Relevansi Antara Identitas Diri dan Kualitas Diri Manusia
Oleh : Subliyanto
_______________________________
Bismillah wal hamdulillah, was shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, la haula wa laquwwata illa billah. Waba’du,
LIMADETIK.COM – “Identitas anda menunjukkan diri anda. Dan Kualitas anda ditentukan oleh Ilmu anda”. Dua bait kalimat motifatif patut kiranya kita renungkan, sebagai bagian dari muhasabah kita, agar kita senantiasa bercermin guna sadar dan menyadari hakikat diri kita.
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan dengan kualitas terbaik. Disebut dengan kualitas terbaik karena dikaruniai akal dan pikiran untuk “savety tank of since”. Dikaruniai indera untuk membaca ayat-ayat Qauliyah maupun ayat-ayat Kauniyah sang pencipta. Sehingga peran dan fungsinya di muka bumi sebagai “Abdullah” dan “Kahlifatullah”.
Sebagai Abdullah, manusia mendapatkan amanah untuk memperbaiki kualitas dirinya yang bersifat personal kaitannya hubungan dirinya dengan Tuhannya. Sementara sebagai Khalifatullah, manusia diberi amanah sosial kaitannya hubungan dirinya dengan makhluk sosial lainnya. Dan keduanya merupakan dua amanah yang harus sejalan dan selaras dalam hidup dan kehidupannya.
Bak dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, manusia diberi amanah untuk menjadi orang shaleh atau orang baik, dan juga diberi amanah untuk menjadi orang mushleh atau orang yang senantiasa berbuat kebaikan yang bersifat sosial. Karena menjadi orang baik saja tidak cukup, maka berbagi kebaikan dengan segala jenisnya dalam hidup dan kehidupannya juga menjadi kewajiban agar eksistensi keberadaannya di dunia betul-betul menjadi orang yang hidup, yaitu orang yang bermanfaat, tidak hanya untuk dirinya, namun juga untuk orang lain.
Karena “sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”. Tentu makna manusia pada akhir bait petikan kalimat ini adalah bersifat umum, artinya berlaku untuk manusia “nathiq” dan manusia “gharu nathiq”. Atau simpelnya berlaku untuk benda hidup dan benda mati.
Kaitannya dengan dua “job description” manusia tersebut di atas, manusia sebagai Abdullah sebagaimana dijelaskan dalam firman-nya :
“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 21)
Sekilas makna ayat ini adalah, setelah menjelaskan tiga golongan manusia dalam menyikapi kebenaran Al-Qur’an, yaitu orang-orang bertakwa, kafir, dan munafik, selanjutnya Allah menyeru kepada manusia secara umum agar beragama secara benar, dengan menyembah dan beribadah secara tulus kepada Allah, sebab Dia yang telah menciptakan dan memelihara manusia dan orang-orang yang sebelumnya.
Dia adalah satu-satunya Pencipta segala sesuatu. Perintah beribadah itu ditujukan agar manusia bertakwa dan dapat memelihara diri serta terhindar dari murka dan siksa Allah. Dengan beribadah, berarti kita telah mempersiapkan diri untuk mengagungkan Allah, sehingga jiwa menjadi suci dan tunduk kepada kebenaran.
Sementara manusia sebagai Khalifah di muka bumi dijelaskan dalam firman-Nya :
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.al-Baqarah : 30).
Pada ayat ini Allah menjelaskan asal muasal manusia, yaitu kejadian pada masa Nabi Adam. Dan ingatlah, wahai Rasul, satu kisah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah, yakni manusia yang akan menjadi pemimpin dan penguasa, di bumi.” Khalifah itu akan terus berganti dari satu generasi ke generasi sampai hari Kiamat nanti dalam rangka melestarikan bumi ini dan melaksanakan titah Allah yang berupa amanah atau tugas-tugas keagamaan.
Para malaikat dengan serentak mengajukan pertanyaan kepada Allah, untuk mengetahui lebih jauh tentang maksud Allah. Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang memiliki kehendak atau ikhtiar dalam melakukan satu pekerjaan sehingga berpotensi merusak dan menumpahkan darah di sana dengan saling membunuh, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Malaikat menganggap bahwa diri merekalah yang patut untuk menjadi khalifah karena mereka adalah hamba Allah yang sangat patuh, selalu bertasbih, memuji Allah, dan menyucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya. Menanggapi pertanyaan malaikat tersebut, Allah berfirman.
“Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Penciptaan manusia adalah rencana besar Allah di dunia ini. Allah Mahatahu bahwa pada diri manusia terdapat hal-hal negatif sebagaimana yang dikhawatirkan oleh malaikat, tetapi aspek positifnya jauh lebih banyak.
Dari sini bisa diambil pelajaran bahwa sebuah rencana besar yang mempunyai kemaslahatan yang besar jangan sam-pai gagal hanya karena kekhawatiran adanya unsur negatif yang lebih kecil pada rencana besar tersebut.
Disinilah relevansi antara identitas diri dan kualitas diri manusia. Maka menjadi penting bagi kita untuk senantiasa bercermin sebagai bentuk muhasabah kita agar senantiasa sadar dan menyadari akan tugas dan tanggung jawab kita. Sehingga dengan demikian,sifat insaniyah yang berupa bintik-bintik kesombongan yang ada pada diri kita sedikit-demi sedikit terkendalikan bahkan terhapuskan.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan kekuatan kepada kita untuk senantiasa bisa melaksanakan perintahnya dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya. Amin.
Washallahu ‘ala sayyidina Muhammad, wal hamdulillahi rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam bis shawab. [*]
Penulis merupakan pegiat literasi di Pamekasan












