PWI Pamekasan Harapkan Pemimpin Baru Memberi Iklim Kebebasan Pers

PAMEKASAN,┬áLimadetik.com — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan mengharapkan dari pemimpin baru Pamekasan bagi kalangan insan pers adalah terbukanya iklim kebebasan pers berdaulat yang mendukung profesionalisme pers sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

“Saya yakin duet kepemimpinan muda ini memiliki komitmen kuat dalam upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan di Pamekasan untuk lima tahun kedepan yang lebih baik, dengan mengedepankan transparansi atau open manajemen,” ujar Ketua PWI Pamekasan Abd Aziz.

Untuk mewujudkan itu semua, maka pilar demokrasi yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif harus diperkuat. Pers merupakan pilar keempat dalam sistem negara demokrasi. Sebab, tata kelola pemerintahan yang kuat, apabila didukung oleh peran pers yang optimal pula sebagai institusi kontrol pada sistem pemerintahan.

Aziz menuturkan, selama kurun waktu lima tahun terakhir ini, transparansi institusi Pemkab Pamekasan memang nampak jauh lebih baik dari sebelumnya. Pola kepemimpinan kolekif kolegial telah diberlakukan Pemkab Pamekasan dengan dikeluarkannya surat edaran bupati yang menginstruksikan agar pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) memberikan konfirmasi secara langsut terkait kegiatan teknik yang dilakukan oleh masing-masing institusi.

Hanya saja, sambung pewarta Perum LKBN Antara ini, dukungan untuk peningkatan profesionalisme bagi kalangan insan pers selama ini belum sepenuhnya berjalan optimal.

“Sebagai pemimpin muda mantan aktivis, kita berharap pasangan bupati dan wakil bupati yang dilantik 24 September 2018 ini bisa memberikan dukungan untuk peningkatan profesionaliame jurnalis di Pamekasan,” ujar Aziz.

Abd Aziz lebih lanjut menyatakan, pihaknya berkepentinya dalam meningkatkan profesionalisme wartawan dan bisa mendapatkan dukungan dari pemerintah, karena tantangan baru di era milenial saat ini adalah berkembangnya media baru sebagai dampak dari revolusi industri 4.0.

New Media (media baru) memungkinkan semua orang menjadi produsen berita atau reporter. Sementara disatu sisi sebagian orang menganggap bahwa apa yang dibaca di media adalah yang ditulis wartawan.

“Disamping pentingnya peningkatan profesionalisme yang juga penting menurut hemat kami dilalukan kedepan adalah perlunya kesamaan persepsi untuk mengatasi persoalan ini,” kata Aziz, menambahkan. (arf/yd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here