Artikel

Pendidikan Karakter di Tengah Degradasi Moral Sosial

×

Pendidikan Karakter di Tengah Degradasi Moral Sosial

Sebarkan artikel ini
Pendidikan Karakter di Tengah Degradasi Moral Sosial
Noris Soleh

Pendidikan Karakter di Tengah Degradasi Moral Sosial

Oleh: Noris Soleh
Mahasiswa Pascasarjana IAI Al-Khairat Pamekasan

______________________________

ARTIJEL – Dalam masyarakat, fenomena kemerosotan moral sosial semakin terlihat. Peristiwa sehari-hari yang sulit diabaikan meliputi kekerasan antar siswa, memburuknya rasa hormat satu sama lain, meningkatnya ujaran kebencian di media sosial, dan pandangan individualistis yang merusak persatuan.

Dalam situasi ini, pendidikan harus menegaskan kembali perannya sebagai wahana pengembangan karakter dan individualitas manusia di samping berfungsi sebagai cara untuk menyampaikan pengetahuan.

Gagasan pendidikan karakter bukanlah hal baru. Namun, pada kenyataannya, orientasi akademis yang hanya berkonsentrasi pada pencapaian kognitif seringkali mengesampingkan prinsip-prinsip moral.

Sementara sekolah dan perguruan tinggi berupaya menghasilkan individu yang cerdas secara intelektual, mereka sering mengabaikan kecerdasan moral dan sosial. Akibatnya, muncul generasi yang mahir secara teknis tetapi rentan secara etis dan moral.

Hambatan utama pendidikan karakter saat ini adalah kecepatan perubahan masyarakat. Ide-ide baru yang dibawa oleh globalisasi dan digitalisasi mungkin tidak selalu sesuai dengan moral dan budaya masyarakat. Media sosial mengajari siswa lebih banyak daripada instruktur atau orang tua.

Pendidikan karakter berada dalam bahaya ketika ada banyak hal di internet yang menormalisasi fanatisme, hedonisme, dan pelecehan verbal.

Kurangnya panutan adalah masalah lain. Jika pendidikan karakter terbatas pada slogan atau materi pelajaran, maka pendidikan tersebut tidak berhasil Pendidikan karakter kehilangan validitas moralnya ketika murid-murid mengamati adanya perbedaan antara cita-cita yang diajarkan dan perilaku orang dewasa, baik di depan umum, di rumah, maupun di sekolah.

Hambatan lain juga ditimbulkan oleh gaya pendidikan yang terlalu formal dan normatif. Alih-alih ditanamkan sebagai kebiasaan yang bertahan lama, kualitas karakter sering diajarkan sebagai hafalan. Akibatnya, meskipun mereka memahami cita-cita tersebut secara teori, murid-murid tidak mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Pendidikan karakter harus dipandang sebagai inti dari proses pendidikan, bukan hanya sebagai mata pelajaran tambahan, untuk mengatasi hambatan-hambatan ini. Cita-cita integritas, akuntabilitas, kerja tim, dan kesadaran sosial harus dimasukkan dalam setiap kegiatan pendidikan. Hasilnya, pendidikan karakter menjadi nyata dan relevan dalam kehidupan siswa.

Memperkuat teladan adalah langkah selanjutnya. Guru, dosen, dan anggota staf pendidikan lainnya harus mewujudkan prinsip-prinsip yang mereka ajarkan. Ceramah moral tidak akan seefektif tindakan teladan. Di sinilah integritas para pengajar sebagai pemimpin yang dapat diandalkan dan teladan sangat penting.

Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat juga diperlukan untuk meningkatkan pendidikan karakter. Kemerosotan moral dipengaruhi oleh konteks sosial yang lebih luas dan tidak hanya terjadi di dalam kelas.

Untuk mencegah realitas sosial eksternal merusak prinsip-prinsip yang diajarkan di sekolah, kerja sama antara pihak-pihak ini sangat penting.

Terakhir, teknologi harus digunakan secara bertanggung jawab sebagai alat untuk membangun karakter, bukan sebagai bahaya. Untuk memungkinkan siswa menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, kritis, dan beradab, literasi digital etis harus diajarkan.

Dalam menghadapi kemerosotan moral di masyarakat, pendidikan karakter sangat penting, bukan pilihan. Karakter generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan nasib masyarakat.

Selain menghasilkan orang-orang yang cerdas, pendidikan yang sukses juga mengembangkan moral, empati, dan tanggung jawab sosial. Di situlah pendidikan menemukan kembali tujuannya sebagai sarana untuk memupuk peradaban dan memanusiakan manusia.