Daerah

Penumpang Tujuan Sapeken Terlantar di Pelabuhan Batu Guluk, Sabuk Nusantara 74 Dipertanyakan

×

Penumpang Tujuan Sapeken Terlantar di Pelabuhan Batu Guluk, Sabuk Nusantara 74 Dipertanyakan

Sebarkan artikel ini
Penumpang Tujuan Sapeken Terlantar di Pelabuhan Batu Guluk, Sabuk Nusantara 74 Dipertanyakan
KM Sabuk Nusantara

Penumpang Tujuan Sapeken Terlantar di Pelabuhan Batu Guluk, Sabuk Nusantara 74 Dipertanyakan

LIMADETIK.COM, SUMENEP — Puluhan penumpang tujuan Kecamatan Sapeken mengeluhkan keterlantaran mereka di Pelabuhan Batu Guluk Kecamatan Arjasa akibat ketidakjelasan jadwal keberangkatan kapal Sabuk Nusantara 74, Jumat (30/1/2026)

Kapal yang seharusnya melayani angkutan penumpang rute Kalianget-Kangean-Sapeken itu telah sandar di Pelabuhan Batu Guluk sejak pukul 09.00 WIB pagi, namun hingga pukul 15.00 WIB belum juga melanjutkan perjalanan ke Sapeken.

Ironisnya, menurut pengakuan penumpang, pihak ABK menyampaikan kapal baru akan berangkat ke Sapeken setelah proses bongkar muatan barang selesai. Hal ini memunculkan pertanyaan serius mengenai fungsi Sabuk Nusantara 74, apakah sebagai kapal penumpang atau kapal barang.

“Kami ini penumpang, bukan barang. Tapi harus menunggu bongkar muatan dulu baru diberangkatkan,” keluh salah seorang penumpang asal Sapeken.

Kondisi tersebut membuat para penumpang, termasuk perempuan dan anak-anak, terpaksa menunggu berjam-jam tanpa kepastian. Banyak dari mereka mengaku bekal perjalanan terbatas, sementara biaya hidup di Batu Guluk tergolong mahal.

“Makan di Batu Guluk Rp20 ribu per orang. Kalau satu keluarga bisa habis banyak. Pagi, siang, malam, itu berat bagi kami,” ujar penumpang lainnya.

Selain keterlambatan, penumpang juga mempertanyakan status dan prioritas pelayanan Sabuk Nusantara 74. Kapal tersebut diduga lebih mengutamakan bongkar muatan barang dibanding hak penumpang yang telah membeli tiket.

Situasi ini menimbulkan desakan agar otoritas pelabuhan dan pihak operator kapal segera memberikan klarifikasi, sekaligus memastikan kapal perintis benar-benar menjalankan fungsi utamanya sebagai pelayanan publik, bukan sekadar angkutan logistik.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola kapal maupun syahbandar pelabuhan batu guluk.

Sementara itu, anggota DPRD Sumenep dapil Kepulauan, Syamsul Bahri menyesalkan keterlambatan keberangkatan KM Sabuk Nusantara 74 dari Pelabuhan Batu Guluk menuju Sapeken yang kembali merugikan masyarakat kepulauan.

Menurutnya, kapal perintis seharusnya menjadi tulang punggung transportasi warga pulau, bukan justru sumber ketidakpastian.

“Keterlambatan ini bukan sekadar soal jadwal, tapi menyangkut hak dasar masyarakat kepulauan atas akses transportasi yang layak dan pasti. Banyak warga bergantung pada kapal ini untuk urusan ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan,” tegasnya.

Syamsul Bahri meminta PT Pelni dan otoritas pelabuhan lebih profesional dalam manajemen operasional, termasuk kesiapan kapal dan koordinasi teknis di lapangan, agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Ia juga mendorong Pemerintah Kabupaten Sumenep dan Kementerian Perhubungan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap layanan kapal perintis di wilayah kepulauan, khususnya rute Batu Guluk–Sapeken.

“Jangan sampai masyarakat kepulauan terus menjadi korban kelalaian sistem. Transportasi laut adalah urat nadi kehidupan mereka, dan negara wajib hadir memastikan pelayanan berjalan tepat waktu dan manusiawi,” pungkasnya.