Dampak Pandemi Covid-19 di Industri Film

×

Dampak Pandemi Covid-19 di Industri Film

Sebarkan artikel ini
rol film e1611201725997

Oleh : Akbarus S.A


Adanya Covid-19, berimbas pada sejumlah perusahaan terdampak Corona,tidak sedikit perusahaan bahkan sampai harus banting setir. Baik dari segi alokasi dana, kebijakan operasional, hingga produk yang dijual. Pemberlakuan social dan physical distancing juga membuat beberapa tempat usaha tidak berjalan seperti biasanya. Beberapa contohnya adalah restoran, hotel, dan tempat- tempat hiburan.

Pandemi yang berimbas pada hampir semua sektor, tak terkecuali industri kreatif perfilman. Sejak ditutupnya bioskop pada 23 Maret lalu untuk mendukung upaya pemerintah dalam menangani covid-19, perfilman Tanah Air pun terpaksa harus menghentikan kegiatan suting yang membuat ratusan artis dan kru film terpaksa kehilangan pekerjaan.

Demikian pula karyawan bioskop terpaksa menerima surat PHK atau dirumahkan.Perawatan bioskop seperti perawatan proyektor yang membutuhkan biaya tinggi mengakibatkan banyak kerugian. Pada tahun 2019, rata-rata produksi film Indonesia sekitar 140 judul per tahun dan meraup pendapatan kurang lebih sekitar 2 Triliun.akibat pandemi ini kurang lebih ada sekitar 30 film yang ditangguhkan produksinya, beberapa masih memulai shooting pada awal Juli setelah adanya wacana new normal. Bahkan sebagian besar belum berani bergerak karena kecemasan akan penularan jika melakukan shooting yang melibatkan banyak kru dan pemain.

Tentu saja hal ini berimplikasi pada bisnis bioskop yang sangat terdampak akibat situasi yang belum kondusif untuk membuka kembali. Dampak yang dirasakan pada bioskop lebih terkena pada model eksebisi atau pertunjukan yang konvensional dimana disana mengundang kerumunan orang. berdasarkan beberapa tafsiran, kerugian industri film Indonesia akibat pandemi mencapai 200 miliar sebulan karena penutupan bioskop di berbagai wiliyah.

Selain berakibat pada kerugian industri film,pada situasi pandemi justru meningkatkan pelanggan atau subscriber dari perusahaan over the top seperti Netflix dan GoPlay. Netflix mengalami kenaikan sebesar 15,8 juta pelanggan berbayar dari sekitar Januari sampai Maret, sedangkan GoPlay menyebut bahwa waktu yang dihabiskan meningkat
sepuluh kali lipat dibandingkan sebelum pandemi. Distribusi produksi film secara daring ini justru memperoleh momentumnya pada saat pandemi karena berbarengan dengan ditutupnya bioskop dan anjuran stay at home.

Ini menarik karena menunjukkan bahwa di masa pandemi ini orang justru membutuhkan liburan karena mereka harus tinggal di rumah kemudian menghadapi stress situasi yang tidak menentu kapan pandemi akan berakhir. Selain itu banyak artis yang beralih ke plat form digital karena banyak pembatasan di televisi. Pandemi banyak merubah keadaan yang seharus dilakukan secara konvensional menjadi daring atau secara digital.

Penulis Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang. Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis


catatan : seluruh isi artikel tanggungjawab penulis sepenuhnya