haula wa laquwwata illa billah. Waba’du,

LIMADETIK.COM – Diantara sifat insaniyah yang melekat pada diri manusia adalah dianugerahkannya nafsu birahi. Yaitu sebuah keinginan untuk melakukan hubungan seksual. Dimana hal itu merupakan kebutuhan dhahir manusia. Dan ada pula yang menyebutnya kebutuhan bathin. Namun disini penulis lebih memilih istilah dengan kebutuhan dhahir. Karena yang dimaksud dengan hubungan seksual menurut definisi yang tercantum dalam beberapa literatur ilmiah disebut dengan bersetubuh. Dan dalam Islam disebut dengan istilah Jima’.

Dr. Halimi Zuhdi, dosen Bahasa Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam artikelnya menjelaskan tentang definisi Jima’ bahwa, Kata jima’ mengarah pada persetubuhan suami istri, karena suami istri melakukan perkumpulan rahasia. (Menelisik Kata Jima’/hidayatullah.com/16 Maret 2023).

Sehingga dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa hubungan seksual merupakan integrasi antara jiwa dan raga manusia dalam bercinta untuk mencapai klimaksasi rasa.

Terlepas hal tersebut disebut dengan kebutuhan dhahir atau kebutuhan batin, yang terpenting disini adalah bagaimana kita mengatur kebutuhan tersebut. Dan Islam hadir yang salah satunya mengatur bab tersebut dengan konsep pernikahan, agar nafsu birahi manusia terarah, bukan terserah.

Dengan adanya konsep pernikahan, maka yang semula berhubungan seksual antara laki-laki dan perempuan hukumnya haram, dengan adanya tali pernikahan maka hal itu menjadi halal, sesuai tuntunan yang sudah disyariatkan. Maka menjadi hal penting bagi kita untuk “tidak mengharamkan sesuatu yang halal dan menghalalkan sesuatu yang haram”. Karena dua-duanya jelas dan sama-sama memiliki kedudukan yang jelas pula.

Baik, sudah menjadi maklum bahwa setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan memiliki nafsu birahi. Bahkan dijelaskan skala perbandingan antara nafsu birahi laki-laki dan perempuan adalah 1:9 (satu banding sembilan). Artinya adalah nafsu birahi perempuan lebih tinggi daripada nafsu birahi laki-laki.

Luar biasa, bisa kita bayangkan bagaimana jika yang memiliki skala sembilan tidak terpenuhi saat hasratnya di posisi grafik teratas, bisa-bisa kiamat kecil yang terjadi. Namun demikian, Allah Maha adil, kendatipun perempuan berskala sembilan, ia dianugerahi “Cover Elastis” yang bernama malu.

Dan sudah tentu cover elastis tersebut berfungsi jika “Hard Cover” yang dimilikinya juga bagus, yaitu iman. Kalau hard covernya juga rusak, maka cover elastis pun yang ada pada dirinya juga tidak akan berfungsi dengan baik. Ibarat kendaraan bermotor kalau remnya kurang pakem, apalagi sampai blong, maka iapun akan mudah untuk terjadinya “kecelakaan”. Na’udzu billahi min dzalik.

Mungkin sekilas pembahasan ini agak geli di indera kita, namun pembahasan ini juga sangat penting untuk diketahui dan dipahami khususnya oleh para pemuda dan pemudi. Karena hubungan seksual tergolong pada klaster “kebutuhan” pada manusia. Yaitu sesuatu yang harus terpenuhi. Namun perlu diingat juga bahwa segala sesuatu ada aturan mainnya.

Jika makanan kita saja harus halal dan baik, apalagi “Sexual Food”? Tidak hanya pasal hukum Negara yang berlaku, pasal hukum akhirat lebih menyakitkan, jika hal itu dilakukan tidak sesuai aturan mainnya (syari’at Islam).

Garis besar dari bab ini adalah pernikahan. Makanya sangat diperintahkan bagi pria dan wanita untuk menikah apabila sudah memenuhi syarat yang sudah ditentukan, dan sesuai dengan koredor yang ditetapkan, agar nafsu birahinya tersalurkan dengan benar.

Tidak mudah memang memanaj nafsu birahi pada diri manusia, hanya dengan kekuatan iman hal itu bisa dikendalikan dan terkendalikan. Tanpa iman, sebagaimana telah disebutkan di atas, cover elastis pun yang bernama malu tidak akan mampu menahan kekuatan yang berskala sembilan dan juga kekuatan yang berskala satu.

Apalagi pada zaman saat ini, zaman informasi dan teknologi (IT) yang serba canggih, yang juga menjadi tantangan delimatika semua kalangan. Zaman yang serba wah, zaman yang membuat manusia maju kenak mundurpun juga kenak. Maka sungguh beruntunglah orang-orang yang memiliki filterasi iman yang kuat. Diantaranya adalah orang yang sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an tentang orang-orang yang beruntung ;

“Dan orang-orang yang senantiasa menjaga kemaluannya.Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki. Sesungguhnya mereka tidak tercela (karena menggaulinya)”. (QS.al-Mu’minun : 5-6 ).

Tentu makna kemaluan pada ayat di atas tidak hanya sebatas makna etimologis, akan tetapi mencakup makna terminologis dan psikologis serta aspek-aspek terkait lainnya. Semoga kita semua senantiasa diberi kekuatan iman untuk membendung godaan-godaan dari yang tidak beriman agar semua nafsu yang melekat pada diri kita, termasuk nafsu birahi bisa kita kendalikan dan diarahkan sesuai tuntunan, bukan tontonan.

Washallahu ‘ala sayyidina Muhammad. Wal hamdulillahi rabbil ‘alamin. Wallahu a’lam bis shawab [*]

Penulis merupakan pegiat literasi, pemerhati sosial dan pendidikan, tinggal di Pamekasan