Opini

Internalisasi Kebenaran Secara Kritis Disertai Pengendalian Egosentrisme Sebagai Landasan Kemajuan

×

Internalisasi Kebenaran Secara Kritis Disertai Pengendalian Egosentrisme Sebagai Landasan Kemajuan

Sebarkan artikel ini
Internalisasi Kebenaran Secara Kritis Disertai Pengendalian Egosentrisme Sebagai Landasan Kemajuan
Mat Rosit

Internalisasi Kebenaran Secara Kritis Disertai Pengendalian Egosentrisme Sebagai Landasan Kemajuan

Oleh : Mat Rosit
Mahasiswa IAI Al-Khairat Pamekasan

______________________________________

LIMADETIK.COM – Dibentur dibentur dan di bentuk, itulah kata” seorang tokoh dalam sebuah bukunya MADILOK yang merajut keadilan tapi selalu terhalang oleh kekuasaan. Kali ini bukan tentang tokoh atau pun buku, tapi bagaimana kita merajut ke emasan Indonesia dengan persatuan yang dibangun dari berbagai moderasi yang berbeda.

Yaaa di era sekarang sulit untuk mencari persatuan dalam perbedaan, beda partai beda kekuasaan, salah partai dikafirkan. Kita terlalu sibuk untuk menguar”kan partai/organisasi yang kita ikuti, padahal kita adalah agen of Cheng dinegara kita yang katanya 1 bangsa 1 tanah air.

Terkadang kita terlalu membela Sampek kita lupa kalok itu memang salah, kualitas pemahaman terhadap informasi itu sendiri, mereka cenderung mengalami mispersepsi, salah tafsir atau penolakan terhadap kebenaran bukan karena tidak tahu apa yang benar, tetapi karena ego dan keyakinan pribadi membentuk lensa persepsi seakan-akan mereka lebih kuat daripada fakta yang ada.

Hal ini terjadi ketika seseorng mencoba keras untuk menolak kebenaran karna bagi Mereka hal itu bertentangan dengan apa yang mereka yakini atau yang di inginkan menjadi benar, sehingga mereka tertutup dalam pemikiran” jernih yang seharus nya di gunakan.

Literatur pisikologi dalam sejumlah studinya mengatakan bahwa seseorang yang memiliki keyakinan kuat dan bagi mereka benar, justru lebih rentan terhadap bias konfirmasi kecenderungan hanya mencari atau memperhatikan informasi yang mendukung pandangan mereka sendiri, sehingga menolak kebenaran yang sesungguhnya.

Logical fallasi seperti ini membuat mereka sulit untuk membedakan mana kebenaran dan kebohongan, atau kebohongan yang mereka usahakan untuk dibenarkan dengan berbagai implementasi nya sehingga membuat mereka tidak sadar bahwa perbuatan tersebut mengantarkan mereka sama tarafnya seperti hewan sebagai mana yang di jelaskan dalam pemahaman ideologi.

Ditambah lagi dengan Ego sentri kongniti memperkuat mispersepsi ini. Egosentrisme psikologis, yang secara harfiah berarti ketidak mampuan melihat sudut pandang orang lain selain diri sendiri, sering kali menyebabkan orang mempertahankan pandangan sempit yang mencerminkan apa yang mereka rasakan benar, bukan yang benar secara objektif.

Ketika seseorang semakin percaya bahwa persepsinya adalah “kebenaran mutlak”, ego itu mengakar dan bertransformasi menjadi kecerobohan—bukan hanya sekadar kesalahan berpikir, melainkan ketegasan tanpa dasar, yang memupuk penolakan terhadap pendapat lain dan meremehkan kompleksitas realitas.

Penelitian tentang bias persepsi mengungkap bahwa orang sering kali melihat bias itu pada orang lain, tetapi gagal menyadari bahwa mereka sendiri juga bias. Ini merupakan bentuk blind spot kognitif yang serius dalam penilaian diri dan orang lain.

Jadi egosentris yang menolak kebenaran bukan sekadar kerusakan produktif, tapi juga menyebabkan bias kognitif yang ditopang oleh kecerobohan dalam tindakan.

Jika ego tidak dikelola dengan kesadaran kritis, ia mengakar menjadi kecerobohan yang merusak kualitas berpikir dan kemampuan kita untuk beradaptasi dengan realitas yang kompleks.

Kita budaya kan berpikir sehat dan jernih, untuk mencari kebenaran bersama, dengan berbagai moderasi yang berbeda, kita mewujudkan persatuan dan kejayaan bersama. Seperti penafsiran sebuah kalimat yang dikatakan “Tan Malaka” didepan.