https://limadetik.com/

Opini: Covid1-9 vs Kanker Madir-20

  • Bagikan
IMG 20200328 071850

Sumenep, 28 Maret 2020

Limadetik.com – Oleh: M.Yunus BS

https://limadetik.com/

(Pemerhati Kepulauan)

Innalillah wainna ilaihi raji’un. Kabar buruk baru saja menyambangi halaman WatsApp saya: “jalur akses transportasi lintas pulau di Kecamatan Sapeken telah ditutup”. Kabar duka tersebut tentu sejenak mengernyitkan dahi saya, sembari membayangkan kerut wajah para ABK taksi laut berpeluh keringat saat mengayuh sauh. Wajah muram berbedak Oli seorang mekanik mesin perahu motor jasa angkut penumpang itu sesekali juga berkelimbat di hadapanku. Betapa sial kehidupan mereka, jika informasi LockDown alat transportasi lintas pulau itu benar-benar terjadi.

Virus corona atau Covid-19 ternyata benar-benar menjalar bak sengatan listrik, baik secara biologis maupun secara psikologis. Di Kabupaten Sumenep khususnya kepulauan, memang belum terdapat kasus warga yang terpapar. Sampai detik ini, penulis belum mendapatkan informasi korban, selain hanya sebatas ODP.

Namun demikian, rasa panik dan waswas secara berlebihan tampaknya sudah menjangkiti seluruh lapisan masyarakat, termasuk para pemangku kebijakan. Langkah antisipasi pun mulai dilakukan, terutama upaya distancing antar warga dengan cara mematikan ruang-ruang yang berpotensi mengundang kerumunan. Termasuk, menghentikan alat transportasi umum.

Di satu sisi, langkah cepat seperti itu cukup bagus untuk memutus mata rantai sebaran corona. Namun pada saat yang sama, tanpa disadari, juga mengundang virus baru bernama KANKER MADIR20: Kantong Kering Mati Berdiri 2020. Betapa tidak, sebagian warga masyarakat kepulauan yang kehidupannya menggantungkan diri pada penghasilan harian seperti tukang taksi, akan kehilangan sumber rezeki dalam waktu yang tak menentu.

Di lain pihak, warga masyarakat lainnya yang nota bene pebisnis dengan pusat perbelanjaannya tersentral di Pulau Kecamatan Sapeken, tentu juga akan mengalami hambatan. Sirkulasi bisnis dan usaha kelas bawah otomatis akan macet. Jika itu terjadi di wilayah daratan, mungkin dampak buruknya tidak akan terlalu signifikan.

Tapi di kepulauan, menghentikan jalur akses transportasi umum sama halnya membunuh mereka secara perlahan-lahan. Jika demikian, lalu apa bedanya dengan corona?. Bahkan, menurut hemat penulis, kebijakan semacam ini jauh lebih ganas dibanding corona itu sendiri.

Sesungguhnya, waspada corona tidak mesti harus menutup akses transportasi umum. Pemerintah semestinya cukup melakukan pengawasan, pemeriksaan, dan pencegahan super ketat bagi yang terdeteksi mencurigakan. Dengan cara mendatangkan alat detektor canggih di setiap jalur akses mobilitas seperti terminal Bus, Bandara, Stasiun Kereta, dan Pelabuhan, dan lain sebagainya.

Atau, khusus kepulauan, bisa saja warga dilarang sementara waktu bepergian lintas pulau menggunakan transportasi umum. Tapi, alat transportasi umumnya tetap dioperasikan khusus angkut barang. Caranya, warga cukup nitip pesan belanja lewat ABK perahu Taksian, selanjutnya tinggal menunggu di pelabuhan masing-masing.

Di samping itu, pemerintah juga harus mulai melakukan patroli di setiap perkampungan, dari rumah ke rumah. Bukankah itu melelahkan? Tentu saja. Tapi inilah bagian dari bentuk tanggungjawab pemerintah dalam mengayomi dan melindungi rakyatnya.

Pemerintah boleh saja tidak melupakan kewajibannya dalam mengantisipasi penyebaran virus corona sampai pada titik pelosok pedalaman hingga pada kepulauan yang terjauhpun, namun dengan demikian, Pemerintah jangan sampai melupakan hak-hak rakyatnya dalam menghadapi sebaran virus corona ini, yakni kebutuhan sehari-hari mereka adalah bagian dari tantangan terberat bagi pemerintah saat ini, dan jangan sampai masyarakat terselamatkan dari virus corona tetapi ambruk di tengah kelaparan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan