Tidak Semua Orang Takut “Hantu”
Oleh: Sulaisi Abdurrazaq
_______________________________________
OPINI – RAJA HANTU itu senior, rekan sejawat, sekaligus mentor. Saya tidak pernah takut, karena dia sebenarnya manusia, meski ingin terkesan hantu.
Dalam menjalankan tugas profesi, termasuk di ruang digital, saya tidak pernah menggunakan akun hantu. Karena saya berani mempertanggungjawabkan pendapat saya, tanpa muter-muter.
Kali ini, Raja Hantu tampak emosional, pukulannya tidak fokus, padahal biasanya tangguh. Saya melihat dia lemah. Olahan bahasanya campur-aduk, antara hukum, emosi, iri dan kesal.
Dalam kasus penggelapan kapal milik almarhum Sulaiman, Raja Hantu tampak maksa agar saya, sebagai Penasehat Hukum Sayyidah, mengikuti reasioning hukumnya.
Hantu menilai pendapat saya keliru dalam merumuskan isu hukum. Saya tidak mau, karena menurut saya Raja Hantu menyusun logika “sesat”, berusaha “menghalalkan” ahli waris lainnya menjual harta warisan tanpa persetujuan seluruh ahli waris.
Saya tetap yakin, perbuatan yang demikian itu penggelapan. Seharusnya Hantu menerima perbedaan. Jangan emosi dan ngawur. Sellow bro!.
Seperti yang saudara lihat. Hantu memaksakan diri, bahkan dengan teknik propaganda. Cara itu tidak mempan bagi saya, karena itu ilmu yang saya serap dari dirinya sejak lama. Saya amalkan.
Dalam siaran persnya, Raja Hantu menyikapi kerja penyidikan yang telah profesional, tanggap dan cepat, seolah langkah profesional Polresta Sumenep itu kesalahan.
Hantu bahkan menganalisa kecepatan penyidik itu karena saya pengaruhi melalui ancaman opini dan unjuk rasa serta adanya pengaruh aktor FMM. Ha ha…
Jujur saja saya ngakak. Kok jadi cemen banget Raja Hantu. Kayak anak kecil. Apa karena faktor usia? Saya itu baru terima kuasa ketika perkara sudah naik sidik.
Siaran pers hantu jadi ambyar. Seharusnya edukatif, malah lebih terlihat emosional dan penuh ancaman.
Raja Hantu harus sadar bahwa tidak semua orang takut “hantu”, banyak dari audiens justru menilai “hantu” itu hiburan di layar digital.
Untuk apa hantu menarik banyak orang dalam kasus penggelapan kapal. Dia menarik Mario dan FMM. Apa korelasinya? Ngawur lagi ini.
Saya bahkan heran, ada dua akun TikTok hantu yang berusaha menguatkan pendapat-pendapat hantu dan men-down-grade saya selaku penasehat hukum Sayyidah.
Akhirnya timbul tanya. Apakah ada peran anggota DPRD Sumenep bernama Badrul Aini dalam ternak akun hantu yang menyudutkan penyidik itu? Apa kaitannya dengan FMM dan kasus penggelapan kapal? Entahlah!
Untuk kepentingan pembelaan, melalui momen ini, saya ingin sampaikan klarifikasi klien saya sebagai berikut:
“Assalamualaikum pak lawyer”
Sedikit informasi sekalian minta tolong untuk dibantu klarifikasi ke media supaya publik paham dan mengetahui aslinya seperti apa.
1. Laporan penggelapan ke Polresta terhadap H. Abd. Kadir murni dari hati saya (Sayyidah), bukan disuruh suami saya. Dari awal peristiwa itu saya ingin melaporkan tapi suami saya tidak mengizinkan dan suami saya bilang agar mencari solusi kekeluargaan atau musyawarah.
2. Saya bukan meninggalkan rumah atau meninggalkan hutang, tetapi saya benar-benar diusir dari rumah dan dikunci pintu bersama anak saya (tidak bisa masuk rumah) sehingga akhirnya saya mendobrak rumah pintu belakang untuk mengambil baju ganti.
3. Saya tidak diizinkan kembali ke Kangean oleh ipar saya yang bernama H. Saina (istri H. Abd Kadir) dengan alasan karena takut konflik dengan M*km*ng.
4. H. Saina datang ke rumah saya bersama ponaannya bernama Arik Cahyadi untuk mengantarkan baju-baju saya (Sayyidah) yang ada di Kangean, itupun hanya separuh dari seluruh pakaian saya.
5. Begitu saya pulang bersama anak saya, Kevin Sulaiman, mobil Mobilio tahun 2020 saya parkir/titipkan dekat pelabuhan Batuguluk, di rumah Daeng, namun tiba-tiba sorenya saya mendengar kabar, mobil saya dirampas oleh M*km*ang di rumah Daeng, lalu diover kredit/dijual ke orang Kalianget.
KESIMPULAN:
Apa yang mereka beritakan terkait pribadi saya dan Suami saya (Mario) itu murni tidak benar dan itu fitnah besar, karena selama ini kami selalu diam dan tidak ada solusi/jalan keluar dari awal almarhum meninggal.
Demikian pak lawyer minta tolong untuk di klarifikasi di media. Terima Kasih Pak.
Wassalamu’alaikum.
Sayyidah.
Rekan-rekan sekalian. Bukankah tidak mudah menjadi Sayyidah? Masih banyak perempuan dan anak lain yang mengalami “penderitaan” serupa.
Meski begitu, namanya juga hantu, tetap saja tidak ada empati!
Penulis adalah Penasehat Hukum Sayyidah.
Penulis : Sulaisi Abdurrazaq
Editor : Wahyu








