Oleh : Subliyanto

Akhir-akhir ini masih cukup santer perbincangan di media seputar persoalan meminta maaf. Entah karena memang sedang musim orang berbuat salah, atau dianggap bersalah, atau mungkin karena kesadaran diri atas kesalahan yang telah dilakukan, sehingga tuntutan untuk meminta maaf menjadi tontonan yang terus “tergoreng”.

Tidak salah kiranya kalau kita buka-buka lagi koleksi buku kita untuk sekedar mengetahui seputar maaf dan memaafkan, guna mejadi renungan untuk diri kita, sehingga kita mempunyai akhlak yang baik nan mulia.

Islam selalu menganjurkan agar setiap muslim berusaha untuk mewujudkan ukhuwah islamiyah. Maka sebagai landasan berpikir, penulis sajikan perintah tersebut yang tersurat dalam firman-Nya. Allah berfirman : “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu.” (QS. al-Hujurat: 10).

Kemudian Rasulullah SAW. juga bersabda  tentang pentingnya persaudaraan : “Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka adalah bagaikan satu jasad, apabila satu anggota tubuh sakit maka seluruh badan akan susah tidur dan terasa panas.” (HR. Muslim).

Dan termasuk bagian dari akhlak yang baik adalah meminta maaf dan saling memaafkan. Karena dengan hal tersebut nuansa persaudaraan akan kembali terkuatkan. Kita kaji misalnya pesan Allah yang termaktub dalam al-Qur’an surat al-Imran : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Imran :133)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia agar bersegera dalam memohon ampunan atau meminta maaf jika melakukan kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Baik yang bersifat “Rabbani” atau berhubungan langsung dengan Allah, maupun bersifat “Manusiawi” atau yang berhubungan dengan manusia. Karena yang demikian akan segera menghapus dosa kekhilafan yang telah ia lakukan.

Demikian juga dengan memaafkan. Allah memerintahkan agar kita menjadi sosok pemaaf. Hal itu sebagaimana Allah firmankan : “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang yang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raf :199)

Ada contoh menarik seputar kehebatan saling memaafkan yang tercatat dalam sejarah yang diabadikan dalam kitab “Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah lith Thifl”, yang dalam edisi bahasa Indonesia berjudul “Prophetic Parenting ; Cara Nabi Mendidik Anak”. Dimana dalam kitab itu disajikan kisah yang dikutip dari kitab “Tarbiyatul Aulad Fil Islam” karya as-Syaikh Abdullah Nashih ‘Ulwan. Dikisahkan bahwa seorang budak milik Zainal Abidin mengucurkan air dari sebuah kendi yang terbuat dari tembikar untuk berwudhu’. Kemudian kendi itu jatuh menimpa kaki Zainal Abidin sampai pecah, dan kaki Zainal Abidin berdarah. Maka terjadilah dialog antara budak dengan Zainal Abidin dengan dialog al-Qur’an Surat al-Imran ayat 134.

Sang budak berkata : “Ya tuanku, Allah SWT. berfirman : “Dan orang-orang yang menahan amarahnya”.(QS. al-Imran : 134)”

Lalu Zainal Abidin menjawab : “Aku telah menahan amarahku”. Kemudian budak itu berkata lagi : “Dan memaafkan (kesalahan) orang”. (QS. al-Imran : 134)”

Zainal Abidin pun menjawab : “Aku telah memaafkanmu”. Budak pun melanjutkan : “Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. al-Imran : 134)”

Maka Zainal Abidin menjawabnya : “Sekarang Aku merdekakan engkau karena Allah”.

Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa betapa indahnya saling memaafkan. Karena dari saling memaafkan akan melahirkan kasih dan sayang. Semoga catatan singkat ini dapat menjadikan kita lebih memperkuat ukhuwah islamiyah. Sehingga nuansa keindahan dalam persaudaraan akan tampak dan menjadi cermin hakikat keindahan Islam. Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here