Sumpah Pemuda: Satu Nadi di Tengah Perbedaan Masa Kini

- Penulis

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siti Ainiyah

Siti Ainiyah

Sumpah Pemuda: Satu Nadi di Tengah Perbedaan Masa Kini

Oleh: Siti Ainiyah
Mahasiswa Al-Khairat Pamekasan

______________________________________

OPINI – Sumpah Pemuda merupakan peristiwa bersejarah yang memiliki nilai esensial bagi bangsa Indonesia. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul di Jakarta. Mereka datang dengan latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari suku, bahasa, hingga adat istiadat. Namun, mereka memiliki satu kesamaan, yakni keinginan kuat untuk bersatu demi mewujudkan bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Momen tersebut melahirkan ikrar Sumpah Pemuda: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan. Sebuah janji bahwa perbedaan bukanlah tembok pemisah, melainkan kekuatan yang menyatukan.

Lebih dari sembilan dekade telah berlalu. Penjajahan sudah lama berakhir. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah semangat persatuan itu masih hidup di tengah-tengah kita?

Baca Juga  Analogi Pertumbuhan Pola Pikir Gen-Z dan Gen Milenial

Di masa kini, kita menghadapi tantangan yang berbeda. Tidak ada lagi tentara asing yang melarang kita berkumpul. Namun, perpecahan justru kerap datang dari dalam diri kita sendiri.

Dunia maya yang seharusnya menjadi ruang untuk saling terhubung, sering kali justru berubah menjadi tempat untuk saling menjatuhkan. Kita menyaksikan masyarakat terbelah hanya karena perbedaan pandangan politik, keyakinan, bahkan sekadar selera. Berita bohong menyebar lebih cepat daripada kebaikan. Perbedaan pendapat yang semestinya menjadi ruang bertukar pikiran justru kerap berubah menjadi permusuhan.

Sesama anak bangsa saling mencurigai, seolah lupa bahwa kita lahir dari tanah yang sama, menghirup udara yang sama, dan memiliki harapan terhadap masa depan Indonesia yang sama.

Baca Juga  Organisasi Mahasiswa, Ruang Belajar untuk Mengasah Soft Skill

Sebagai pemuda, saya meyakini bahwa Sumpah Pemuda bukan sekadar kisah masa lalu yang layak dikenang setahun sekali. Lebih dari itu, Sumpah Pemuda adalah kompas yang kita butuhkan di tengah zaman yang kerap kehilangan arah.

Di tengah kebisingan yang berpotensi memecah belah, Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa ada jauh lebih banyak hal yang menyatukan daripada yang memisahkan.

Persatuan bukan berarti kita harus sama dalam segala hal. Kita boleh berbeda pendapat, berbeda suku, dan berbeda agama. Justru, keberagaman itulah yang menjadi salah satu keindahan bangsa Indonesia.

Persatuan berarti bahwa meskipun berbeda, kita tetap memilih untuk berjalan bersama. Ibarat untaian benang berwarna-warni, ketika disatukan, benang-benang itu akan membentuk kain yang indah sekaligus kuat.

Sumpah Pemuda hari ini menjadi pengingat bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada kemajuan teknologi atau kekayaan alam, tetapi juga pada cara kita memperlakukan satu sama lain.

Baca Juga  Optimalisasi Potensi Mahasiswa Melalui Kolaborasi Akademik dan Organisasi

Ketika kita menghargai teman yang berbeda latar belakang, tidak mudah terprovokasi oleh berita yang memecah belah, serta mengulurkan tangan untuk membantu sesama tanpa mempersoalkan suku maupun agama, pada saat itulah kita sedang menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda.

Mari kita jadikan Sumpah Pemuda bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan pedoman dalam bersikap dan bertindak sehari-hari. Sebab, pada akhirnya, kita adalah satu bangsa. Ketika Indonesia maju, kita semua turut berbangga. Ketika Indonesia terluka, kita semua ikut merasakannya.

Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Bukan sekadar sumpah, melainkan cara kita hidup.

Facebook Comments Box

Penulis : Siti Ainiyah

Editor : Wahyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel limadetik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tidak Semua Orang Takut “Hantu”
Pesantren di Tengah Badai Zaman: Antara Warisan Peradaban, Kritik Publik, dan Pertaruhan Masa Depan
Santri GEN-Z: Menjaga Akhlak, Menguasai Teknologi, dan Menjawab Tantangan Zaman
Perguruan Tinggi Hanyalah Sarana Menuju Kesuksesan: Memaksimalkan Proses Pembelajaran untuk Masa Depan
Menagih Kepastian Hukum Rp85,2 Miliar: Ada Apa dengan Kejati Jatim?
Melek Konstitusi, Cerdas Berdemokrasi: Peran Hukum Tatanegara dalam Kehidupan Warga Negara
Aktivisme Kaum Muda di Era Media Sosial: Mengubah Wajah Perubahan Sosial
Sudut Pandang Dinamika Perkembangan Pendidikan
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:59 WIB

Tidak Semua Orang Takut “Hantu”

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:42 WIB

Sumpah Pemuda: Satu Nadi di Tengah Perbedaan Masa Kini

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:20 WIB

Pesantren di Tengah Badai Zaman: Antara Warisan Peradaban, Kritik Publik, dan Pertaruhan Masa Depan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 22:18 WIB

Santri GEN-Z: Menjaga Akhlak, Menguasai Teknologi, dan Menjawab Tantangan Zaman

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 22:08 WIB

Perguruan Tinggi Hanyalah Sarana Menuju Kesuksesan: Memaksimalkan Proses Pembelajaran untuk Masa Depan

Berita Terbaru

Sulaisi Abdurrazaq

Opini

Tidak Semua Orang Takut “Hantu”

Rabu, 28 Okt 2026 - 21:59 WIB

Siti Ainiyah

Opini

Sumpah Pemuda: Satu Nadi di Tengah Perbedaan Masa Kini

Rabu, 28 Okt 2026 - 21:42 WIB